Bertemu Jusuf Kalla pada Sebuah Sore

Kompas.com - 26/02/2021, 07:00 WIB
Wakil Presiden RI Periode 2014-2019 Jusuf Kalla fi Jakarta, Rabu (4/12/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAWakil Presiden RI Periode 2014-2019 Jusuf Kalla fi Jakarta, Rabu (4/12/2019).

KAMIS, pukul 14.00 wib, hujan deras di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah menjalani swab antigen dan menungu beberapa saat, saya masuk ke ruang tamu salah satu rumah di Jalan Brawijaya, bertemu Wakil Presiden 2004-2009 dan 2014-2019 Muhammad Jusuf Kalla (JK).

Pak JK nampak segar dan sehat. Senang sekali saya jumpa JK sore itu. Karena dua buku saya, Sisi Lain Istana Jilid I (Dari Zaman Bung Karno sampai SBY) dan Sisi Lain Jilid II (Andaikan Obama Ikut Pilpres Indonesia) diluncurkan oleh beliau.

Pembicaraan kami berdua langsung ke masa-masa yang belum lama berlalu. Orang-orang atau tokoh-tokoh yang kami bicarakan antara lain almarhum Jakob Oetama, Buya Safi’i Maarif, Kwik Kian Gie, Muhammad Lutfi, Erick Tohir, Airlangga Hartarto, Anies Baswedan dan seterusnya. Pembicaraan kami dalam nuansa positif.

Kami membicarakan tentang harapan Jakob Otama (JO) dan Safi’i Maarif (Buya) yang menginginkan JK jadi presiden.

“Pak Buya Safii Maarif bilang ke publik, JK the real president, waduh ini membuat saya sedikit repot,” ujar JK sore itu.

Almarhum JO pun punya keinginan yang mirip seperti apa yang dikatakan Buya, tapi tidak begitu gamblang dan terbuka.

Rugi, tidak beri kesempatan JK

Saya jadi ingat tulisan Buya dalam buku Mereka Bicara JK, di bawah subjudul M. Syafi’i Maarif: JK The Real President.

“Sebenarnya bangsa ini rugi tidak memberi kesempatan kepada JK untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Tapi memang bangsa ini belum siap menerima sosok seperti JK untuk memimpin negeri karena memang kondisi sosial politik dan demokrasi kita masih berada pada tahapan demokrasi citra,” ujar Ketua PP Muhammadiyah 1998-2003 itu dalam buku terbitan Oktober 2009, saat JK lengser dari kursi wakil presiden.

“......Selain itu, masyarakat kita memang masih belum sepenuhnya memahami sosok JK. Bagi pemilih JK dalam pemilihan presiden 2009, kekalahannya bukan suatu persoalan, pemilihnya merasa bangga dengan mencontreng dia karena ada harapan yang muncul dari sosok beliau jika ia berhasil memimpin negeri ini,” lanjut Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 12 tahun lalu itu.

Lain halnya dengan apa yang dikatakan salah seorang pendiri harian umum Kompas, Jakob Oetama. Ia bersahabat dengan JK. Mereka sering bertemu dalam saat tidak formal. Beberapa kali saya ikut dalam pertemuan itu.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X