Kompas.com - 13/10/2020, 07:30 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.

KOMPAS.com - KawalCovid19 menemukan selisih angka data pelaporan kasus virus corona dari pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan.

Hingga Senin (12/10/2020), selisih yang ditemukan tim KawalCovid19 adalah 2.184 untuk kasus positif, 5.384 untuk pasien sembuh, dan 1.153 untuk pasien meninggal.

Apabila dihitung dengan selisih itu, maka kasus infeksi di Indonesia versi KawalCovid19 adalah 338.900 kasus dengan 13.088 kematian dan 263.903 pasien dinyatakan sembuh.

Sementara laporan kasus Covid-19 di Indonesia berdasarkan data Kemenkes adalah 336.716 kasus dengan 11.935 kematian dan 258.519 pasien telah sembuh.

Koordinator Relawan KawalCovid19 Elina Ciptadi mengatakan, pihaknya menghitung kasus virus corona itu berdasarkan data harian dari data pusat dan laman di level daerah.

"Tiap hari kami mencatat data harian dari covid19.go.id, ini yang kami namai "data pusat", lalu membandingkannya dengan web corona yang ada di level propinsi, kabupaten dan kota yang kami catat secara manual," kata Elina kepada Kompas.com, Senin (12/10/2020).

Baca juga: Ada Selisih 615 Kasus Covid-19 di Kota Bekasi Dibanding Data Website, Ini Penjelasan Dinkes

Dengan membandingkan data itu, tim KawalCovid19 menemukan perbedaan data di level kabupaten atau kota dengan provinsi dan level pusat.

Menurut dia, perbedaan data tersebut sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu, dengan tingkat selisih yang semakin besar.

"Tapi awalnya ya paling hanya beda satu digit, makin ke sini makin besar," jelas dia.

Soal perbedaan data ini, Kompas.com juga sudah berusaha menghubungi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, tapi belum ada respons.

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.