Ramai Soal Jurassic Park, Ini Sejarah Komodo dan Taman Nasional Komodo

Kompas.com - 27/10/2020, 13:55 WIB
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF) HANDOUT/BOPLBFKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF)

KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang menata dan mengembangkan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dilansir Kompas.com, Selasa (27/10/2020), salah satu kawasan yang akan mengalami perubahan desain secara signifikan adalah Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat.

Pulau itu akan disulap menjadi destinasi wisata premium dengan pendekatan konsep geopark. Meski begitu penataan kawasan ini menuai pro dan kontra.

Beberapa pihak menilai pemerintah sebaiknya tidak melakukan pembangunan di habitat asli komodo di Taman Nasional Komodo.

Bagaimana sejarah adanya komodo dan Taman Nasional Komodo?

Baca juga: Benarkah Jurassic Park Komodo Ancam Konservasi? Ini Kata Peneliti LIPI

Sejarah komodo

Komodo merupakan binatang purba raksasa dengan nama latinVaranus komodoensis.

Komodo terkadang juga disebut kadal raksasa. Sejarah mencatat, ada komodo yang panjang dari ujung moncong hingga ujung ekor mencapai 3,13 meter.

Berat binatang yang kulitnya tebal bersisik itu rata- rata 50 kilogram (kg) meski ada yang bisa mencapai 100 kg.

Ia tidak hanya hidup dan berkembangbiak di Pulau Komodo, tapi juga di Pulau Rinca, Gili Montang, serta beberapa pulau kecil di kawasan Taman Nasional Komodo serta daratan Pulau Flores.

Dikutip Antaranews, 8 Agustus 2019, binatang langka satu-satunya di dunia itu pertama kali ditemukan oleh seorang penjelajah asal Belanda bernama JKH Van Steyn sekitar tahun 1910 di Pulau Komodo.

Van Steyn mempublikasikan dan menyebarluaskan adanya pulau "buaya" itu ke seluruh dunia melalui hasil fotonya.

Kabar itu kemudian sampai ke Direktur Museum Zoologi Bogor, PA Owens. Pada 1912, Owens lalu menuliskan karya ilmiah tentang hasil dokumentasi komodo yang disebarluaskan oleh penjelajah itu.

Jurnal ilmiah yang berjudul "On a Large Varanus Species from an Island of Komodo" itu kemudian menjadi bagian dari perpustakaan di The New York Botanical Garden.

Jurnal ilmiah itu membuat keberadaan komodo terkenal hingga seantero dunia. Lalu pada 1926 seorang penjelajah bernama W Douglas Burden melakukan ekspedisi untuk menemukan pulau "buaya" itu.

Dia membawa 12 ekor komodo yang diawetkan dan 2 ekor lagi dalam keadaan masih hidup. Tiga dari komodo yang diawetkan, dipamerkan di Museum Sejarah Alam Amerika. Douglas kemudian mempopulerkan komodo dengan sebutan "Komodo Dragon".

Sebuah ekspedisi panjang kembali dilakukan pada 1960. Ekspedisi itu dilakukan oleh keluarga Auffenberg. Selama ekspedisi, mereka tinggal di Pulau Komodo selama 11 bulan. Selama berada di sana mereka menangkap 50 ekor komodo.

Baca juga: Polemik Jurassic Park di TN Komodo, Ini Kata Pengamat Pariwisata

Konservasi

Ekspedisi itu dapat meningkatkan populasi komodo di penangkaran. Auffenberg dibantu oleh seorang ahli biologi Claudio Ciofi. Penelitian itu berhasil menjelaskan sifat dari komodo itu sendiri.

Penelitian itu menyebutkan perkembangan evolusi komodo dimulai sekitar 40 juta tahun lalu. Satwa liar itu konon berasal dari Asia, lalu bermigrasi ke Australia dan terus berevolusi menjadi bentuk raksasa.

Dikutip Harian Kompas, 11 Maret 1980, ahli biologi A P M Van der Zon dan J H Blower melakukan penelitian pada 1977.

 

Setelah itu Tim Survey United Nation Development Program (UNDP) mengusulkan beberapa hal mulai dari pembangunan Taman Nasional Komodo dan Taman Wisata Laut.

Selain itu UNDP juga menganjurkan agar ditetapkannya batas perairan 1.000 meter dari pantai dan harus menjangkau selat antara Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Pengembangan lalu lintas udara, akomodasi, dan berbagai fasilitas lain di pulau komodo harus dibatasi sampai seluas 200-300 ha saja.

