Camelia Pasandaran
Dosen Prodi Jurnalistik UMN

Mantan jurnalis media online. Saat ini bekerja sebagai dosen di Prodi Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ia sedang menyusun disertasi di Program Pascasarjana, Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Minat risetnya adalah kajian media, jurnalisme dan isu keberagaman.

Doxing, Ancaman bagi Pers di Era Digital

Kompas.com - 23/09/2020, 11:05 WIB
Apa itu Doxing, Bagaimana Dampak, dan Cara Pencegahannya? KOMPAS.com/Akbar Bhayu TamtomoApa itu Doxing, Bagaimana Dampak, dan Cara Pencegahannya?


AMANDA Hess, jurnalis Slate, sedang berlibur ketika teleponnya berbunyi pada dini hari. Seorang temannya mengirimkan pesan setelah menemukan akun twitter yang sepertinya sengaja dibuat untuk menebar ancaman pembunuhan terhadap Amanda.

Dia bangun, membuka laptop, dan mulai membaca pesan-pesan itu. Isinya mulai dari mencela fisiknya hingga pelecehan seksual secara verbal. Lalu ia sampai pada ancaman pembunuhan itu: “Saya bersumpah, kamu akan mati dan sayalah yang akan membunuhmu.”

Amanda bercerita, orang-orang yang tidak menyukai tulisannya kerap mencari emailnya, mengirimkan pesan-pesan bernada ancaman. Foto pribadinya pun disebarkan dan ditambahkan komentar tak pantas. Kisah Amanda yang ditulisnya pada 2014 itu bisa dibaca di sini

Apa yang dialami Amanda disebut sebagai doxing. Menurut Poynter, doxing biasanya dimulai dengan menyebarkan informasi pribadi seseorang dengan tujuan merisak dan mengintimidasi.

Level berikutnya adalah serangan melalui telepon atau kiriman pesan dari nomor-nomor tidak dikenal, juga lewat media sosial. Pesan yang dikirim bisa saja sampai ancaman perkosaan dan pembunuhan seperti yang dialami oleh Amanda.

Maraknya serangan doxing pada jurnalis

Kasus Amanda tadi bukanlah kasus yang langka. Banyak jurnalis di berbagai penjuru dunia mengalami doxing.

Awal tahun ini, reporter The Daily Beast Scott Bixby menerima banyak pesan teks dan suara beberapa jam setelah dia menulis tentang seorang staf kampanye Senator Bernie Sander yang menggunakan kata-kata yang merendahkan kandidat lawan di akun Twitternya.

Menurut Business Insider, beberapa akun Twitter menuliskan lokasi dan harga apartemen yang mereka klaim dimiliki oleh Bixby.

Bentuk doxing lainnya dialami oleh jurnalis Jezebel Anna Merlan. Selain ancaman perkosaan, dia menerima email dari Domino Pizza yang memberitahukan bahwa pesanannya sudah siap dan dibayar cash saat diterima. Ia tidak pernah memesan makanan senilai hampir 50 dolar atau setara Rp 700 ribu itu.

Pemesan pizza itu menemukan alamat apartemen lama Merlan dan memakainya buat mengintimidasi. Doxing yang dialaminya terjadi setelah ia menulis tentang hasil polling majalah TIME mengenai kata-kata yang menurut para responden harus dilarang, salah satunya adalah kata “feminis”.

Pesanan makanan ini juga bentuk doxing yang dialami oleh jurnalis Detik.com. Pada Mei 2020, jurnalis ini mendapat kiriman makanan bertubi-tubi melalui aplikasi ojek online.

Ini terjadi setelah ia menuliskan berita mengenai kunjungan Jokowi ke Bekasi dalam rangka pembukaan mal. Jurnalis tersebut juga diduga menerima ancaman pembunuhan dari orang tidak dikenal melalui Whatsapp. Baca juga: AJI Jakarta Desak Polisi Usut Dugaan Doxing dan Intimidasi ke Jurnalis Detik.com

Kisah doxing lainnya diceritakan mantan jurnalis media online, Hindra. Ia meyakini serangan itu dipicu tugasnya yang banyak mengedit berita tentang mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.