Epidemiolog: Demo Berpotensi Tingkatkan Kasus Corona, tetapi Bukan Alasan Utama

Kompas.com - 09/10/2020, 13:35 WIB
Ratusan massa yang terdiri dari organisasi masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi menolak Omnibus Law di Gedung DPRD Kalbar, Kamis (8/10/2020). Aksi tersebut berakhir ricuh dan dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian. KOMPAS.COM/HENDRA CIPTARatusan massa yang terdiri dari organisasi masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi menolak Omnibus Law di Gedung DPRD Kalbar, Kamis (8/10/2020). Aksi tersebut berakhir ricuh dan dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian.

KOMPAS.com - Aksi demonstrasi terhadap disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja sejak Senin (5/10/2020) melibatkan ribuan orang yang turun ke jalan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Peserta aksi yang jumlahnya ribuan itu banyak berkerumun, meneriakkan sejumlah tuntutan, dan menyanyikan yel. 

Dalam kondisi tersebut, sulit untuk melaksanakan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak aman satu sama lain minimal 2 meter. 

Baca juga: Epidemiolog Prediksi Kasus Covid-19 Melonjak dalam 2 Minggu ke Depan, Bisa Capai 10.000 Per Hari

Potensi lonjakan kasus

Ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan, kondisi tersebut besar kemungkinannya memicu potensi lonjakan kasus infeksi virus corona di Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.

Meskipun hal itu bukanlah satu-satunya pemicu potensi peningkatan kasus infeksi di masyarakat. 

"Dalam situasi demo seperti itu, dengan kerumunan massa yang banyak, mengabaikan jaga jarak, bernyanyi, berteriak, semua mekanisme penularan terjadi. Baik droplets, aerosol, fomite, orang berdekatan, berteriak, saling menyentuh," kata Dicky, Jumat (9/10/2020).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, menurut Dicky, adanya gas air mata dari aparat kepolisian untuk membubarkan aksi bisa menyebabkan orang menangis dan mengeluarkan lendir dari hidung dan mulutnya.

"Gas air mata dan semprotan merica aparat akan membuat pedemo menangis, menyebabkan hidung dan mulut mengeluarkan lendir. Semuanya memperburuk (potensi) penyebaran virus. Gas air mata dapat terkumpul pada masker sehingga (masker membuat seseorang) tidak tahan untuk memakai," jelas Dicky.

Belum lagi massa yang berangkat dan pulang ke lokasi aksi menggunakan transportasi umum, ini tentu akan membuat potensi penyebaran virus lebih luas lagi.

"Pedemo lain menggunakan bus dan KRL yang padat untuk pulang, di mana virus menyebar ke teman, tetangga, dan anggota keluarga," ucap Dicky.

Baca juga: Epidemiolog: Jika Kasus Suspek Covid-19 Tinggi, Harus Dicermati Penyebabnya

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X