Komunikasi Manusia dengan Tanaman

Kompas.com - 14/11/2020, 10:10 WIB
Pekerja merawat tanaman dengan sistem hidroponik di Lombok Farmhouse, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas KPKP gencar melakukan program pertanian perkotaan (urban farming) dengan konsep pembudidayaan tanaman sistem hidroponik di kawasan penghijauan gang-gang Jakarta dan area RPTRA. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPekerja merawat tanaman dengan sistem hidroponik di Lombok Farmhouse, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas KPKP gencar melakukan program pertanian perkotaan (urban farming) dengan konsep pembudidayaan tanaman sistem hidroponik di kawasan penghijauan gang-gang Jakarta dan area RPTRA.

PADA tahun 70an abad XX di Jerman saya melakukan penelitian pengaruh musik terhadap tanaman. Diyakini oleh para saintis bahwa tanaman bisa tumbuh subur apabila diiringi alunan musik mahakarya Mozart atau Bach.

Disepakati bahwa musik klasik paling efektif untuk membuat tanaman tumbuh subur. Meski sebenarnya mahakarya Bach bukan tergolong klasik namun barok.

Skeptis

Terdorong skeptisisme, saya melakukan pengamatan terhadap dua tanaman sejenis. Pada posisi ruang cukup berjauhan satu dengan lainnya, bagi tanaman yang satu saya perdengarkan rekaman musik Mozart dari zaman Wina klasik sementara tanaman yang satu lagi saya paksa “mendengarkan” musik Schoenberg dari zaman Wina modern.

Kedua tanaman sejenis itu masing-masing saya paksa “mendengar” musik yang beda zaman, beda gaya bahkan juga beda suasana. Ternyata kedua tanaman sama-sama tumbuh subur.

Ketika saya perdengarkan rekaman musik Le Sacre du Printemps mahakarya Stravinski yang memang jauh lebih berisik ketimbang Mozart yang “menyenangkan” mau pun Schoenberg yang “memusingkan” pendengarnya, ternyata kedua tanaman tetap tumbuh subur.

Kesimpulan

Berdasar penelitian organoleptis amatiran tersebut, saya memberanikan diri memetik kesimpulan bahwa pada hakikatnya jika memang berpengaruh maka musik sekadar satu dari sekian banyak unsur yang bisa mempengaruhi kesuburan tanaman.

Di samping musik masih ada unsur lingkungan biologikal, metrologikal bahkan terutama emosional yaitu perhatian serta kepedulian manusia terhadap sang tanaman.

Sekitar lima puluh tahun kemudian di masa pagebluk Corona, hipotesa subyektif saya diperkuat oleh perangai para tanaman yang dirawat di kebun hidroponik Ibu Aylawati Sarwono di Jakarta.

Ketika para tanaman dirawat langsung oleh Ibu Ayla dengan penuh perhatian dan kepedulian maka semua ijo royo-royo tumbuh subur.

Namun ketika perawatan diserahkan kepada asisten yang profesional, langsung para tanaman tumbuh secara kurang subur bahkan kemudian melayu untuk akhirnya mati bersama.

Sebagai sekarang insan awam sama sekali bukan saintis yang sejak kanak-kanak dididik orang tua untuk ojo dumeh maka saya tidak merasa berhak dumeh menyatakan apalagi memaksakan kesimpulan hasil penelitian dan pengamatan saya sendiri dijamin pasti sempurna tepat dan benar.

Silakan dibantah

Manusia tidak sempurna maka mustahil ada pemikiran manusia (apalagi saya) yang sempurna kecuali didogmakan secara paksa untuk harus sempurna.

Maka silakan hasil penelitian diletantis saya dibantah karena sebenarnya dengan mudah saya bisa saya bantah sendiri dengan dalih bahwa tidak ada penginderaan dan pemikiran manusia ditambah dengan fakta tidak ada kasus penelitian yang layak diseragamkan.

Bisa saja saya berlindung di balik dalih cetirus paribus namun malah absurd akibat yang tidak berubah pada semesta ini hanya satu yaitu perubahan itu sendiri.

Setiap unsur berjenis, bersifat, berkebutuhan, berbentuk serta bersukma beda satu dengan lain-lainnya maupun saling beda dimensi waktu dan ruang pada dirinya sendiri.

