Setahun Covid-19 dan Membatasi yang Merusak Kehidupan Kita

Kompas.com - 02/03/2021, 08:56 WIB
Penyanyi Ariel NOAH menjalani vaksinasi Covid-19 di Kota Bandung, Kamis (14/1/2021). Instagram Ridwan KamilPenyanyi Ariel NOAH menjalani vaksinasi Covid-19 di Kota Bandung, Kamis (14/1/2021).

HAI apa kabarmu? Semoga kabarmu baik.

Bertanya kabar yang sebelumnya terasa seperti basa-basi, karena Covid-19 dan situasi pandemi menjadi punya arti. Mendalam dan membawa banyak konsekuensi.

Ini pelajaran pertama-tama yang saya peroleh karena pandemi. Kesadaran akan diri sendiri dan kesadaran akan apa yang tengah terjadi meningkat. Buat saya, ini kabar baik tentu saja.

Seperti pagi ini, ketika saya menulis, gerimis turun seperti tergesa-gesa. Dalam waktu sekitar 20 menit, gerimis sirna.

Bumi sedang dibasuh dan diberi kesempatan untuk menumbuhkan hal-hal baik yang mengikuti karena air hujan. Kesegaran udara yang muncul setelah gerimis yang tergesa-gesa membuat pagi terasa berbeda.

Kesadaran macam ini mudah mucul karena selama setahun kita terlatih "di rumah saja" sejak 15 maret 2020. Pengalaman dekat dengan diri ini membantu kita mengenali gerak batin juga.

Kita menjadi lebih peka dengan hal-hal yang ada di sekitar karena "di rumah saja". Setidaknya itulah pengalaman saya.

Buat kamu yang bertanya kenapa 2 Maret 2020 dijadikan pijakan peringatan setahun Covid-19 di Indonesia mungkin perlu mengingat apa yang terjadi di tanggal itu.

Sita Tyasutami (kanan) yang merupakan pasien 01 Covid-19 Indonesia, sedangkan Maria Darmaningsih (tengah) adalah pasien 02.Instagram @sitatyasutami Sita Tyasutami (kanan) yang merupakan pasien 01 Covid-19 Indonesia, sedangkan Maria Darmaningsih (tengah) adalah pasien 02.
Senin (2/3/2020) sore, di teras Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan temuan Covid-19 di Indonesia.

Saat itu, keduanya mengumumkan ada pasien 01 dan pasien 02.

Pasien 01 dan 02 diketahun bernama Sita Tyasutami (31) dan Maria Darmaningsih (64). Anak dan ibu yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Keduanya dinyatakan positif Covid-19 dan dinyatakan sembuh setelah dua minggu.

Indonesia heboh setelah menanti sekian lama. Kepanikan muncul di mana-mana. Respons atasnya bermacam-macam. Banyak yang berlebihan. Muncul stigma dengan dampak negatif yang terasa sampai sekarang juga.

Di awal-awal, ketakuan dan ketidaktahuan mendorong kita melakukan apa saja sesuai imajinasi kita.

Soal keterangan bagaimana pasien 01 dan 02 terpapar misalnya. Imajinasi Terawan soal bagaimana pasien 01 dan 02 terinfeksi yang berdampak luas kemudian dibantah keduanya.

Terawan menyebut pasien 01 dan 02 terinfeksi teman dekatnya seorang warga negara Jepang yang datang ke Indonesia dan berkunjung ke rumah kedua pasien di Depok.

Warga negara Jepang itu diketahui positif Covid-19 saat meninggalkan Indonesia dan kembali ke Malaysia.   

Menurut pasien 01, dia tidak mengenal warga negara Jepang itu. Imajinasi Terawan digugurkan meskipun akibat buruknya tidak bisa dibendung.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X