Kontroversi Ormas dan Fenomena Post-Truth di Era Reformasi

Kompas.com - 20/11/2020, 10:08 WIB
Ribuan jamaah menyambut kedatangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab di jalur Puncak, Simpang Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/11/2020). Kedatangan Rizieq ke Pondok Pesantren (Ponpes) Alam Agrokultural Markaz Syariah DPP FPI, Megamendung, Kabupaten Bogor untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah sekaligus peletakan batu pertama pembangunan masjid di Ponpes tersebut. ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAHRibuan jamaah menyambut kedatangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab di jalur Puncak, Simpang Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/11/2020). Kedatangan Rizieq ke Pondok Pesantren (Ponpes) Alam Agrokultural Markaz Syariah DPP FPI, Megamendung, Kabupaten Bogor untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah sekaligus peletakan batu pertama pembangunan masjid di Ponpes tersebut.

KEMBALINYA Riziq Shihab (RS) ke Indonesia 10 November 2020 lalu sukses menjadi sorotan publik. Belum genap dua minggu kedatangannya, ia telah menuai baik simpati maupun kritik dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah.

Bagi pendukungnya, kepulangan pemimpin Front Pembela Islam ( FPI) ini telah lama ditunggu-tunggu. Hal ini dibuktikan dengan penyambutan secara gegap gempita oleh luapan simpatisan FPI di Bandara Internasional Soekarno Hatta yang sempat melumpuhkan aktivitas di bandara selama kurang lebih lima jam.

Baca juga: Ketika Bandara Soekarno-Hatta Lumpuh 5 Jam Imbas Kepulangan Rizieq Shihab

Ironisnya kerumunan massa pendukung imam besar FPI tersebut sama sekali tidak mengindahkan protokol kesehatan di tengah meluasnya pandemi Covid 19 di Indonesia.

Tidak hanya itu, Rizieq juga hadir mengisi ceramah di acara peringatan Maulid Nabi S.A.W di Petamburan dan Megamendung-Bogor. Lagi-lagi kedua acara tersebut menimbulkan kerumunan massa yang abai terhadap standar protokol kesehatan.

Baca juga: Rizieq Shihab Datang, Simpatisannya Padati Puncak Bogor, Puncak Pass Lumpuh Total

Belum lagi konten ceramahnya yang dinilai bernada sindirian provokatif kepada beberapa pejabat negara dan perseteruannya dengan selebriti kontroversial, Nikita Mirzani, terkait ucapannya yang stigmatif dan mendegradasi perempuan.

Serangkaian peristiwa yang terkait dengan RS ini lantas menimbulkan reaksi dari pihak pemerintah pusat.

Menkopolhukam Mahfud MD melayangkan ultimatum kepada kepala daerah dan aparat untuk menindak tegas pihak yang sengaja meciptakan kerumunan massa dan abai terhadap protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Ultimatum keras pemerintah akhirnya berdampak pada pencopotan empat pejabat publik yaitu Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto, serta Kapolres Bogor AKBP Roland Ronaldy.

Baca juga: Perwira Polisi yang Dicopot dan Dilantik Setelah Simpatisan Rizieq Shihab Berkerumun Saat Pandemi

Tidak hanya itu, Gubernur Jakarta Anies Baswedan juga ikut terseret dalam kasus ini dan mendapat panggilan dari Polda Metro Jaya atas dugaan tindak pidana penyelenggaraan kerumunan di tengah pademi.

Baca juga: Polisi Tanya ke Gubernur Anies soal Pertemuan dengan Rizieq Shihab di Petamburan

Keberadaan RS dan agenda politiknya untuk melakukan “revolusi akhlak” telah menyita perhatian khalayak sehingga serangkaian peristiwa ini perlu kita soroti secara kritis sebagai fenomena sosial-budaya yang perlu ditelusuri historisitasnya, serta pengaruhnya di masa yang akan datang.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X