Menyoal Tingginya Utang Indonesia dan Beban Generasi Mendatang

Kompas.com - 16/10/2020, 07:27 WIB
Ilustrasi utang ShutterstockIlustrasi utang

KOMPAS.com - Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Bank Dunia, Rabu (14/10/2020), Indonesia masuk dalam 10 besar negara  berpendapatan rendah hingga sedang yang memiliki utang luar negeri terbesar.

Dalam laporan itu, nilai utang luar negeri Indonesia pada 2019 mencapai 402,08 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.930 triliun.

Angka itu terbesar ketujuh dari 120 negara dengan berpendapatan rendah hingga sedang lainnya.

Menanggapi data ini, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, pemerintah dan BI harus lebih cermat dalam melihat risiko utang luar negeri.

Pasalnya, beban utang valas harus dibayar dengan stok valas yang cukup.

"Jika tidak, akan menimbulkan tekanan hebat pada stabilitas nilai tukar rupiah," kata Bhima saat dihubungi Kompas.com, Kamis (15/10/2020).

Baca juga: Indonesia Jadi Negara dengan Utang Luar Negeri Terbesar ke-7 di Dunia

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira  di Jakarta, Kamis (21/11/2019).KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira di Jakarta, Kamis (21/11/2019).
Menurut dia, kinerja utang luar negeri Indonesia juga disebut buruk karena debt to service ratio (DSR) atau rasio utang terhadap pendapatan meningkat menjadi 29,5 persen.

Bhima menjelaskan, kenaikan DSR ini mencerminkan penambahan utang tidak diimbangi dengan kinerja penerimaan di sektor valas.

Misalnya, kinerja ekspor Indonesia sepanjang tahun yang rendah.

Ia memperkirakan bahwa posisi Indonesia akan segera berada di atas peringkat Turki dan Meksiko dalam beberapa tahun ke depan.

"Indonesia jumlah ULN-nya 402 miliar dollar AS pada 2019 dan pada tahun 2020 kenaikan ULN didorong juga oleh penerbitan utang pemerintah dalam bentuk global bond sebesar 4.3 miliar dollar AS," jelas dia.

"Belum lagi tambahan utang valas lain yang disumbang oleh swasta," lanjut Bhima.

Wariskan utang untuk generasi mendatang

Dengan struktur utang luar negeri yang didominasi utang berjangka panjang (88,8 persen), Bhima menilai, Indonesia akan mewariskan utang terbesar bagi generasi ke depan.

Kondisi ini membuat anak-anak di masa depan harus menanggung utang yang diputuskan pemerintah hari ini, begitu mereka lahir.

"Itu pertanggungjawaban berat sekali karena pemerintah tiap lima tahun berganti, tapi beban utang tetap ditanggung generasi berikutnya," kata Bhima.

Utang luar negeri yang dicatat pada 2019 ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2015, utang asing Indonesia sebesar 307,74 miliar dollar AS, 2016 sebesar 318,94 miliar dollar AS, 2017 sebesar 353,56 miliar dollar AS, dan pada 2018 sebanyak 379,58 miliar dollar AS.

Kendati demikian, peningkatan jumlah utang ini diikuti oleh peningkatan Pendapatan Nasional Bruto (PNB).

Baca juga: Bank Dunia Sebut Indonesia Masuk 10 Negara dengan Utang Luar Negeri Terbesar, Ini Kata Pemerintah

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: 9 Negara Terkaya di Dunia 2020


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X