Hari Ini dalam Sejarah: Gempa dan Tsunami yang "Senyap" di Mentawai

Kompas.com - 25/10/2020, 10:45 WIB
Berdasarkan analisis buku pemutahkhiran sumber dan peta gempa di Indonesia, bila gempa bumi bermagntudo 8,9 terjadi di segmen megathrust Nias Mentawai, kemungkinan besar akan diikuti tsunami. Gelombang tsunami bisa tiba di daratan Kepulaun Nias dalam hitungan kurang dari 7 menit. KOMPAS.com/HENDRIK YANTO HALAWABerdasarkan analisis buku pemutahkhiran sumber dan peta gempa di Indonesia, bila gempa bumi bermagntudo 8,9 terjadi di segmen megathrust Nias Mentawai, kemungkinan besar akan diikuti tsunami. Gelombang tsunami bisa tiba di daratan Kepulaun Nias dalam hitungan kurang dari 7 menit.

Salah satunya adalah Dusun Muntei, yang habis tersapu gelombang dan hanya menyisakan fondasi-fondasi rumah.

Pulau-pulau kecil yang berada di barat Pagai Selatan pun luluh lantak oleh tsunami. Pulau Saumang Kecil, misalnya, terpenggal akibat terjangan tsunami tersebut.

Adapun vegetasi pantai, seperti kelapa berikut pasirnya, hanyut dibawa tsunami.

Baca juga: Viral Megathrust Sulawesi Sebabkan Gempa dan Tsunami Besar, Ini Penjelasannya

Sulitnya evakuasi

Pasca-tsunami dan gempa, proses evakuasi dan penyelamatan pun menemui kendala.

Cuaca buruk menghalangi proses pengiriman tim rescue dan logistik sehingga bantuan pertama baru sampai di Mentawai 2 hari setelah bencana.

Harian Kompas, 5 November 2010 memberitakan, Koordinator Operasi SAR di Kepulauan Mentawai, Akmal mengakui, bahwa wilayah pesisir barat laut di Pagai Selatan masih sangat sulit ditembus.

Kendala terbesar adalah cuaca buruk yang dipicu Siklon Anggrek yang masih terus terjadi.

Baca juga: Mengenal Petrichor, Aroma yang Ditimbulkan Saat Hujan Turun

Dari dua kali perencanaan, tim masih gagal menembus salah satu dusun di Pagai Selatan yaitu Maonai.

Begitu pula dengan wilayah lain yang masih terisolasi dan sulit dijangkau bantuan kemanusiaan serta tim evakuasi, termasuk Dusun Gogoa, Desa Silabu, Pagai Utara. 

Semenara, pilot helikopter M-17 dari TNI Angkatan Darat, Mayor Rony N mengatakan, mayoritas daerah di pesisir barat Pagai Selatan saat itu masih sulit didarati helikopter.

Selain cuaca buruk, ketiadaan landasan helikopter menjadi pemicunya. 

Baca juga: Kapan Musim Kemarau 2020 Berakhir dan Musim Penghujan di Indonesia Dimulai?

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X