Viral Informasi Vaksin Sinovac untuk Kelinci Percobaan dan Mengandung Bahan Tak Halal, Simak Tanggapan Bio Farma

Kompas.com - 03/01/2021, 11:29 WIB
Vaksin Covid-19 dari Sinovac, China, saat tiba di Indonesia, akhir Desember 2020. Dok SEKRETARIAT PRESIDENVaksin Covid-19 dari Sinovac, China, saat tiba di Indonesia, akhir Desember 2020.

KOMPAS.com – Di media sosial dan pesan berantai Whatsapp beredar informasi yang menyebut vaksin Covid-19 produksi Sinovac untuk kelinci percobaan.

Narasi dalam pesan itu juga menyebutkan Sinovac mengandung bahan tak halal, menggunakan boraks dan formalin.

Ada beberapa poin yang disebutkan dalam pesan yang beredar itu, yakni:

  1. Sinovac disebut hanya untuk kelinci percobaan karena ada tulisan “Only for Clinical Trial” sebagaimana yang tercantum dalam kemasan yang disertakan dalam pesan yang beredar itu.
  2. Sinovac disebut tidak halal karena berasal dari vero cell atau dari jaringan kera hijau Afrika.
  3. Sinovac disebut mengandung bahan dasar berbahaya yakni boraks, formalin, aluminium, dan merkuri.
  4. Sinovac disebut tidak memiliki jaminan tidak tertular penyakit setelah divaksin dan tak ada jaminan atau kompensasi perusahaan jika ada cedera vaksin atau KIPI pada korban vaksin.
  5. Pesan tersebut disebut diklaim bersumber dari FDA.

Penjelasan Biofarma

Mengonfirmasi informasi yang beredar luas itu, Kompas.com menghubungi Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heriyanto, Minggu (3/1/2021).

Bambang menegakan, informasi itu tidak benar.

“Itu hoaks, tidak benar,” ujar Bambang.

Soal tulisan "Only for Clinical Trial"

Bambang menjelaskan, foto kemasan Sinovac yang terdapat tulisan “Only for Clinical Trial” tersebut adalah kemasan yang digunakan untuk vaksin yang dipakai dalam uji klinis fase 3 yang saat ini tengah dilaksanakan.

“Kita kan sedang uji klinis. Jadi kemasan yang dipakai untuk uji klinis itu harus ada label ‘only for clinical trial’. Itu untuk uji kinis,” ujar Bambang.

Tahapan pembuatan vaksin baru memerlukan sejumlah tahap uji, yakni uji preklinis pada hewan, kemudian uji klinis fase 1, 2, dan 3 pada manusia.

Uji klinis fase 1 untuk melihat keamanan. Sementara, uji klinis fase 2 untuk melihat keamanan, range dosis dan efikasi, serta uji klinis fase 3 juga untuk keamanan dan efikasi.

Untuk pelaksanaan program vaksinasi pada masyarakat, Bambang menjelaskan, vaksin yang digunakan memiliki kemasan berbeda dan tidak ada tulisan ‘Only for Clinical Trial’.

Bambang menganalogikan uji klinis seperti pada pembuatan mobil baru. Uji klinis diibaratkannya seperti "uji tabrak" yang akan menilai bagaimana keamanan mobil dan kualitasnya.

Ketika semua sudah oke, maka akan dimulai proses produksi dan dipasarkan. 

Terkait vaksin untuk program vaksinasi, Bambang memastikan, vaksin yang digunakan telah mendapatkan persetujuan izin edar penggunaan darurat dari BPOM.

Soal disebut mengandung bahan tak halal

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X