Angka Kematian Perawat akibat Covid-19 Disebutkan Sebanyak Korban Perawat pada Perang Dunia Pertama

Kompas.com - 01/11/2020, 07:31 WIB
Anggota dari staf medis bekerja di koridor ruang perawatan intensif bagi pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Liege, Belgia, pada 22 Oktober 2020. Belgia saat ini adalah negara yang terpukul dengan gelombang kedua Covid-19, di mana saat ini korban meninggal mencpaai 10.539 dari total 11,5 juta populasi. AFP PHOTO/KENZO TRIBOUILLARDAnggota dari staf medis bekerja di koridor ruang perawatan intensif bagi pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Liege, Belgia, pada 22 Oktober 2020. Belgia saat ini adalah negara yang terpukul dengan gelombang kedua Covid-19, di mana saat ini korban meninggal mencpaai 10.539 dari total 11,5 juta populasi.

 

KOMPAS.com - Dewan Perawat Internasional (ICN) menyebutkan banyaknya perawat yang meninggal akibat virus corona.

Angka terbaru yang dikumpulkan oleh federasi dari 130 asosiasi perawat nasional menunjukkan bahwa 1.500 perawat telah meninggal dunia sejak pandemi dimulai di seluruh dunia.

Ini sama dengan jumlah perawat yang diyakini terbunuh selama empat tahun Perang Dunia Pertama.

Baca juga: Kisah Perawat di China Terkait Virus Corona: Digunduli hingga Bekerja Saat Hamil Tua

Namun, ICN menyebut angka itu diperkirakan terlalu rendah karena hanya mencakup perawat 44 negara yang menyediakan data.

"Fakta bahwa banyak perawat telah meninggal selama pandemi ini dan meninggal selama Perang Dunia I sangat mengejutkan," kata kepala eksekutif federasi Howard Catton, dilansir dari Independent, Sabtu (31/10/2020).

"Sejak Mei 2020, kami telah menyerukan pengumpulan data standar dan sistematis tentang infeksi serta kematian petugas kesehatan," sambungnya.

Baca juga: Ramai soal Penolakan Jenazah Covid-19, Dokter: Pasien Meninggal, Virus Pun Mati

Analisis terpisah dari tingkat infeksi global oleh ICN menunjukkan setidaknya 20.000 petugas layanan kesehatan telah meninggal akibat Covid-19.

Namun, data itu bersifat ekstrapolasi karena tidak adanya angka konkret.

Menurut Catton, pencetus keperawatan modern (Florence Nightingale) yang lahir 200 tahun lalu akan marah pada minimnya upaya untuk membuat katalog yang tepat dari jumlah korban petugas kesehatan selama pandemi.

"2020 adalah tahun perawat dan bidan internasional serta peringatan 200 tahun kelahiran Florence Nightingale. Saya yakin dia akan sangat sedih dan marah tentang kurangnya data ini," jelas dia.

"Selama Perang Krimea, Florence menunjukkan bagaimana pengumpulan dan analisis data dapat meningkatkan pemahaman kita tentang risiko terhadap kesehatan, meningkatkan praktik klinis, menyelamatkan nyawa, serta itu termasuk perawat dan petugas kesehatan," sambungnya.

Baca juga: 5 Faktor yang Membuat Tenaga Kesehatan Kerap Jadi Korban Pertama Covid-19

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X