[POPULER TREN] Kronologi Tagihan Listrik Rp 68 Juta | Twit Viral Kristen Gray Ajak Turis ke Bali Saat Pandemi

Kompas.com - 19/01/2021, 05:29 WIB
Populer Tren 19 Januari 2021 screenshootPopuler Tren 19 Januari 2021

KOMPAS.com - Seorang pelanggan PLN menceritakan pengalamannya soal tagihan listriknya yang melonjak hingga Rp 68 juta.

Pengalaman itu ia unggah di media sosial Twitter dan menjadi viral.

Kronologi mengenai tagihan pelanggan listrik PLN yang mengalami lonjakan tagihan listrik menjadi salah satu berita populer Tren, Senin (18/1/2021) hingga Selasa (19/1/2021).

Berita lainnya, mengenai twit viral warga negara Amerika bernama Kristen Gray yang mengajak turis ke Bali saat masih pandemi.

Selengkapnya, berikut berita Populer Tren:

1. Kronologi soal tagihan listrik PLN Rp 68 juta

Pelanggan PLN menyebut, tagihan listrik bulanannya biasanya hanya sekitar Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per bulan.

Namun tiba-tiba melonjak hingga Rp 5 juta. Lalu setelah dicek oleh petugas PLN disebutkan dia melanggar aturan P2TL dan dikenai tagihan susulan Rp 68 juta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara pihak PLN menyebut, meteran pelanggan tersebut dipasangi kawat jumper.

Selengkapnya, baca kronologi kasusnya versi pelanggan dan PLN pada berita ini:

Baca juga: Kronologi Versi Pelanggan dan PLN soal Tagihan Listrik Rp 68 Juta

 

2. Twit viral WNA ajak turis ke Bali saat pandemi

Ilustrasi Bali - Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali.SHUTTERSTOCK / GODILA Ilustrasi Bali - Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali.

Seorang warga negara asing bernama Kristen Gray mengajak wisatawan atau turis pergi ke Bali, padahal masih dalam masa pandemi.

Dia bahkan membuat e-book berjudul "Our Bali Life is Yours" dengan harga 30 dollar AS dan berisi mengenai cara agar bisa masuk ke Bali.

Terkait hal ini, Menparekraf Sandiaga Uno meminta wisatawan yang datang ke Bali mengikuti aturan dan protokol kesehatan.

Berita selengkapnya dapat disimak di sini:

Baca juga: Twit Viral WNA Ajak Turis ke Bali Saat Pandemi, Ini Respons Sandi Uno

3. Perairan yang berpotensi alami gelombang tinggi

Wilayah perairan di Indonesia berpeluang mengalami gelombang tinggi hingga Selasa (19/1/2021).

Bahkan, ketinggian gelombang dapat mencapai melebihi dari 6 meter.

Kepala Bagian Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana menjelaskan, peningkatan gelombang tinggi salah satunya dipengaruhi oleh tekanan rendah (1007 hPa) di Laut Afuru.

Mengenai daftar daerah berpotensi alami gelombang tinggi dapat disimak di sini:

Baca juga: Waspada, Ini Daftar Perairan yang Berpotensi Alami Gelombang Tinggi hingga 6 Meter

 

4. Misteri cuaca dan kendali pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memeriksa bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak pada hari ketujuh Operasi SAR pesawat tersebut di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/1/2021).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memeriksa bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak pada hari ketujuh Operasi SAR pesawat tersebut di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/1/2021).

Terdapat tiga faktor yang diselidiki dalam kecelakaan pesawat udara, seperti yang terjadi pada Sriwijaya Air SJ 182.

Ketiganya yaitu cuaca, kegagalan mesin, dan perangkat yang terkait dengan sistem kendali atau flight control.

Dua kecelakaan terakhir pada pesawat maskapai penerbangan Indonesia, yang kebetulan sama-sama menghujam ke lautan, hasil penyelidikannya sama: salah satunya adalah masalah kendali pesawat.

Simak soal kemungkinan penyebab terjadinya kecelakan Sriwijaya Air SJ 182 di sini:

Baca juga: Misteri Cuaca dan Kendali Pesawat Sriwijaya SJ 182

5. Utang Indonesia mencapai Rp 6.000 triliun, kapan lunas?

Indonesia tercatat memiliki utang sebesar Rp 6.074,56 triliun hingga Desember 2020.

Angka itu setara dengan 38,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Dibandingkan tahun 2019, nilai utang Indonesia meningkat Rp 1.296 triliun atau 27,1 persen. Kapan bisa lunas?

Simak penjelasan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Bhima Yudhistira di sini:

Baca juga: Utang Mencapai Rp 6.000 Triliun, Kapan Indonesia Bisa Melunasinya?

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.