Kompas.com - 25/12/2020, 20:05 WIB
Warga membawa gas Elpiji 3 Kg saat melintasi banjir di Bojong Asih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/3/2019). Sedikitnya 22 ribu kepala keluarga menjadi korban terdampak banjir di kawasan tersebut dengan 283 jiwa yang mengungsi akibat ketinggian air mencapai 40 cm sampai 280 cm. ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBIWarga membawa gas Elpiji 3 Kg saat melintasi banjir di Bojong Asih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/3/2019). Sedikitnya 22 ribu kepala keluarga menjadi korban terdampak banjir di kawasan tersebut dengan 283 jiwa yang mengungsi akibat ketinggian air mencapai 40 cm sampai 280 cm.

 

KOMPAS.com - Banjir kembali menggenangi sejumlah wilayah di Kota Bandung pada Kamis (24/12/2020) setelah diguyur hujan deras.

Bahkan kondisi di Jalan Sukamulya, Sukagalih, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung berubah seperti sungai yang berjeram.

Setidaknya, 3 mobil dan 6 motor terseret oleh arus air banjir.

Dalam beberapa video di media sosial memperlihatkan, sebuah mobil Honda Brio terbawa arus hingga posisinya berbalik arah.

Baca juga: Kapan Musim Kemarau 2020 Berakhir dan Musim Penghujan di Indonesia Dimulai?

Lantas, mengapa Kota Bandung menjadi langganan banjir kala musim hujan?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Minim resapan, pemukiman bertambah

Ahli Hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) M Pramono Hadi mengatakan, karakteristik fisiografi Bandung yang berupa cekungan menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir di kota itu.

Di sisi lain, kawasan pemukingan di Bandung yang terus berkembang menambah risiko terjadinya banjir.

"Bandung itu secara umum kan berkembang pemukimannya, kalau berbicara mengenai risiko, maka pemukiman yang ada itu menjadi bagian dari risiko itu sendiri," kata Pramono kepada Kompas.com, Jumat (25/12/2020).

Baca juga: Melihat Cara Belanda Mengatasi Banjir...

Sayangnya, kondisi itu tidak disertai adanya resapan yang memadai, khususnya ketika terjadi curah hujan ekstrem.

Selain itu, Bandung juga belum memiliki kapasitas waduk atau situ yang berfungsi sebagai penampungan air.

"Nah tampaknya untuk kawasan Bandung belum mengantisipasi itu, sehingga wajar kalau hujan agak deras langsung banjir. Mungkin ada waduk kecil-kecil tapi tidak cukup," jelas dia.

"Kalau airnya melimpah pasti larinya daerah low land. Karena itu orang menyebutnya banjir kiriman, karena mungkin di lokasi banjir tidak terjadi hujan deras," sambungnya.

Baca juga: Mengenal Sabo Dam, Solusi Penanggulangan Banjir Lahar Gunung Merapi...

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.