Kerap Terjadi, Mengapa Orang-orang Tetap Menyelenggarakan Acara Meriah Saat Pandemi?

Kompas.com - 23/11/2020, 09:05 WIB
Polisi bersama Muspika Sumberbaru Kabupaten Jember saat membubarkan pesta pernikahan KOMPAS.com/Dokumentasi Polsek SumberbaruPolisi bersama Muspika Sumberbaru Kabupaten Jember saat membubarkan pesta pernikahan

"Di satu sisi, kewajiban sosial kultural tetap dipatuhi dan dihormati, dipegang teguh. Di sisi lain, kontrol dari dari pemerintah ini terhadap protokol kesehatannya sudah mulai dilonggarkan," ungkapnya. 

Baca juga: Cara, Aturan hingga Alasan Mengapa Masker Kain Harus Dicuci Setiap Hari

Drajat menilai bahwa kondisi ini menyebabkan terjadinya oportunistic behaviour, yaitu perilaku-perilaku oportunistik untuk kemudian menggelar berbagai acara yang sifatnya lebih memeriahkan.

"Dari sisi toleransi dari petugas juga dapat berbeda-beda, mungkin lebih  longgar di satu tempat, sementara di tempat yang lain toleransi petugasnya lebih ketat," katanya lagi.

Menurut dia, kondisi ini akan menimbulkan usaha-usaha untuk melakukan upaya-upaya penyelenggaran acara-acara hajatan di berbagai tempat dengan variasi tersendiri. 

Baca juga: Mengapa Orang Indonesia Suka Buang Sampah Sembarangan?

Kegagalan pemerintah

Hal senada juga diungkapkan oleh dosen Sosiologi FISIP Unhas, Rahmad Muhammad.

Menurutnya, orang yang tetap nekat menggelar pesta tersebut dikarenakan mereka masih lebih tunduk pada seremonial kultural.

"Sebagian masyarakat kita masih lebih tunduk pada seremonial kultural yang dijadikan sebagai dasar untuk menunjukkan eksistensinya," ujarnya kepada Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Mengapa Aksi Demonstrasi di Indonesia Identik dengan Bakar-bakar di Tengah Jalan?

Menurutnya, momentum pernikahan dengan menggelar prosesi seperti resepsi justru dijadikan sebagai waktu yang tepat dalam menguatkan hubungan silaturahmi baik dengan keluarga atau masyarakat umum, tanpa harus terhalang oleh pandemi Covid-19.

"Hal inilah yang oleh mereka menganggap itu hal biasa, dengan mengikuti protokol kesehatan hanya mempersulit sesuatu yang bisa dilakukan dengan praktis dan mudah," lanjut dia.

Di sisi lain, terselenggaranya pesta pernikahan ini dapat juga dianggap sebagai kegagalan pemerintah atau Satgas Covid-19 dalam mengedukasi masyarakat yang cenderung sudah tidak takut dengan penyakit Covid-19.

Baca juga: Benarkah Pasien Covid-19 Tanpa Penyakit Bawaan Juga Berisiko Tinggi Alami Kematian?

Rahmat mengungkapkan, hal yang perlu ditekankan atau membuat masyarakat sadar akan pentingnya pencegahan penularan virus dapat dilakukan dengan semua warga harus saling mendukung akan pentingnya arti pencegahan itu sendiri.

Mengenai pesta pernikahan yang digelar, Rahmat mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak memaksakan menghadiri undangan berkumpul dalam pesta karena itu bertentangan dengan protokol kesehatan.

"Andai itu masih, tentu tidak mudah juga orang mengundang untuk hajatan tertentu yang berpotensi kecewa karena tidak ada lagi undangan yang hadir, intinya masyarakat belum sadar saja," imbuh dia.

Baca juga: Mengapa Indonesia Tak Memiliki Partai Buruh?

 

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X