Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hamid Awaludin

Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia.

Jakob Oetama, Kepergian Seorang Mentor Bangsa

Kompas.com - 23/09/2020, 20:18 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Tanggal 9 September 2020, pukul 13.05, Sang Ilahi memanggil seorang hamba, Jakob Oetama, ke pangkuan-Nya. Tak ada yang berdaya untuk menunda panggilan itu.

Semua tabah dan pasrah menyerahkan Jakob Oetama, menghadap Sang Khalik, pemilik dirinya. Dari sana dia datang, dan kepada-Nya juga ia kembali.

Segala jejak yang ditorehkan selama masa hidupnya, satu per satu diungkap, sebagai panduan hidup, kompas perjalanan masa depan bangsa ini.

Jejak-jejak panjang itulah yang membuat kita bersedih mengiringi kepergian Jakob Oetama. Kita seolah telah kehilangan lentera yang menyinari kehidupan kita. Keutamaan Jakob Oetama, adalah posisinya sebagai pemandu bangsa.

Darah dagingnya adalah wartawan, institusinya adalah Kompas, bergabung searah antara tujuan dan proses mencapai tujuan, menjalankan perintah hati nurani rakyat. Dengan alur pikir seperti ini, kita gampang memotret sosok Jakob Oetama.

Ia seorang humanis sejati. Wilayah edarnya dalam penjelajahan kehidupan dunianya, adalah kemanusiaan. Dari pangkalan humanisme inilah Jakob Oetama memulai segala pergerakannya: pebisnis, dengan berbagai cabang bisnis, budayawan, manajer dan sebagainya.

Humanismelah yang menggerakkan dinamo pendiriannya bahwa esensi martabat manusia ditentukan oleh ada tidaknya kebebasan dan persamaan yang dimilikinya.

Maka, sangat tidak mengherankan, segenap usia yang dilewatinya, ia selalu berjuang menegakkan kebebasan. Karena ia seorang wartawan, maka garis edar perjuangannya tentang kebebasan, adalah kebebasan pers. Ia tidak berubah arah dari wilayah edar ini.

Seiring dengan perjuangannya tentang kebebasan, Jakob Oetama di saat yang berbarengan, juga berjuang dengan kapasitas yang sama dengan perjuangannya tentang kebebasan, yakni, perjuangan tentang persamaan.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob OetamaKRISTIANTO PURNOMO Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama
Jakob Oetama, saya yakin, mempercayai bahwa persamaanlah yang mengantar tiap orang, mendekati keadilan. Kedua medan perjuangan hidupnya itu, dengan gampang kita buktikan
dalam Harian Kompas.

Tema-tema kebebasan dan persamaan, dari dulu hingga sekarang, selalu diwacanakan atau diberi tempat, dengan berbagai bentuk: opini, tajuk rencana, berita utama, karikatur, foto, dan sebagainya.

Tema kebebasan dan persamaan yang mendarah daging dalam diri Jakob Oetama, selalu membuat adrenalinnya bergolak, kendati di tengah kerapuhan fisik yang sudah menderanya lantara usia yang senja.

Ia berjalan sendiri atau dipapah, namun, volume suara tidak pernah menurun, tatapan mata tetap menyorot tajam, pikiran jernih tetap mengalir. Semua lantaran kebebasan dan persamaan yang diperjuangkannya dari awal hingga ajal menjemputnya.

Bagi seorang Jakob Oetama, kebebasan yang dimiliki seseorang membuat dirinya berdaulat. Tanpa kebebasan, manusia tidak berdaulat, dan manusia tanpa kedaulatan, akan kehilangan martabat. Dan martabat inilah yang menjadi esensi manusia.

Namun, kebebasan tanpa persamaan, bisa juga jadi anarkis karena hanya dengan persamaan, kebebasan bermanfaat. Kebebasan tanpa dibarengi dengan prinsip persamaan, akan jadi anarkis karena semua berpacu ingin memiliki kebebasan dan mengabaikan kebebasan orang lain. Hanyalah dengan persamaan, klaim mutlak kepemilikan kebebasan, bisa direm.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Siapa Sosok Wanita di Balik Patung Liberty yang Jadi Simbol Kebebasan Amerika Serikat?

Siapa Sosok Wanita di Balik Patung Liberty yang Jadi Simbol Kebebasan Amerika Serikat?

Tren
3 Hakim MK 'Dissenting Opinion' dalam Putusan Sengketa Pilpres 2024

3 Hakim MK "Dissenting Opinion" dalam Putusan Sengketa Pilpres 2024

Tren
Gempa Terkini M 5,1 Guncang Pacitan Terasa hingga Malang

Gempa Terkini M 5,1 Guncang Pacitan Terasa hingga Malang

Tren
5 Hasil Putusan MK soal Dugaan Jokowi Cawe-cawe di Pilpres 2024

5 Hasil Putusan MK soal Dugaan Jokowi Cawe-cawe di Pilpres 2024

Tren
Penjelasan KAI soal Nomor Kursi Kereta Tambahan Yogyakarta-Gambir New Generation yang Acak-acakan

Penjelasan KAI soal Nomor Kursi Kereta Tambahan Yogyakarta-Gambir New Generation yang Acak-acakan

Tren
Gempa M 5,1 Guncang Pacitan, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa M 5,1 Guncang Pacitan, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Tren
Ramai soal Perempuan Paksa Minta Uang di Kompleks Perumahan Sukabumi, Begini Cerita Warga

Ramai soal Perempuan Paksa Minta Uang di Kompleks Perumahan Sukabumi, Begini Cerita Warga

Tren
AI Lebih Pintar dari Manusia Terpintar?

AI Lebih Pintar dari Manusia Terpintar?

Tren
Jika Ada Indikasi Penerima KIP-K Salah Sasaran, Begini Cara Melaporkannya

Jika Ada Indikasi Penerima KIP-K Salah Sasaran, Begini Cara Melaporkannya

Tren
Kelompok Orang yang Perlu Menghindari Minum Air Kelapa, Siapa Saja?

Kelompok Orang yang Perlu Menghindari Minum Air Kelapa, Siapa Saja?

Tren
Arkeolog Temukan Situs Pertapaan Kuno Berusia 1.300 Tahun di Inggris

Arkeolog Temukan Situs Pertapaan Kuno Berusia 1.300 Tahun di Inggris

Tren
Peserta BPJS Beli Obat di Luar RS Disebut Dapat 'Reimburse', Ini Kata BPJS Kesehatan

Peserta BPJS Beli Obat di Luar RS Disebut Dapat "Reimburse", Ini Kata BPJS Kesehatan

Tren
'Dissenting Opinion' Hakim Arief Hidayat, Presiden Disebut Menyuburkan Politik Dinasti

"Dissenting Opinion" Hakim Arief Hidayat, Presiden Disebut Menyuburkan Politik Dinasti

Tren
Profil Ketua MK Suhartoyo yang Pimpin Sidang Putusan Sengketa Pilpres 2024

Profil Ketua MK Suhartoyo yang Pimpin Sidang Putusan Sengketa Pilpres 2024

Tren
Alasan MK Tolak Permohonan Anies-Muhaimin, Intervensi Presiden dan Bansos Tak Terbukti

Alasan MK Tolak Permohonan Anies-Muhaimin, Intervensi Presiden dan Bansos Tak Terbukti

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com