Mengenal Terapi Plasma Konvalesen untuk Penderita Covid-19, Bagaimana Cara Kerjanya?

Kompas.com - 05/12/2020, 16:05 WIB
Ilustrasi peneliti mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Plasma konvalesen atau plasma pulih untuk dijadikan terapi antibodi bagi pasien Covid-19. Ilustrasi peneliti mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Plasma konvalesen atau plasma pulih untuk dijadikan terapi antibodi bagi pasien Covid-19.

KOMPAS.com - Terapi plasma darah atau plasma konvalesen baru-baru ini ramai diperbicangkan warganet di media sosial.

Ramainya terapi plasma darah tersebut, salah satunya setelah adanya unggahan dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di media sosialnya.

Pada Jumat (4/12/2020) Ganjar mengunggah video berdurasi 1 menit 31 detik yang menampilkan sosok Dokter Hadi, sahabat Ganjar yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19.

"Dokter Hadi tmn gowes saya. Beliau sampaikan: ‘Mas, monggo dihimbaukan utk yg sdh sembuh covid sedekah darah utk diambil plasma konvalesennya, klo ini berhasil sptnya jauh lbh kuat dan efektif drpd vaksin mas," tulis Ganjar dalam caption video.

Baca juga: 5 Negara yang Gratiskan Vaksin Corona untuk Warganya, Mana Saja?

Baca juga: Kasus Terus Menanjak, Ini 11 Gejala Infeksi Covid-19 yang Harus Diwaspadai

Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (5/12/2020), dalam video tersebut, dokter yang bernama lengkap dr Khairul Hadi ini memberikan informasi ihwal kondisinya yang semakin membaik selepas terapi plasma darah konvalesen di RS Moewardi sejak lima hari lalu.

"Saya sudah mendapatkan terapi plasma kovalesen dua kantong lima hari lalu. Terasanya setelah dapat terapi saya langsung mengalami perbaikan yang luar biasa meski belum sembuh total," kata dokter spesialis kulit dan kelamin di Solo itu.

Hadi, berharap agar ada lebih banyak pendonor plasma darah dari para penyintas Covid-19.

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Menanjak, Apa Penyebab Masyarakat Semakin Abai Protokol Kesehatan?

Lantas, apa itu terapi plasma konvalesen?

Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, plasma konvalesen sudah dikenal sejak lama sebagai sebuah metode terapi.

"Pada berbagai kondisi, terutama pada situasi-situasi pandemi. Situasi di mana ada penyakit baru, kita belum banyak mengenal, maka dilakukan (terapi) dengan cara plasma konvalesen," kata Tonang saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (5/12/2020).

Dia menjelaskan, terapi plasma konvalesen berpijak pada pemahaman bahwa seorang penyintas infeksi, setelah sembuh akan membentuk antibodi dalam tubuhnya.

"Antibodi itu akan disimpan dalam plasma darah orang tersebut. Nah, dari hal itu kita berusaha membantu, kalau ada orang yang sedang kena infeksi sementara orang tersebut belum punya antibodi, maka kita bantu dengan cara memberikan plasma dari orang yang sudah sembuh dari suatu infeksi," kata Tonang.

Baca juga: Kasus Terus Menanjak, Ini 11 Gejala Infeksi Covid-19 yang Harus Diwaspadai

Dalam hal Covid-19, acuannya adalah penyintas penyakit itu diharapkan sudah membentuk antibodi.

Plasma penyintas Covid-19 itu kemudian diberikan kepada orang lain yang sedang menghadapi infeksi virus corona.

"Harapannya, antibodi yang diberikan melalui plasma ini tadi, membantu untuk melawan infeksi yang sedang berjalan," ujar Tonang. 

Secara sederhana, Tonang mengatakan, terapi plasma konvalesen bisa dipahami sebagai transfer antibodi antara penyintas suatu infeksi kepada orang yang sedang menghadapi infeksi.

Baca juga: Benarkah Gunakan Masker Ganggu Kinerja Paru-paru?

Cara kerja terapi plasma konvalesen

Terapi plasma konvalesen diberikan dengan cara mengambil plasma darah yang mengandung antibodi dari donor, kemudian ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan.

Mengenai metode transfusi darah, Tonang menjelaskan bahwa ada pemahaman yang harus diketahui oleh masyarakat tentang metode ini.

"Kalau dulu orang tahunya ada darah yang diberikan seorang donor kepada pasien. Sekarang pemahaman transfusi darah itu adalah transfusi produk darah," kata Tonang.

Baca juga: 4 Penelitian Golongan Darah O Lebih Kebal Covid-19

Produk darah bisa mencakup sel darah, maupun plasma darah.

