Meretas WhatsApp dan Partai Demokrat

Kompas.com - 02/02/2021, 08:57 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) disambut kader usai membuka Kongres V Partai Demokrat di Jakarta, Minggu (15/3/2020). Kongres tersebut bertemakan Harapan Rakyat, Perjuangan Demokrat. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATKetua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) disambut kader usai membuka Kongres V Partai Demokrat di Jakarta, Minggu (15/3/2020). Kongres tersebut bertemakan Harapan Rakyat, Perjuangan Demokrat.

Hi, apa kabarmu? 

Bulan pertama tahun 2021 kita akhiri tanpa banyak keriuhan. Februari sebagai bulan baru masuk diam-diam dan seperti sungkan. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Nyaris setahun dalam situasi pandemi yang semula terasa seperti tidak normal kini pelan-pelan menjadi normal.

Salah satu ketidaknormalan yang menjadi normal adalah perubahan. Termasuk perubahan hari, minggu dan juga bulan. 

Kategori jam kerja atau jam istirahat, hari kerja atau hari libur misalnya menjadi baur, campur.

Di rumah tapi kerja. Kerja tapi di rumah. Dua hal yang tampak kontradiktif merepresentasikan campur baur ini. 

Lantaran pandemi tidak juga berakhir dan tampaknya masih butuh satu tahun untuk membentuk kekebalan kelompok lewat vansinasi, situasi tidak normal akan menjadi normal baru karena dipraktikkan terus menerus.

Normal baru itu adalah terus menerus hadirnya perubahan yang kita terima begitu saja tanpa berusaha dan perlu kita lawan. Kontradiksi dalam banyak hal menjadi bagian baru tatanan.

Dalam perubahan yang demikian cepat, kerap dan besar sampai sering tidak terasakan, semoga kabarmu baik.

Meskipun tanpa keriuhan, bulan Januari 2021 ditutup dengan kehebohan yang dimunculkan WhatsApp lewat status yang hadir di semua aplikasi penggunanya.

WA Status yang diunggah WhatsApp pada Jumat (29/1/2021).WhatsApp WA Status yang diunggah WhatsApp pada Jumat (29/1/2021).
Buat kamu pengguna WhatsApp dan belum menyadari ini, bisa cek deretan tiga menu yaitu chats, status dan calls.

Kalau status kita klik, tidak hanya status teman-teman dalam kontak yang akan hadir, tetapi status WhatsApp juga. 

WhatsApp tiba-tiba jadi teman kita dan mencuri perhatian lantaran meletakkan pembaruan statusnya di kolom paling atas aplikasi itu.

Semula saya tidak perhatikan status itu. Menengok status WhatsApp teman-teman bukan bagian dari kebiasaan saya mendapatkan kabar teman atau informasi.

Namun, karena status WhatsApp selalu ada di paling atas dan kehebohan soal keamanan sedang dipercakapkan, saya buka juga status itu.

Setelah membaca tiga rangkaian status WhatsApp, saya baru paham, raksasa yang berada dalam satu grup dengan Facebook dan Instagram ini minta pengertian.

Seperti pacar yang datang menjelaskan sebelum kalimat putus atau lanjut diambil. Tolong dengerin saya dulu. Kira-kira begitu saya menganalogikan kelakuan WhatsApp belakangan.

Melihat banyaknya manfaat, keseruan dan kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun, memutus hubungan dan memulai hal baru dengan meninggalkan WhatsApp dengan alasan keamanan data tampaknya tidak menjadi pilihan kebanyakan.

Di rentang waktu yang ada sebelum pacar menyatakan lanjut atau putus, WhatsApp tengah berjuang dan menghadapi situasi yang bertahun-tahun dihadirkannya: kekeruhan dan kegaduhan informasi tanpa kejelasan kebenaran.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X