Tidak Setiap Vaksin Cocok untuk Semua Orang, Berikut Saran Epidemiolog

Kompas.com - 18/12/2020, 19:10 WIB
Ilustrasi vaksin, vaksin virus corona, vaksin Covid-19 Shutterstock/ChinnapongIlustrasi vaksin, vaksin virus corona, vaksin Covid-19

KOMPAS.com - Epidemiolog Indonesia di Griffith Universiy Australia, Dicky Budiman menyebut pentingnya diversifikasi atau keberagaman jenis vaksin virus corona untuk proses vaksinasi di Indonesia. 

Hal itu mengingat setiap jenis vaksin memiliki kriteria dan rentang penerima yang berbeda-beda. Selain itu juga tidak semua vaksin cocok untuk semua orang. 

Sehingga apabila seseorang, karena kondisinya tidak bisa divaksin dengan jenis A, diharapkan ia masih bisa masuk ke dalam kriteria penerima vaksin jenis B, atau yang lainnya.

"Itulah sebabnya perlu ada diversifikasi vaksin. Selain membantu solusi untuk pemenuhan vaksin, kedua, vaksin itu ada yang memiliki rentang keamanan jauh lebih luas, misalnya Pfizer dan Astrazaneca dan Oxford (lebih luas rentang penerimanya) dibanding Sinovac, misalnya," kata Dicky ketika dihubungi, Jumat (18/12/2020).

Baca juga: KawalCovid-19 Catat Kasus Harian Corona Indonesia Tembus 9.000, Ini Penjelasannya

Rentang usia penerima

Vaksin Pfizer dan Astrazaneca menurut Dicky bisa disuntikkan pada orang dengan rentang usia mulai dari anak-anak, bahkan sampai usia 90 tahun. 

"Ini akan memperkecil kemungkinan jumlah orang yang tidak ter-cover akibat keterbatasan (kriteria penerima) vaksin," lanjutnya.

Karena itu menurut Dicky, perlu perencanaan yang matang dalam menyusun rencana program vaksinasi di Indonesia.

Dimulai dari menentukan jenis vaksin apa yang akan digunakan, siapa saja yang bisa menerimanya, bagaimana cara distribusiannya, ketersediaannya, dan lain sebagainya.

Meskipun nantinya sudah dilakukan diversifikasi, Dicky menyebut tetap akan ada sekelompok orang yang tidak bisa menerima vaksin, karena memang kondisinya tidak memungkinkan untuk menerima vaksin mana pun.

"Bahwa pada akhirnya ada sebagian kecil dari masyarakat yang benar-benar tidak bisa (divaksin), yaitu sangat wajar. Memang tidak mungkin 100 persen cakupan vaksin apalagi di situasi pandemi seperti ini, penyakit baru," jelas dia.

Baca juga: Selandia Baru Akan Gratiskan Vaksin Covid-19 bagi Warga dan Negara Sekitarnya

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X