Mengenal Sejarah dan Asal-usul Rolex, Jam Tangan Mewah yang Dibeli Edhy Prabowo

Kompas.com - 26/11/2020, 19:15 WIB
Rolex Sky-Dweller Rolex Sky-Dweller

KOMPAS.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) terkait kasus suap terkait perizinan tambak, usaha, atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.

Edhy bersama istrinya, Iis Rosita Dewi, ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, tak lama setelah mendarat dari Amerika Serikat.

Baca juga: Resmi Tersangka, Berapa Harta Kekayaan Edhy Prabowo?

 

Dari penangkapan itu, diketahui Edhy dan istrinya berbelanja sejumlah barang mewah dengan harga mencapai Rp 750 juta selama melakukan kunjungan kerja ke Hawai, 21-23 November 2020.

Selain tas bermerek, mulai dari Hermes dan Louis Vuitton, Edhy juga diketahui membeli jam tangan Rolex.

Barang bukti tersebut ditunjukkan oleh KPK pada saat jumpa pers, Kamis (26/11/2020) dini hari.

Baca juga: Termasuk Harun Masiku, Mengapa Singapura Jadi Tujuan Favorit Buronan Indonesia?

Lantas, seperti apa sejarah Rolex?

Dilansir dari situs resmi Britannica, sejarah Rolex bermula ketika pemuda bernama Hans Wilsdorf (24) atau penemu Rolex, pindah dari Jerman ke Swiss.

Saat itu, nama Rolex belum ada dibenaknya.

Di Swiss, Wilsdorf mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pengekspor jam tangan di La Chaux-de-Fonds, salah satu pusat industri horologi Swiss.

Baca juga: Edhy Prabowo dan Mengapa Masih Ada Pejabat yang Doyan Korupsi?

Kemudian, ia pindah ke London, Inggris dan mendirikan sebuah perusahaan dengan spesialisasi distrubusi alat penunjuk waktu pada 1905.

Pendirian perusahaan ini tidak ia lakoni seorang diri, namun bersama dengan saudara iparnya, Alfred Davis.

Nama perusahaan pun diputuskan menjadi "Wilsdorf & Davis Ltd".

Baca juga: Kebijakan Ekspor Benih Lobster Edhy Prabowo Disorot, Disebut Bahayakan Kedaulatan Pangan

Merakit dan memasarkan

Arloji Rolex WATCHFINDER & CO. Arloji Rolex

Perusahaan ini berfokus untuk merakit dan memasarkan jam tangan menggunakan karya yang diimpor dari Swiss.

Saat itu, sebagian pria masih memakai jam tangan atau arloji saku besar dan ia mulai membayangkan tentang jam yang dipakai di pergelangan tangan.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X