Mengenal Proses Contact Tracing Pasien Corona, Bagaimana di Indonesia?

Kompas.com - 28/09/2020, 15:43 WIB
Negara mana yang melakukan kontak tracing? screenshootNegara mana yang melakukan kontak tracing?

KOMPAS.com - Pelacakan kontak atau tracing adalah proses mengidentifikasi, menilai, dan mengelola orang-orang yang telah terpapar suatu penyakit untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Orang-orang tersebut disebut kontak erat.

Dilansir dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pelacakan kontak erat untuk Covid-19 meliputi upaya identifikasi orang yang mungkin terpapar dengan SARS-CoV-2, dan pemantauan harian atas kontak erat setiap hari selama 14 hari.

Tujuannya adalah untuk menghentikan penularan virus dengan mengurangi jumlah orang pembawa virus yang berkegiatan.

Bagaimana cara kerja pelacakan kontak?

WHO mendefinisikan kontak sebagai setiap orang yang berkontak langsung atau berada dalam jarak 1 meter selama setidaknya 15 menit dengan seseorang yang terinfeksi virus penyebab Covid-19, bahkan jika kasus konfirmasi tidak mengalami gejala.

Kontak harus tetap dalam karantina mandiri selama periode pemantauan 14 hari untuk membatasi kemungkinan orang lain terinfeksi berjaga-jaga jika kontak tersebut sakit.

Menurut WHO ketika diterapkan secara sistematis, pelacakan kontak akan memutus rantai penularan, yang artinya penularan virus dapat dihentikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Mundur dari Satgas Covid-19, Akmal Taher Kecewa Tracing dan Testing Belum Diutamakan

Oleh karena itu pelacakan kontak merupakan mekanisme penting untuk mengendalikan wabah penyakit menular, seperti Covid-19.

Pelacakan kontak yang komprehensif harus dilakukan segera setelah kasus atau kluster teridentifikasi.

Selama terjadinya transmisi yang intens, pelacakan kontak mungkin sulit dilakukan tetapi harus dilaksanakan sejauh mungkin.

Fokus pelacakan dilakukan pada kontak yang rentan, di antaranya:

  1. Kontak rumah tangga,
  2. Petugas kesehatan,
  3. Tempat tertutup yang berisiko tinggi (seperti asrama, panti, rumah perawatan, dan fasilitas berjangka panjang lainnya).

Ketika negara-negara telah melewati puncak penularan, dan jumlah orang yang sakit menurun, sangat penting agar identifikasi orang yang sakit dan pelacakan kontak dipertahankan. 

Selain itu, pelacakan kontak juga harus digencarkan selama penyesuaian tindakan kesehatan masyarakat dan pembatasan sosial yang ketat. Identifikasi dan investigasi ini memutus rantai transmisi baru.

Baca juga: 3C, Rahasia Jepang Kendalikan Covid-19 Tanpa Berlakukan Lockdown

Pelacakan kontak di dunia

Dilansir dari Our World in Data, Minggu (27/9/2020) saat ini hampir semua negara di dunia telah melakukan pelacakan kontak, sebagai salah satu upaya memutus rantai transmisi baru.

Meski demikian, tiap negara memiliki skala pelacakan kontak yang berbeda-beda. Skala tersebut terbagi menjadi tiga jenis:

  • Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  • Pelacakan terbatas (tidak semua kasus)
  • Tidak ada pelacakan

Indonesia masih lemah

Pelacakan kontak di Indonesia sendiri masih belum dilakukan secara komprehensif. Laman tersebut menyebut skala pelacakan kontak di Indonesia masih terbatas, atau belum semua kasus dapat dilacak.

Epidemiolog Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut, tracing di Indonesia masih lemah.

Dicky mengatakan, ketika muncul adanya klaster di sebuah daerah, masyarakat perlu diberikan informasi yang transparan.

"Misalnya lewat pengumuman atau media sosial di daerah itu," kata Dicky dalam webinar Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Wilsa, Minggu (27/9/2020).

Baca juga: Melihat Jepang dalam Melakukan Contact Tracing Covid-19, Ternyata Begini Caranya...

Diumumkan

Pihaknya menjelaskan, misalnya ada kasus di sebuah perkantoran, maka yang ada di kantor tersebut bisa jadi tidak hanya karyawan kantor tersebut saja.

Namun bisa jadi ada orang lain atau pengunjung lain yang pada waktu tertentu datang ke tempat tersebut.

"Ini yang perlu diinformasikan. Siapa yang ke kantor itu pada hari itu, jam itu, lantai berapa, ruang apa harus jelas. Karena siapa tahu ada orang umum yang datang," papar Dicky.

Di situ lah menurutnya peran masyarakat, yang harus sukarela mengontak pada layanan kesehatan setempat. Apakah nantinya harus dites, diisolasi atau cukup karantina.

"Itu terkadi jika pemerintahnya aktif. Kalau tidak, ya yang terjadi penyebaran. Selama menunggu vaksin, kalau testing dan tracing lemah akan terjadi banyak kesaktikan dan kematian," jelas Dicky.

Bagaimana dengan negara lain? Berikut adalah skala pelacakan kontak di 10 negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia:

  1. Amerika Serikat: Pelacakan terbatas (tidak semua kasus)
  2. India: Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  3. Brasil: Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  4. Rusia: Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  5. Kolombia: Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  6. Peru: Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  7. Spanyol: Pelacakan terbatas (tidak semua kasus)
  8. Meksiko: Pelacakan terbatas (tidak semua kasus)
  9. Argentina: Pelacakan komprehensif (semua kasus)
  10. Afrika Selatan: Pelacakan komprehensif (semua kasus)

Baca juga: Kasus Corona di India Tembus 6 Juta


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.