Ilmuwan Akan Lakukan Uji Coba Gabungan Vaksin Oxford dan Sputnik V

Kompas.com - 16/12/2020, 06:04 WIB
Seorang peneliti bekerja di dalam laboratorium di Institut Penelitian Gamaleya selama proses pengetesan dan produksi vaksin virus corona di Moskwa, Rusia, pada 6 Agustus 2020. Rusia mengklaim menjadi negara pertama yang menciptakan vaksin virus corona, dan diberi nama Sputnik V. THE RUSSIAN DIRECT INVESTMENT FUND/Handout via REUTERSSeorang peneliti bekerja di dalam laboratorium di Institut Penelitian Gamaleya selama proses pengetesan dan produksi vaksin virus corona di Moskwa, Rusia, pada 6 Agustus 2020. Rusia mengklaim menjadi negara pertama yang menciptakan vaksin virus corona, dan diberi nama Sputnik V.
Penulis Mela Arnani
|

KOMPAS.com - Ilmuwan Inggris dan Rusia direncanakan akan menggabungkan suntikan vaksin virus corona Oxford/AstraZeneda dan Sputnik V untuk menguji perlindungan yang dihasilkan.

Uji coba akan dimulai pada akhir tahun, didanai oleh Russian Direct Invesment Fund (RDIF), yang juga mendanai pengembangan vaksin Sputnik V produksi Gamaleya Rusia.

RDIF menuturkan, telah menghubungi AstraZeneca mengenai kemungkinan penggabungan vaksin pada 23 November lalu.

"Keputusan AstraZeneca untuk melakukan uji klinis menggunakan salah satu dari dua vektor Sputnik V guna meningkatkan kemanjuran vaksinnya merupakan langkah penting menyatukan upaya dalam memerangi pandemi," kata Kepala Eksekutif RDIF Krill Dmitriev seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (12/12/2020).

AstraZeneca menegaskan, pihaknya tengah mempertimbangkan penilaian kombinasi berbagai vaksin dan akan segera memulai penjajakan dengan Gamaleya Institute terkait keberhasilan penggabungan vaksin keduanya.

Baca juga: Kasus Terus Menanjak, Ini 11 Gejala Infeksi Covid-19 yang Harus Diwaspadai

Vaksin yang dikembangkan

Vaksin Oxford/AstraZeneca dan suntikan Sputnik V Rusia menggunakan versi modifikasi dari adenovirus, virus flu biasa.

Vektor virus dari gen penyebab penyakit dihilangkan dan dimodifikasi untuk membawa instruksi genetik, membuat protein lonjakan virus corona yang diteruskan ke sel manusia.

Protein lonjakan virus corona yang diproduksi akan memicu respons kekebalan yang melindungi terhadap penyakit Covid-19.

Baca juga: Profil AstraZeneca, Penyedia 100 Juta Vaksin Corona untuk Indonesia

Masalah potensial dari vaksin ini adalah kekebalan anti-vektor, yakni jika sistem kekebalan sebelumnya telah menemukan jenis adenovirus yang digunakan dalam vaksin, kemungkinan akan dihancurkan sebelum vaksin dapat memicu respons kekebalan.

Hal tersebut membuat kelompok peneliti Universitas Oxford memilih menggunakan adenovirus simpanse dibandingkan manusia.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X