Pada 1986 Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menerima Taman Nasional Komodo sebagai salah satu situs warisan dunia.

Perhatian khusus menurut kedua ahli biologi itu harus dicurahkan pada pemeliharaan ruang lingkup hidup (habitat) Varanus komodoensis dan Cervus timorensis (rusa). Untuk itu, hutan-hutan di pulau komodo harus dipelihara.

Baca juga: Pembangunan TNK bisa Bahayakan Ekosistem dan Konservasi Komodo

Jumlah komodo

Pada 2010 disebutkan, diperkirakan ada sekitar 1.200 ekor komodo di Pulau Komodo dan 1.300 lainnya di Pulau Rinca. 

Diberitakan Harian Kompas, 13 November 2011, setelah melewati kontroversi panjang, Taman Nasional Komodo terpilih sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia versi New 7 Wonders Foundation atau N7WF, sebuah yayasan dari Swiss.

Selain TNK, enam Keajaiban Alam Dunia lainnya yang terpilih adalah hutan Amazon (Brasil), Pantai Halong Bay (Vietnam), air terjun Iguazu Falls, Jeju Island (Korea), sungai bawah tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain (Afrika Utara).


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Dibuka Siang Ini, Berikut Cara Daftarnya

Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Dibuka Siang Ini, Berikut Cara Daftarnya

Tren
[KLARIFIKASI] Wiku Adisasmito, Dokter Hewan Bicara Vaksinasi Manusia

[KLARIFIKASI] Wiku Adisasmito, Dokter Hewan Bicara Vaksinasi Manusia

Tren
Login www.prakerja.go.id, Prakerja Gelombang 13 Dibuka Siang Ini Pukul 12.00 WIB

Login www.prakerja.go.id, Prakerja Gelombang 13 Dibuka Siang Ini Pukul 12.00 WIB

Tren
[POPULER TREN] Gejala Terkait dengan Mutasi Virus Corona B.1.1.7 | Mengenal Apa Itu Masuk Angin Duduk

[POPULER TREN] Gejala Terkait dengan Mutasi Virus Corona B.1.1.7 | Mengenal Apa Itu Masuk Angin Duduk

Tren
WHO: Orang yang Konsumsi Alkohol Lebih Berisiko Terinfeksi Covid-19

WHO: Orang yang Konsumsi Alkohol Lebih Berisiko Terinfeksi Covid-19

Tren
Terdeteksi di Indonesia, Ini Perbandingan Varian Virus Corona B.1.1.7 dengan D614G

Terdeteksi di Indonesia, Ini Perbandingan Varian Virus Corona B.1.1.7 dengan D614G

Tren
Tren Fesyen Sarung Masih Panjang, dari Kesan Formal Menuju Kasual

Tren Fesyen Sarung Masih Panjang, dari Kesan Formal Menuju Kasual

Tren
Ramai Peringatan Penautan Rekening ke Prakerja sampai 4 Maret, Ini Penjelasan Pelaksana Program

Ramai Peringatan Penautan Rekening ke Prakerja sampai 4 Maret, Ini Penjelasan Pelaksana Program

Tren
Prihatin Nasib Rakyat Miskin dan Masyrakat Adat

Prihatin Nasib Rakyat Miskin dan Masyrakat Adat

Tren
Hari Sarung Nasional, Sejarah, dan Tips Fesyen untuk Berbagai Acara

Hari Sarung Nasional, Sejarah, dan Tips Fesyen untuk Berbagai Acara

Tren
BUMN RNI Buka Loker untuk Posisi Sekretaris Lulusan D3, Simak Syarat dan Cara Daftarnya

BUMN RNI Buka Loker untuk Posisi Sekretaris Lulusan D3, Simak Syarat dan Cara Daftarnya

Tren
[HOAKS] Menkominfo Sebut OPM Gunakan Media untuk Propaganda

[HOAKS] Menkominfo Sebut OPM Gunakan Media untuk Propaganda

Tren
Pengumuman Prakerja Gelombang 12 dan Jadwal Pendaftaran Gelombang 13

Pengumuman Prakerja Gelombang 12 dan Jadwal Pendaftaran Gelombang 13

Tren
INFOGRAFIK: Pelatihan Program Prakerja yang Paling Banyak Diminati

INFOGRAFIK: Pelatihan Program Prakerja yang Paling Banyak Diminati

Tren
Hujan Es Disertai Angin Lebat di Yogyakarta, Ini Daerah yang Terdampak

Hujan Es Disertai Angin Lebat di Yogyakarta, Ini Daerah yang Terdampak

Tren
komentar
Close Ads X