China Blokir Siaran BBC karena Terbitkan Laporan Penganiayaan Uighur

Kompas.com - 12/02/2021, 20:26 WIB
Para demonstran Nigeria meneriakkan yel-yel saat berdemo menentang kebrutalan polisi Nigeria, di luar kantor BBC di London, Sabtu (24/10/2020). AFP/DANIEL LEAL-OLIVASPara demonstran Nigeria meneriakkan yel-yel saat berdemo menentang kebrutalan polisi Nigeria, di luar kantor BBC di London, Sabtu (24/10/2020).

KOMPAS.com - Pemerintah China melarang siaran BBC World News di wilayahnya pada Jumat (12/2/2021) tengah malam, waktu setempat.

Hal tersebut disampaikan Lembaga pengatur penyiaran China, Badan Radio dan Televisi Nasional China yang mengatakan liputan BBC World News telah pedoman penyiaran China secara serius.

Langkah itu diambil setelah BBC menurunkan laporan liputan tentang perlakuan otoritas terhadap warga minoritas Uighur di Xinjiang, China bagian barat.

"Karena saluran tersebut gagal memenuhi persyaratan untuk disiarkan di China sebagai saluran luar negeri, BBC World News tidak diizinkan untuk melanjutkan layanannya di dalam wilayah China," tulis pernyataan tersebut, melansir BBC, Jumat (12/2/2021).

Baca juga: China Blokir BBC karena Tayangkan Penyiksaan Uighur di Xinjiang

Kasus CGTN

Dilansir dari The Guardian, tindakan China ini dinilai merupakan tindakan balasan atas keputusan pengawas komunikasi Inggris Ofcom, yang mencabut izin siaran China Global Television Network (CGTN).

CGTN merupakan saluran berita satelit milik China yang menjadi pusat operasi siaran China di Eropa, tepatnya di London barat.

Ofcom mencabut izin penyiaran CGTN, yang diputuskan pada awal Februari setelah mengetahui bahwa lisensi CGTN dipegang secara tidak sah oleh Star China Media Ltd.

Sebelumnya, CTGN menyiarkan paksa warga negara Inggris Peter Humphrey. Ofcom mendugaan pengakuan tersebut merupakan paksaan, dan menilai liputan tentang gerakan demokrasi Hong Kong merupakan bias.

Saat keputusan Ofcom dikeluarkan, juru bicara kementerian luar negeri China menuduh pengawas bertindak atas dasar alasan politik berdasarkan bias ideologis.

Juru bicara tersebut juga memperingatkan bahwa China berhak untuk menanggapi untuk melindungi hak dan kepentingan media China.

Baca juga: 6 Drama China yang Bisa Jadi Tontonan Menarik pada Hari Libur Imlek

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X