Kasus Kartun di Perancis dan Pelajaran dari Indonesia

Kompas.com - 01/11/2020, 11:36 WIB
Polisi berada di lokasi serangan di Nice, Perancis, pada Kamis (29/10/2020). Seorang penyerang bersenjatakan pisau menewaskan 3 orang di sebuah gereja di kota Nice di Mediterania. Ini adalah serangan yang ketiga dalam 2 bulan terkahir di Perancis. Penyerang ditembak oleh polisi dan dirawat di rumah sakit setelah pembunuhan di Gereja Notre Dame pada Kamis. Tom Vannier via APPolisi berada di lokasi serangan di Nice, Perancis, pada Kamis (29/10/2020). Seorang penyerang bersenjatakan pisau menewaskan 3 orang di sebuah gereja di kota Nice di Mediterania. Ini adalah serangan yang ketiga dalam 2 bulan terkahir di Perancis. Penyerang ditembak oleh polisi dan dirawat di rumah sakit setelah pembunuhan di Gereja Notre Dame pada Kamis.

KETIKA sedang sibuk berupaya menimba ilmu musik, seni rupa dan manajemen di Jerman yang pada masa itu masih terbelah dua, saya berupaya mencari nafkah sebagai tukang pasang ubin, tukang bubut di pabrik kunci, penjual kupon di cafeteria mahasiswa, termasuk juga kartunis tetap di koran Jerman Muenstersche Zeitung di mana setiap hari saya diwajibkan harus bikin kartun demi memperoleh honor yang saya butuhkan demi menyambung hidup di negeri orang

Kebebasan

Mujur Jerman menganut paham kebebasan mengungkap pendapat maka saya bebas merdeka leluasa mengumbar kreativitas saya tanpa takut disensor.

Namun saya kaget ketika serial kartun tokoh malaikat yang saya tampilkan sebagai sosok malaikat versi Nasrani ditolak oleh redaksi koran di mana saya bekerja.

Ketika saya protes sebab merasa hak asasi saya untuk berekspresi dilanggar oleh redaksi koran Jerman, Sang Pemimpin Redaksi tenang menegaskan bahwa kebebasan mengungkap pendapat sama sekali bukan berarti kebebasan menghina.

Ketika saya lanjut protes dengan alasan saya Nasrani tetapi sama sekali tidak merasa terhina apabila malaikat versi Nasrani dikartunkan, kembali Sang Pimred tenang menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki ambang batas merasa terhina sama dengan saya.

Pendek kata serial kartun malaikat versi Nasrani saya tetap ditolak untuk dipublikasikan oleh koran Jerman yang menganut mazhab kebebasan pers mau pun kebebasan mengungap pendapat.

Sekembali ke Indonesia pada masa Orba, saya mengirimkan serial kartun malaikat versi Nasrani ke redaksi harian Kompas yang ternyata tidak menolaknya karena sang tokoh saya ganti menjadi Gatotkaca.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Andaikata saya menokohkan Pak Harto dijamin pasti ditolak oleh redaksi harian Kompas yang tidak ingin korannya dibredel!

Charlie Hebdo

Maka ketika pada tahun 2006 terjadi tragedi Charlie Hebdo di Paris, sebagai sesama kartunis saya menyampaikan belasungkawa atas gugurnya para kartunis majalah Charlie Hebdo akibat angkara murka kaum teroris diiringi pesan bahwa sebaiknya para teman-teman kartunis di Perancis menghindari kartun yang bisa menyinggung perasaan umat Islam yang de facto jumlahnya sudah cukup banyak bermukim di Perancis abad XXI.

Masih begitu banyak tema lain di planet bumi tersedia untuk dikartunkan.

Baca juga: Perancis: Sekularisme, Kartun Nabi Muhammad, dan Sikap Presiden Macron

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.