Kemanjuran Vaksin Sinovac Berbeda di Beberapa Negara, Bagaimana Bisa?

Kompas.com - 27/12/2020, 16:06 WIB
Petugas mengecek kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/12/2020). Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses lebih lanjut ke Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin. ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTOPetugas mengecek kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/12/2020). Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses lebih lanjut ke Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin.

KOMPAS.com - Vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac dari China belum mengumumkan efikasi atau kemanjurannya secara resmi. Akan tetapi beberapa negara tempat uji klinis dilakukan telah mengumumkan hasil awalnya.

Turki pada Kamis (24/12/2020) mengumumkan vaksin corona Sinovac memiliki tingkat kemanjuran 91,25 persen berdasarkan hasil awal uji klinis di Turki.

Sebelumnya, Brasil mengumumkan vaksin itu memiliki tingkat kemanjuran lebih dari 50 persen.

Baca juga: Simak, Ini 7 Gejala Terkait dengan Varian Baru Virus Corona

Lantas, mengapa hasil vaksin virus corona Sinovac bisa berbeda-beda?

Dokter umum yang juga kandidat PhD bidang Medical Science di Kobe University, Adam Prabata menjelaskan pengumuman yang dibuat masing-masing negara itu adalah hasil analisis interim dan itu diperbolehkan.

Vaksin Sinovac melakukan uji klinis di beberapa negara salah satunya Indonesia. Namun Indonesia belum mengumumkan efikasinya.

Meski hasil yang diumumkan berbeda, namun di Turki efikasinya tinggi.

Baca juga: Indonesia sudah Datangkan Vaksin Sinovac, Bagaimana dengan Malaysia?

 

Kendati demikian, Adam mengingatkan untuk tidak senang terlebih dahulu terhadap hal itu. Dirinya pun menyoroti sampel yang dipergunakan.

"Untuk di Turki, efikasinya 91,25 persen, tapi baru menggunakan sebagian subjek analisisnya (hanya 1.322 subjek) padahal yang disuntik sudah 7.371 dan estimasinya akan total 13.000 orang yang disuntik di Turki berdasarkan protokol uji klinisnya," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (27/12/2020).

Sehingga sebenarnya data efikasi (91,25 persen) tersebut, imbuhnya masih dalam skala kecil.

Baca juga: Moderna Klaim Vaksinnya Mampu Melindungi Varian Baru Covid-19 di Inggris

Faktor yang memengaruhi vaksin Covid-19

Pemberangkatan vaksin Covid-19 buatan Sinovac dari Beijing, CinaBiro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Pemberangkatan vaksin Covid-19 buatan Sinovac dari Beijing, Cina

Sebelumnya ada vaksin Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca yang sudah mengumumkan efikasinya.

Moderna mengumumkan efikasinya 94,1 persen, Pfizer 95 persen, dan AstraZeneca 62,1 persen serta 90 persen (perbedaannya terletak pada dosisnya).

Akan tetapi orang yang disuntik dengan vaksin Moderna sudah mencapai 30.000 orang, Pfizer 43.000 orang, dan AstraZeneca 11.636 orang.

Dibandingkan 1.322 orang di Turki jumlah sampel di Turki sangat kecil menurut Adam.

Baca juga: Catat, 9 Daerah Ini Wajibkan Dokumen Rapid Test Antigen, Mana Saja?

Adam melanjutkan hasil di beberapa negara bisa saja berbeda, karena untuk efikasi vaksin banyak faktor yang bisa memengaruhi, misalnya genetik orang di negara tersebut.

Selain pengumuman yang dibuat oleh negara masing-masing yang melakukan uji klinis, ada juga pengumuman oleh produsen vaksin, seperti yang sudah dilakukan oleh Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca.

"Kalau melihat dari pengumuman hasil analisis interim vaksin Covid-19 lain, misalnya Moderna, Pfizer, atau AstraZeneca, biasanya yang memberikan pengumuman adalah produsen vaksinnya dalam bentuk press release dan data bisa jadi akan dikombinasikan dari uji klinis di berbagai negara," katanya lagi.

Baca juga: Saat Varian Baru Corona di Inggris Disebutkan Rentan Menginfeksi Anak-anak...

Oleh karena itu, terkait kemanjuran vaksin, dirinya meminta masyarakat menunggu rilis resmi dari Sinovac.

"Makanya sebenarnya jauh lebih baik untuk menunggu press release resmi Sinovac untuk efektivitas vaksin ini, karena ada potensi perbedaan hasil di tiap negara. Lebih baik ditunggu saja dan jangan banyak berspekulasi hingga infonya lebih jelas," kata Adam.

Sebelumnya The New York Times juga menyoroti kemanjuran vaksin Sinovac.

Baca juga: Berikut Kelompok yang Tidak Boleh Disuntik Vaksin Covid-19

Sinovac diklaim efektif

Petugas menyemprotkan disinfektan ke kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, tangerang, Banten, Minggu (6/12/2020). Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses lebih lanjut ke Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin.ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTO Petugas menyemprotkan disinfektan ke kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, tangerang, Banten, Minggu (6/12/2020). Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses lebih lanjut ke Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin.

Lewat pemberitaannya pada 26 Desember 2020, dikatakan bahwa tingkat kemanjuran 91,25 persen itu didasarkan pada hasil awal dari uji klinis kecil dan tidak ada datanya yang diterbitkan dalam jurnal atau di-posting online.

"Pengumuman itu datang sehari setelah konferensi pers yang ambigu, juga tentang vaksin Sinovac, di Brasil. Pejabat di sana diharapkan memberikan hasil rinci dari percobaan lain, tetapi hanya melaporkan bahwa vaksin tersebut memiliki tingkat kemanjuran lebih dari 50 persen," tulis The New York Times.

Sebanyak 7.371 sukarelawan terlibat dalam uji coba di Turki.

Baca juga: Pemerintah Gratiskan Vaksin Covid-19, Mengapa Diberikan Lewat Suntikan?

Tapi data kemanjuran hanya didasarkan pada 1.322 peserta, 752 di antaranya mendapat vaksin nyata dan 570 di antaranya menerima plasebo.

Menurut seorang ahli penyakit menular Serhat Unal, 26 dari relawan yang menerima plasebo terinfeksi Covid-19, sementara itu hanya tiga relawan yang divaksinasi yang sakit.

Ia dan rekan-rekannya tidak membagikan data mereka dalam bentuk tertulis.

Menteri kesehatan Fahrettin Koca mengatakan pihaknya yakin vaksin itu efektif dan aman bagi orang-orang Turki dengan hasil tersebut.

Tapi Sinovac tidak mengeluarkan pernyataan publik tentang persidangan tersebut, juga tidak mengomentari persidangan di Brasil.

Baca juga: Jalan Panjang Wisma Atlet Kemayoran Sebelum Disulap Jadi RS Darurat Covid-19

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Mengenal Vaksin Sinovac


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X