Jakob Oetama, Kepergian Seorang Mentor Bangsa

Kompas.com - 23/09/2020, 20:18 WIB
Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama (kedua dari kiri) didampingi Content General Manager Kompas.com, Taufik Hidayat Mihardja (kanan), Wartawan Senior Harian Kompas, Agus Parengkuan (belakang), saat mengunjungi Kompas.com, Senin (21/6/2010). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOPemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama (kedua dari kiri) didampingi Content General Manager Kompas.com, Taufik Hidayat Mihardja (kanan), Wartawan Senior Harian Kompas, Agus Parengkuan (belakang), saat mengunjungi Kompas.com, Senin (21/6/2010).

Tanggal 9 September 2020, pukul 13.05, Sang Ilahi memanggil seorang hamba, Jakob Oetama, ke pangkuan-Nya. Tak ada yang berdaya untuk menunda panggilan itu.

Semua tabah dan pasrah menyerahkan Jakob Oetama, menghadap Sang Khalik, pemilik dirinya. Dari sana dia datang, dan kepada-Nya juga ia kembali.

Segala jejak yang ditorehkan selama masa hidupnya, satu per satu diungkap, sebagai panduan hidup, kompas perjalanan masa depan bangsa ini.

Jejak-jejak panjang itulah yang membuat kita bersedih mengiringi kepergian Jakob Oetama. Kita seolah telah kehilangan lentera yang menyinari kehidupan kita. Keutamaan Jakob Oetama, adalah posisinya sebagai pemandu bangsa.

Darah dagingnya adalah wartawan, institusinya adalah Kompas, bergabung searah antara tujuan dan proses mencapai tujuan, menjalankan perintah hati nurani rakyat. Dengan alur pikir seperti ini, kita gampang memotret sosok Jakob Oetama.

Ia seorang humanis sejati. Wilayah edarnya dalam penjelajahan kehidupan dunianya, adalah kemanusiaan. Dari pangkalan humanisme inilah Jakob Oetama memulai segala pergerakannya: pebisnis, dengan berbagai cabang bisnis, budayawan, manajer dan sebagainya.

Humanismelah yang menggerakkan dinamo pendiriannya bahwa esensi martabat manusia ditentukan oleh ada tidaknya kebebasan dan persamaan yang dimilikinya.

Maka, sangat tidak mengherankan, segenap usia yang dilewatinya, ia selalu berjuang menegakkan kebebasan. Karena ia seorang wartawan, maka garis edar perjuangannya tentang kebebasan, adalah kebebasan pers. Ia tidak berubah arah dari wilayah edar ini.

Seiring dengan perjuangannya tentang kebebasan, Jakob Oetama di saat yang berbarengan, juga berjuang dengan kapasitas yang sama dengan perjuangannya tentang kebebasan, yakni, perjuangan tentang persamaan.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob OetamaKRISTIANTO PURNOMO Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama
Jakob Oetama, saya yakin, mempercayai bahwa persamaanlah yang mengantar tiap orang, mendekati keadilan. Kedua medan perjuangan hidupnya itu, dengan gampang kita buktikan
dalam Harian Kompas.

Tema-tema kebebasan dan persamaan, dari dulu hingga sekarang, selalu diwacanakan atau diberi tempat, dengan berbagai bentuk: opini, tajuk rencana, berita utama, karikatur, foto, dan sebagainya.

Tema kebebasan dan persamaan yang mendarah daging dalam diri Jakob Oetama, selalu membuat adrenalinnya bergolak, kendati di tengah kerapuhan fisik yang sudah menderanya lantara usia yang senja.

Ia berjalan sendiri atau dipapah, namun, volume suara tidak pernah menurun, tatapan mata tetap menyorot tajam, pikiran jernih tetap mengalir. Semua lantaran kebebasan dan persamaan yang diperjuangkannya dari awal hingga ajal menjemputnya.

Bagi seorang Jakob Oetama, kebebasan yang dimiliki seseorang membuat dirinya berdaulat. Tanpa kebebasan, manusia tidak berdaulat, dan manusia tanpa kedaulatan, akan kehilangan martabat. Dan martabat inilah yang menjadi esensi manusia.