"Dalam konsep transfusi darah sekarang ini, sudah memilih memberikan yang namanya komponen darah. Artinya, dari satu darah utuh, orang butuh plasmanya, maka yang diberikan plasmanya saja," jelas Tonang.

Demikian pula bila ada yang membutuhkan trombosit, maka yang diberikan hanya trombositnya saja. Atau misal ada yang membutuhkan sel darah merah, maka yang diberikan hanya sel darah merahnya saja.

"Khusus untuk yang Covid-19 ini, dimaksudkannya adalah memberikan antibodi. Kalau dalam kondisi biasa, transfusi plasma itu sebetulnya untuk memberikan faktor pembekuan darah," kata Tonang.

Baca juga: Mengenal 9 Kandidat Vaksin Virus Corona

Tidak sama dengan vaksin

Tonang mengatakan, terapi plasma konvalesen tidak bisa dibandingkan dengan vaksin untuk Covid-19. Karena keduanya memiliki target yang berbeda.

"Kalau plasma konvalesen ini sifatnya adalah memberikan antibodi yang sudah jadi, dari seseorang ke orang lain. Kalau vaksin, bermaksud merangsang tubuh kita supaya membentuk antibodi," kata Tonang.

Dia menambahkan, terapi plasma konvalesen hanya diberikan pada pasien infeksi virus corona yang keadaannya sudah berat, kalau keadaannya sedang atau ringan, terapi ini justru tidak boleh diberikan.

"Ini ada pertimbangan ilmiahnya. Karena justru pada yang berat inilah kita berharap ada sisi keuntungan daripada sisi risiko yang mungkin timbul," kata Tonang.

Baca juga: Ilmuwan Yakin Vaksin Covid-19 Aman, Apa Alasannya?

Sementara untuk vaksin Covid-19, Tonang mengatakan, diberikan kepada orang yang belum pernah menderita penyakit itu.

"Belum pernah sakit, belum pernah kena Covid-19, diberi vaksin supaya dia membentuk antibodi. Sehingga nanti kalau dia kena infeksi virus corona, dia sudah bisa melawan," kata Tonang.

Berdasarkan sebab-sebab yang telah dia paparkan, Tonang berpendapat, terapi plasma konvalesen dan vaksin Covid-19 tidak bisa dibandingkan.

"Jangan dibandingkan, karena memang tidak pada target yang sama," kata Tonang.

Baca juga: Begini Cara Kerja 8 Vaksin Covid-19 di Dunia

Hal lain yang harus diperhatikan

Tonang mengatakan, tidak semua orang yang berhasil sembuh dari Covid-19 memenuhi syarat untuk dapat memberikan plasma darahnya sebagai bagian dari terapi plasma konvalesen.

Dalam standar panduan yang sudah diterbitkan, baik oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Kementerian Kesehatan Indonesia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi donor plasma konvalesen.

Selain syarat kesehatan donor, seperti bebas dari penyakit infeksius, ada syarat tambahan yang harus dipenuhi oleh calon donor.

"Harus terbukti memang, yang bersangkutan ini (calon donor) memiliki antibodi dalam jumlah cukup. Karena, tidak semua orang yang sembuh dari Covid-19 memiliki antibodi dalam jumlah yang cukup," kata Tonang.

Baca juga: Melihat Anies, Emil, Ganjar hingga Khofifah dalam Menangani Corona

"Ada sebagian yang membentuk antibodi tetapi jumlahnya tidak cukup, artinya rendah. Bahkan ada sebagian lagi yang walaupun sudah sembuh dari Covid-19, tetapi tidak terdeteksi adanya antibodi. Ini alamiah, tidak hanya pada Covid-19 saja, penyakit lain juga terjadi," imbuhnya.

Dia menyebut, ada dua syarat yang harus dipenuhi penyintas Covid-19 untuk donor plasma konvalesen, yaitu:

  1. Titer (kadar) antibodinya cukup (minimal 1/320)
  2. Daya netralisasi (kekuatan) antibodinya cukup (minimal 1/80)

Tonang mengatakan, bila standar tersebut tidak terpenuhi, maka risiko yang jelas adalah terapi berujung tidak efektif.

"Risiko kedua, dapat terjadi ikatan antibodi non-spesifik, yang bisa memicu ADE (Antibody Dependent Enhancement) yang berisiko berat bagi pasiennya," kata Tonang.  

Baca juga: Penelitian Baru Tunjukkan Covid-19 Sudah Ada di Amerika sejak Desember 2019

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: 7 Tahapan Pengembangan Vaksin Covid-19


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X