Video Viral Dugaan Penyiksaan Anak, KPAI Terima Laporan dan Menelusuri

Kompas.com - 01/03/2021, 11:26 WIB
Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2019). Kompas.com/Fitria Chusna FarisaWakil Ketua KPAI Rita Pranawati di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2019).

KOMPAS.com - Di media sosial Facebook, beredar video yang merekam pengakuan seorang anak berusia 8 tahun yang menangis karena diduga disiksa dan dipukuli oleh orangtuanya.

Video itu diunggah oleh akun Facebook "SS", dengan narasi sebagai berikut: 

"Anak selama 8 tahun enggak pernah diurus, enggak pernah dinafkahin, dari bayi saya yang urus, saya yang sekolahin...uda besar cuma diambil secara paksa cuma mau disiksa...sampai2 dia trauma mendalam setahun sama orangtua kandungnya dia lari lagi kepelukan saya....tadi malam dia lari jatuh bangun enggak ngerasa capek hanya buat ke rumah saya sejauh lebih kurang 20 KM hanya buat ke rumah saya....enggak lama dijemput paksa lagi sama orangtuanya yang enggak ada kasih sayangnya sedikit pun....si anak dimartil dipukul pakai tangkai sapu ditendang.....disuruh nimba air hanya buat mandi mereka...Tolong bantu saya diapain orangtua macam ini. Pihak yang berwajib adakah perlindungan buat si anak ini".

Dalam video berdurasi 1 menit 28 detik ini juga terdengar pertengkaran antara dua orang perempuan.

Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengatakan, KPAI sudah menerika laporan terkait video viral kasus dugaan penyiksaan anak ini. 

"KPAI sudah menerima pengaduan Facebook sejak Jumat, (26/2/2021), kami masih proses untuk melihat di mana lokasinya, kejadiannya seperti apa, proses pendalaman dulu, karena baru dapat laporannya," ujar Rita saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (27/2/2021).

Baca juga: Video Viral Perbedaan Indomie Goreng di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera

Menurut dia, menyelisik kasus dugaan penyiksaan ini harus diketahui mengenai status anak, hubungannya dengan pelaku, baru kemudian menentukan apa yang harus dilakukan.

Rina menegaskan, jenis kekerasan apa pun terhadap siapa saja, termasuk anak, tidak dibenarkan. 

"Dikoordinasikan dulu, karena ada proses investigasi langsung, mengirim DM dan lainnya," lanjut dia.

Dalam proses investgasi dan pendalaman kasus, KPAI bekerja sama dengan penyedia platform, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), dan polisi siber.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X