Namun, kebebasan tanpa persamaan, bisa juga jadi anarkis karena hanya dengan persamaan, kebebasan bermanfaat. Kebebasan tanpa dibarengi dengan prinsip persamaan, akan jadi anarkis karena semua berpacu ingin memiliki kebebasan dan mengabaikan kebebasan orang lain. Hanyalah dengan persamaan, klaim mutlak kepemilikan kebebasan, bisa direm.

Alur pikir itulah yang membuat Jakob Oetama berjuang tentang kebebasan, secara bersamaan dengan perjuangannya mengenai persamaan. Itulah sebabnya, Jakob Oetama sangat sensitif, misalnya mengenai ketimpangan ekonomi yang terjadi, sebab ia mungkin sudah
menikmati perjuangan dalam hal kebebasan pers, tetapi persamaan dalam
hal ekonomi, masih jauh.

Dengan misi suci untuk mewujudkan persamaan di negeri ini, Jakob Oetama tampil sebagai seorang antisektarian. Jakob Oetama selalu menampik isu mayoritas versus minoritas dalam konteks hitung-hitungan statistik.

Mayoritas versus minoritas adalah sebuah fakta, tetapi seharusnya disikapi dalam konteks kemajemukan. Dari sinilah sehingga kita bisa melihat jati diri Jakob Oetama sebagai penjaga dan garda terdepan mengenai persatuan dan kesatuan bangsa kita. Ia jadi mentor bangsa dalam hal ini.

Misi dan perjuangan tentang persamaan yang menyita sebagian terbesar usianya itulah yang diimplementasikan Jakob Oetama di Kompas.

Penampakan dan penyajian Kompas secara konsisten selalu tampil dengan substansi yang menutup kemungkinan adanya persepsi dan penafsiran ekstrim terhadap apa yang disajikannya.

Ia selalu menjaga keseimbangan, bukan lantaran hendak menyelamatkan diri tetapi karena ia ingin dimensi persamaan itu terawat rapi.

Pelayat membaca Harian Kompas yang menampilkan sosok  Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama  disela-sela  antre untuk memberikan penghormatan terakhir  di  Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (9/9/2020). Jakob Oetama tutup usia pada Kamis (10/9) pada usia ke 88  tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Selanjutnya, jenazah dikebumikan di  Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada  Kamis (10/9).KOMPAS/HERU SRI KUMORO Pelayat membaca Harian Kompas yang menampilkan sosok Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama disela-sela antre untuk memberikan penghormatan terakhir di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (9/9/2020). Jakob Oetama tutup usia pada Kamis (10/9) pada usia ke 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Selanjutnya, jenazah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Kamis (10/9).
Dari alur ini pulalah mengapa Jakob Oetama menjalankan fungsi kontrol pers, tidak dengan cara gegap gempita lalu ditepuk tangani. Bagi Jakob Oetama, kontrol bisa dilakukan tanpa harus menimbulkan arus balik berupa gelombang besar yang menggulung.

Karena itu, mengontrol tidak identik dengan mengayun kapak kemarahan. Mengontrol tidak sama dengan membuat ruang permusuhan. Sebagaimana yang dipraktekkannya,
baik sebagai pribadi maupun Kompas, Jakob Oetama menolak menindih, tapi sekaligus menampik untuk ditindih.

Begitu berita menyebar tentang kepergiannya, banyak orang tertunduk, penuh kesedihan. Banyak di antara yang tertunduk itu, tidak mengenal Jakob Oetama secara pribadi, tetapi merasakan hasil perjuangannya.

Jakob Oetama terbaring abadi di keabadiannya, tetapi tidak dalam kesunyian dan kesendiriannya. Jejak-jejaknya dalam dunia kebebasan dan persamaan, selalu setia mengiringinya ke mana pun, dan sampai kapan pun.

Selamat jalan mentor bangsa.

Kami bangga memilikimu.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X