Studi Jelaskan Vaksinasi Covid-19 Dapat Memperlambat Penularan Virus

Kompas.com - 27/02/2021, 17:00 WIB
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pesepak bola Timnas sepak bola U-23 Miftahul Hamdi (kiri) di Istora Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (26/2/2021). Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan vaksinasi COVID-19 perdana kepada insan olah raga nasional dengan menyasar 820 orang, termasuk atlet, pelatih dan tenaga kesehatan dari 40 cabang olahraga (cabor). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRAPetugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pesepak bola Timnas sepak bola U-23 Miftahul Hamdi (kiri) di Istora Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (26/2/2021). Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan vaksinasi COVID-19 perdana kepada insan olah raga nasional dengan menyasar 820 orang, termasuk atlet, pelatih dan tenaga kesehatan dari 40 cabang olahraga (cabor). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.

KOMPAS.com - Sebuah penelitian di Rumah Sakit Addenbrooke, Cambridge menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 buatan Pfizer tampaknya memperlambat penyebaran virus corona.

Selain itu, peneliti mengungkapkan suntikan vaksin dapat mencegah orang yang terinfeksi menjadi sakit parah.

Melansir BBC, temuan ini mendukung penelitian serupa yang dilakukan Public Health England (PHE) dan studi AstraZeneca-Oxford, yang meneliti kemampuan vaksin dalam menghentikan penyebaran virus.

Meskipun hal ini menjadi kabar baik, para ahli menegaskan bahwa tindakan pencegahan seperti memakai masker, menjaga jarak, menjaga kebersihan tangan tetap diperlukan untuk memerangi virus.

Baca juga: Kemenkes Beri 6 Tips Sebelum Disuntik Vaksin Covid-19

Vaksin memblokir infeksi

Penelitian di RS Addenbrooke dilakukan dengan menguji staf terhadap virus corona secara rutin, termasuk mereka yang tidak menunjukkan gejala apa pun.

Peluncuran vaksin di RS Addenbrooke dilakukan pada awal Desember tahun 2020 lalu, dengan sebulan setelahnya terdapat petugas yang sudah divaksinasi dan belum divaksin.

Hasil pemeriksaan rutin menunjukkan, sebanyak 17 dari 1.000 staf yang tidak divaksinasi dinyatakan positif pada pertengahan Januari 2021, sedangkan hanya empat dari 1.000 petugas yang mendapat dosis pertama vaksin terindektifikasi positif.

Terdapat penurunan serupa di antara orang-orang yang tidak memiliki gejala, tapi masih dites positif. Sehingga, masih ada potensi seseorang menyebarkan virus tanpa disadari.

Baca juga: Studi: Virus Corona Bisa Bertahan 3 Hari di Permukaan Kain Poliester

Sementara itu, dikutip dari Business Insider, studi Sars-Cov-2 Immunity & REinfection EvaluatioN (Siren) yang dijalankan oleh PHE menjelaskan, satu dosis Pfizer mengurangi risiko infeksi hingga 70 persen dan dua dosisnya mampu menekan risiko infeksi hingga 85 persen.

Sementara vaksin Oxford-AstraZeneca diperkirakan mengurangi infeksi sekitar dua pertiga.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X