Kesimpulan yang saya simpul pada hari ini di lokasi ini jelas mustahil sama persis dengan kesimpulan yang disimpulkan esok hari di lokasi lain.

Makin mustahil apabila yang dituntut adalah kesimpulan secara sempurna tepat dan benar sementara kebenaran an sich nisbi akibat memang bukan konsepsual namun kontekstual belaka.

Maka mohon dimaafkan bahwa untuk sementara ini secara subyektif saya merasa yakin bahwa antara manusia dengan sesama manusia serta sesama mahluk hidup termasuk tanaman bisa saling berkomunikasi dengan bahasa lahir dan/atau batin.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selain Raung, Berikut 5 Gunung yang Dinilai Mulai Aktif di Indonesia, Mana Saja?

Selain Raung, Berikut 5 Gunung yang Dinilai Mulai Aktif di Indonesia, Mana Saja?

Tren
Mengintip Spesifikasi Maung Pindad Versi Sipil yang Akan Dijual Mulai Rp 600 Jutaan

Mengintip Spesifikasi Maung Pindad Versi Sipil yang Akan Dijual Mulai Rp 600 Jutaan

Tren
Jam Buka dan Daftar 46 Stasiun di Jawa-Sumatra yang Layani Rapid Test Antigen

Jam Buka dan Daftar 46 Stasiun di Jawa-Sumatra yang Layani Rapid Test Antigen

Tren
PPKM Diperpanjang, Ini 52 Zona Merah di Jawa-Bali

PPKM Diperpanjang, Ini 52 Zona Merah di Jawa-Bali

Tren
Kemenkes: Vaksin Sinovac Berisi Virus Mati, Hampir Tak Mungkin Sebabkan Orang Terinfeksi

Kemenkes: Vaksin Sinovac Berisi Virus Mati, Hampir Tak Mungkin Sebabkan Orang Terinfeksi

Tren
Daftar Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2021, Indonesia Juara 1 di ASEAN, 20 Besar di Dunia

Daftar Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2021, Indonesia Juara 1 di ASEAN, 20 Besar di Dunia

Tren
Mengenal Lempeng Filipina Pemicu Gempa di Talaud, hingga Sejarah Gempanya

Mengenal Lempeng Filipina Pemicu Gempa di Talaud, hingga Sejarah Gempanya

Tren
Studi Temukan Vaksin Pfizer Kemungkinan Besar Efektif Lawan Varian Baru Virus Corona

Studi Temukan Vaksin Pfizer Kemungkinan Besar Efektif Lawan Varian Baru Virus Corona

Tren
Bupati Sleman Positif Covid-19 Meski Sudah Divaksin, Ini Kata Kemenkes

Bupati Sleman Positif Covid-19 Meski Sudah Divaksin, Ini Kata Kemenkes

Tren
[HOAKS] Vaksinasi Jokowi Gagal dan Harus Diulang

[HOAKS] Vaksinasi Jokowi Gagal dan Harus Diulang

Tren
INFOGRAFIK: 10 Negara dengan Paspor Terkuat dan Terlemah di Dunia 2021

INFOGRAFIK: 10 Negara dengan Paspor Terkuat dan Terlemah di Dunia 2021

Tren
Sudah Divaksin Apakah Jadi Kebal? Jangan Keliru Memahami, Simak Penjelasan Dokter

Sudah Divaksin Apakah Jadi Kebal? Jangan Keliru Memahami, Simak Penjelasan Dokter

Tren
Sensus Penduduk 2020: Jumlah Laki-laki Lebih Banyak daripada Perempuan

Sensus Penduduk 2020: Jumlah Laki-laki Lebih Banyak daripada Perempuan

Tren
Wacana Polantas Tak Lagi Menilang, Ini Pesan untuk Kapolri yang Baru

Wacana Polantas Tak Lagi Menilang, Ini Pesan untuk Kapolri yang Baru

Tren
Gempa di Talaud, Sulawesi Utara, Kerusakan Terjadi di Dua Kecamatan

Gempa di Talaud, Sulawesi Utara, Kerusakan Terjadi di Dua Kecamatan

Tren
komentar
Close Ads X