Pengaruh Lingkungan Nilai Akhlak, Pelajaran dari Putri Malu

Kompas.com - 24/11/2020, 09:09 WIB
Putri Malu atau Mimosa pudica. SHUTTERSTOCK/AJAYTVMPutri Malu atau Mimosa pudica.

SETELAH mengetahui bahwa saya tertarik pada tanaman yang disebut sebagai Putri Malu ( Mimosa pudica), maka mahaguru kemanusiaan saya, Sandyawan Sumardi memberikan sumbangsih dua pot berisi dua tanaman yang disebut sebagai Putri Malu.

Baca juga: Belajar Malu dari Putri Malu

Saling beda

Pak Sandy memberi tahu saya bahwa pot yang satu berisi tanaman Putri Malu yang diambil dari alam bebas sementara yang satu lainnya sudah dirawat dengan baik oleh Pak Sandy.

Semula saya tidak menyadari apa makna dari dua pot Putri Malu yang saling beda satu dengan lainnya mengenai latar belakang lingkungan alamnya.

Namun setelah saya lebih cermat mengamati kedua tanaman Putri Malu itu baru saya tersadar bahwa ada makna kemanusiaan di balik sumbangsih tanaman dari Pak Sandy itu.

Komparatif

Setelah saya lebih cermat amati maka tampil fakta bahwa tanaman Putri Malu yang berasal dari alam bebas maka belum terbiasa bersentuhan lahir-batin dengan manusia berperangai beda dengan tanaman Putri Malu yang telah dipelihara manusia maka sudah terbiasa bersentuhan lahir-batin dengan manusia.

Dedaunan Putri Malu yang berasal dari alam bebas lebih sensitif maka lebih cepat menutup atau menguncupkan diri apabila disentuh manusia atau tertiup angin.

Namun dedaunan Putri Malu yang sudah terbiasa dirawat oleh manusia ternyata relatif kurang sensitif terhadap pengaruh lingkungan maka hanya menguncupkan diri apabila disentuh secara berulang kali.

Kesimpulan

Maka berdasar observasi komparatif atas perilaku dua Putri Malu saling beda latar belakang lingkungan dapat ditarik kesimpulan bahwa tanaman Putri Malu yang telah terbiasa hidup bersama manusia lebih tidak tahu malu ketimbang tanaman Putri Malu yang berasal dari alam bebas.

Berarti di samping memiliki perasaan, tanaman Putri Malu memiliki daya adaptif demi menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Kesimpulan serupa juga dapat diamati pada perilaku anjing yang sudah terbiasa hidup domestikal bersama manusia dibandingkan dengan serigala yang terbiasa hidup bebas di alam bebas tanpa bersentuhan lahir-batin dengan manusia.

Saya pribadi merasakan analogi dengan perbedaan perilaku manusia yang tidak malu melakukan korupsi dengan perilaku manusia yang malu melakukan korupsi.

Masing-masing terpengaruh perbedaan lingkungan nilai serta akhlak satu dengan lainnya.

Tentu saja itu hanya kesimpulan subyektif saya sendiri belaka. Jika tidak setuju dan jika Anda punya waktu untuk melakukannya, silakan Anda membuat kesimpulan Anda sendiri.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X