Kompas.com - 15/01/2021, 13:14 WIB

KOMPAS.com - Hari ini 47 tahun yang lalu, atau tepatnya pada 15 Januari 1974 terjadi peristiwa Malari atau Malapetaka 15 Januari.

Melansir Kompas.com, 15 Januari 2019, saat itu ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta turun ke jalan untuk mengkritik kebijakan ekonomi Pemerintahan Soeharto yang dianggap terlalu berpihak pada investasi asing.

Kejadian itu bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang menemui Presiden Soeharto.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: John Lennon Tewas di Tangan Penggemarnya

Aksi yang awalnya damai, berujung rusuh.

Sejumlah gedung dan kendaraan yang "berbau" Jepang menjadi sasaran amukan massa. Ada yang dirusak, digulingkan, hingga dibakar.

Meski begitu mahasiswa yang melakukan demonstrasi membantah telah melakukan kerusuhan dan mengatakan mereka ditunggangi.

Kerusuhan ini menjadi alasan bagi rezim Orde Baru untuk membungkam gerakan mahasiswa yang dianggap menjadi penggerak Peristiwa Malari 1974.

Baca juga: Sejarah Imlek di Indonesia, dari Zaman Jepang, Orde Baru sampai Gus Dur

Apel Tritura

AKSI UNJUK RASA peristiwa Malari dan kesiapan aparat keamanan di sekitar Monumen Nasional (Monas) dan Istana Merdeka, Jakarta.Chrys Kelana AKSI UNJUK RASA peristiwa Malari dan kesiapan aparat keamanan di sekitar Monumen Nasional (Monas) dan Istana Merdeka, Jakarta.

Demonstrasi berawal dari apel ribuan mahasiswa dan pelajar yang berlangsung dari kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba menuju kampus Universitas Trisakti di bilangan Grogol pada tengah hari, 15 Januari 1974.

Mahasiswa dan pelajar memaklumatkan Apel Tritura 1974.

Dalam maklumat itu para mahasiswa menuntut pemerintah menurunkan harga, membubarkan asisten presiden, dan menggantung para koruptor.

Baca juga: Pengaktifan Tim Pemburu Koruptor, Urgensi Reformasi Kepolisian, dan Kaburnya Djoko Tjandra...

Setelah apel bubar, mereka membakar patung Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka, lalu menuju Istana Kepresidenan tempat Presiden Soeharto bertemu PM Kakuei Tanaka.

Para demonstran ditembaki dengan peluru. Namun mahasiswa membantah telah melakukan kekerasan, karena saat itu mereka melakukan demo di sekitar Jalan MH Thamrin. Sedangkan kerusuhan terjadi di sekitar Pasar Senen.

Kerusuhan Malari 1974 menyebabkan korban tewas sebanyak 11 orang, 685 mobil hangus, 120 toko hancur dan rusak, serta 128 korban mengalami luka berat dan ringan.

Baca juga: Seni Perlawanan Anak Muda di Balik Poster Lucu Pendemo

Persidangan Hariman Siregar

Hariman Siregar Dokter, aktivis, mantan Ketua Dewan Mahsiswa Universitas Indonesia, tokoh Malari (Malapetaka Limabelas Januari)KOMPAS/ALIF ICHWAN Hariman Siregar Dokter, aktivis, mantan Ketua Dewan Mahsiswa Universitas Indonesia, tokoh Malari (Malapetaka Limabelas Januari)

Selain itu proyek Pasar Senen yang ketika itu diperkirakan bernilai sekitar Rp 2,6 miliar terbakar habis.

Dikutip Harian Kompas, 23 Desember 2019, salah satu orang yang harus membayar amat mahal peristiwa itu adalah Hariman Siregar.

Setelah menjalani persidangan selama sekitar empat bulan, mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu divonis enam tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Baca juga: Mengingat Kerusuhan Mei 1998, Bagaimana Kronologinya?

Harian Kompas edisi 23 Desember 1974 menulis, Hariman dinyatakan melakukan tindak pidana subversi.

Hariman akhirnya hanya menjalani penjara sekitar dua tahun enam bulan.

Namun, dalam proses itu, ayah dan anak kembarnya meninggal, sedangkan istrinya menderita sakit.

Setelah Peristiwa Malari, sejumlah langkah diambil Soeharto.

Baca juga: Mengapa Indonesia Tak Memiliki Partai Buruh?

Sumitro dicopot dari posisinya sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban.

Selain itu lembaga asisten pribadi presiden (aspri) dibubarkan dan Ali Moertopo yang ada di dalamnya dipindahkan ke Bakin.

Namun, sampai saat ini masih banyak hal yang belum jelas terkait Peristiwa Malari, misalnya terkait penggerak kerusuhan dan kaitannya dengan konflik elite saat itu.

Ini membuat Peristiwa Malari sampai saat ini tetap menjadi lembaran hitam.

Baca juga: Mengenang Soe Hok Gie, Aktivis yang Meninggal di Puncak Semeru karena Keracunan Gas

(Sumber: Kompas.com/Aswab Nanda Pratama | Editor: Bayu Galih)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.