"Kita Syukurikah Peningkatan Kasus Covid-19 Ini?"

Kompas.com - 12/01/2021, 07:45 WIB
Petugas tenaga kesehatan beraktivitas di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Minggu (15/11/2020). Ketua Satgas Penanganan COVID-19 sekaligus Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mengatakan selama dua minggu terakhir angka kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang berdampak pada keterisian ruang isolasi yang semula 32 persen saat ini naik menjadi 53 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAPetugas tenaga kesehatan beraktivitas di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Minggu (15/11/2020). Ketua Satgas Penanganan COVID-19 sekaligus Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mengatakan selama dua minggu terakhir angka kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang berdampak pada keterisian ruang isolasi yang semula 32 persen saat ini naik menjadi 53 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.

KOMPAS.com - Pakar epidemiologi Universitas Airlangga Windu Purnomo mengkritisi pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut bahwa Indonesia beruntung tidak sampai menerapkan lockdown atau penguncian karena pandemi virus corona.

Presiden Jokowi menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan pada acara penyaluran Bantuan Modal Kerja (BKM) di Istana Bogor, Jumat (8/1/2021).

"Dan kita ini kalau saya lihat masih alhamdulillah beruntung tidak sampai lockdown," kata Presieden.

Menurut dia, tak seperti negara-negara yang memberlakukan lockdown, masyarakat Indonesia masih memiliki kebebasan untuk berkegiatan, meski dengan protokol ketat.

Windu berpandangan, ada kesalahan logika dalam pernyataan itu.

Ia menyebut bersyukur semestinya dilakukan untuk sesuatu yang kita dapatkan karena faktor eksternal, bukan atas apa yang kita putuskan sendiri. 

"Kalau saya yang memutuskan itu tidak ada soal syukur. Saya memutuskan untuk memilih sebagai dokter, itu tidak bersyukur. Bersyukurnya itu ketika hasil dari pilihannya keluar. Saya memutuskan menjadi dokter, dari hasil keputusan itu saya menjadi kaya misalnya, saya bersyukur atas kekayaan itu," ujar Windu, saat dihubungi Kompas.com, Senin (11/1/2021).

Melalui perumpamaan ini, Windu menilai, syukur yang disampaikan Presiden atas keputusannya tidak mengambil kebijakan lockdown adalah sebuah kesalahan logika.

"Itu secara bahasa tidak cocok, logical fallacy," kata dia.

Kecuali, keputusan itu menghasilkan hal-hal yang menguntungkan bagi semua pihak. Misalnya, angka kasus menurun, pandemi terkendali, dan perekonomian membaik.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X