Indonesia Resmi Resesi, Apa yang Harus Dipersiapkan Masyarakat?

Kompas.com - 05/11/2020, 16:36 WIB
VIK Resesi untuk Pemula KOMPAS.comVIK Resesi untuk Pemula

KOMPAS.com - Indonesia resmi masuk jurang resesi. Resesi karena Covid-19 ini merupakan yang pertama bagi Indonesia sejak 1998.

Dikutip Kompas.com, Kamis (5/11/2020), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) RI pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy).

Pada kuartal sebelumnya Indonesia juga mencatatkan angka minus.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Resesi Ekonomi, Dampak, dan Penyebabnya...

Ekonomi Indonesia pada kuartal II mengalami kontraksi yang cukup dalam, yakni mencapai 5,32 persen.

Resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa bulan, atau bahkan hingga bertahun-tahun.

Saat resesi artinya, pertumbuhan ekonomi bisa sampai nol persen, bahkan minus dalam kondisi terburuknya.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui soal Resesi Ekonomi, dari Pengertian hingga Dampaknya

Indikator resesi

Sejumlah indikator yang bisa digunakan suatu negara dalam keadaan resesi antara lain terjadi penurunan pada PDB, merosotnya pendapatan riil, jumlah lapangan kerja, penjualan ritel, dan terpuruknya industri manufaktur.

Resesi bisa berdampak pada banyak hal pada kegiatan ekonomi.

Contohnya ketika investasi anjlok, secara otomatis akan menghilangkan sejumlah lapangan pekerjaan yang membuat angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) naik signifikan.

Baca juga: 6 Maskapai yang Mem-PHK Karyawan akibat Pandemi Corona

Dampak lainnya adalah produksi atas barang dan jasa yang merosot sehingga menurunkan PDB nasional.

Lalu hal itu juga bisa berefek pada macetnya kredit perbankan hingga inflasi yang sulit dikendalikan. Bisa juga sebaliknya yaitu terjadi deflasi.

Selain itu dalam skala riil, banyak orang kehilangan rumah karena tak sanggup membayar cicilan dan daya beli melemah. Banyak bisnis juga bisa gulung tikar.

Baca juga: Kena PHK, Bisakah Mengajukan Pencairan Dana JHT ke BPJamsostek?

Apa yang bisa dilakukan masyarakat?

Menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto, masyarakat jangan hanya bergantung pada bantuan sosial yang diberikan pemerintah.

Masyarakat yang terdampak finansialnya bisa melirik sektor yang pemintaannya cukup tinggi di tengah masa pandemi. Seperti, sektor pangan, kesehatan, dan komunikasi.

"Beberapa sektor tersebut bisa jadi bantalan untuk keluar dari resesi," kata Eko.

Baca juga: Siap-siap Resesi Ekonomi, Ini Dampak dan Cara Mengatasinya...

Dia mengatakan masyarakat bisa bekerja atau membuka usaha yang berkaitan dengan ketiga sektor tersebut. Dengan itu, diharapkan pemulihan ekonomi secara pribadi bisa terjadi dengan cepat.

"Biasanya sektor primer seperti pertanian terutama pangan, kelautan, juga UMKM yang berkaitan dengan sektor tersebut bisa jadi pilihan untuk tetap survive (bertahan)," kata Eko, sebagaimana diberitakan Kompas.com, 20 Juli 2020.

Baca juga: Ramai soal Harga Tiket Kereta Kelas Ekonomi Disebut Ngawur Setelah KAI Ganti Logo Baru, Benarkah?

Dilansir Kompas.com, 22 September 2020, Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda mengatakan beberapa hal yang bisa dipersiapkan masyarakat antara lain:

  1. Mengubah pola konsumsi dari konsumsi tersier ke konsumsi primer
  2. Memperbanyak tabungan guna menghadapi krisis ekonomi (bagi yang masih ada penghasilan)
  3. Membuka usaha baru, misalnya melalui layanan daring (online) bagi orang yang sudah kena PHK.

Baca juga: Ancaman Kelaparan dan Potret Kondisi TKI di Malaysia Saat Pandemi Corona...

Selain itu cara bertahan dari resesi menurut Huda adalah:

1. Melindungi sumber penghasilan

Sebagai karyawan menurut dia sebaiknya tidak agresif pindah pekerjaan dahulu sebelum ada kepastian pekerjaan baru yang lebih stabil.

"Untuk yang punya usaha, pertimbangkan kembali rencana ekspansi," kata Gozali.

Baca juga: Cara Mendapatkan BLT UMKM Rp 2,4 Juta hingga Cara Mengeceknya

2. Miliki dana cadangan

Dia menyampaikan dana cadangan sebaiknya dijaga 3-12 kali pengeluaran bulanan dalam bentuk likuid.

"Artinya, kalau sekarang kurang dari itu, bisa ditambah dengan mengurangi aset risiko tinggi dan menambah likuiditas," kata Gozali.

3. Tahan pembelanjaan besar, terutama kredit

Apabila sebelumnya ada rencana kredit kendaraan atau rumah, maka perlu dipelajari lagi risikonya.

"Apakah cukup aman untuk melanjutkan rencana tersebut. Jangan terlalu memaksakan, misalnya menggunakan dana cadangan untuk bayar DP (down payment)," kata Gozali.

Lanjutnya, pada intinya dana cadangan menjadi semakin penting, jangan terpakai untuk hal lain dulu. Bahkan kalau bisa ditambah.

Baca juga: Apa Investasi Terbaik untuk Dilakukan?

4. Tetap belanja secara rutin

"Karena pembelanjaan konsumtif rumah tangga untuk hal-hal penting di Indonesia justru menjadi salah satu pendorong ekonomi yang dominan," kata Gozali.

(Sumber: Kompas.com/Nur Rohmi Aida, Mutia Fauzia | Editor: Rizal Setyo Nugroho, Erlangga Djumena)

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Mengenal Apa itu Resesi


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X