Bertambah Dua Ekor, Bagaimana Kondisi Konservasi Badak Jawa di Ujung Kulon?

Kompas.com - 20/09/2020, 16:35 WIB
Sepasang Badak Jawa yang tertangkap camera trap di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten. Hasil riset dari berbagai lembaga dan TNUK sendiri, jumlah satwa dilindungi ini pada tahun 2016 akhir hanya tinggal 67 ekor. Dokumen Taman Nasional Ujung KulonSepasang Badak Jawa yang tertangkap camera trap di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten. Hasil riset dari berbagai lembaga dan TNUK sendiri, jumlah satwa dilindungi ini pada tahun 2016 akhir hanya tinggal 67 ekor.

KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengumumkan kelahiran dua ekor badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.

Mengutip pernyataan dari akun Twitter resmi Kementerian LHK, Minggu (20/9/2020) keberadaan kedua anak badak itu diketahui dari hasil pemantauan tim Balai TN Ujung Kulon sejak Maret-Agustus 2020.

Pemantauan dilakukan dengan menggunakan 93 kamera video jebak atau (video trap).

Baca juga: Saat Populasi Hewan di Dunia Turun 68 Persen dalam 50 Tahun...

Sementara itu, hingga Agustus tahun ini, jumlah kumulatif Badak Jawa menurut data terakhir Kementerian LHK, mencapai 74 individu, masing-masing 40 jantan dan 34 betina.

Jumlah tersebut termasuk dua ekor badak Jawa yang baru lahir, yaitu anak badak jantan Luther dan anak badak betina Helen.

Untuk komposisi umur populasi badak, terdiri dari 15 ekor berusia anak-anak dan 59 ekor merupakan usia remaja-dewasa.

Baca juga: Mengenal Harimau Sumatera yang Terancam Punah...

Kondisi konservasi 

Patung badak jawa bercula satu dihadirkan di Paviliun Indonesia dalam World Expo Milan 2015 di Milan, Italia, Minggu (16/8/2015). Pameran berlangsung sejak 1 Mei hingga 31 Oktober 2015. Seusai pameran, patung perunggu badak jawa berbobot 500 kilogram itu akan diserahkan ke Museum Vatikan sebagai hadiah untuk Paus Tahta Suci Vatikan. Pada 1516, seekor badak Jawa hidup pernah dikirimkan ke Paus Leo X di Vatikan, tetapi kapal pengangkutnya karam di sekitar pantai Italia. KOMPAS/NAWA TUNGGAL Patung badak jawa bercula satu dihadirkan di Paviliun Indonesia dalam World Expo Milan 2015 di Milan, Italia, Minggu (16/8/2015). Pameran berlangsung sejak 1 Mei hingga 31 Oktober 2015. Seusai pameran, patung perunggu badak jawa berbobot 500 kilogram itu akan diserahkan ke Museum Vatikan sebagai hadiah untuk Paus Tahta Suci Vatikan. Pada 1516, seekor badak Jawa hidup pernah dikirimkan ke Paus Leo X di Vatikan, tetapi kapal pengangkutnya karam di sekitar pantai Italia.

Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan, kelahiran dua ekor badak Jawa pada tahun ini menandakan bahwa kondisi habitat Badak Jawa di TN Ujung Kulon terbukti masih baik.

“Kelahiran badak Jawa di TN Ujung Kulon tersebut juga mempertegas bahwa populasi badak Jawa terus mengalami perkembangbiakan alami dengan baik, sehingga terus memberi harapan besar bagi kelangsungan hidup satwa langka spesies Badak Jawa” kata Wiratno saat dihubungi Kompas.com, Minggu (20/9/2020).

Kelahiran badak Jawa tidak hanya terjadi tahun ini saja. Wiratno mengatakan, pada 2019 lalu ada empat ekor anak badak yang lahir.

Baca juga: Selain Udang Asal Sulawesi, Ini 5 Hewan di Indonesia yang Terancam Punah

Namun, meski ada harapan bahwa kelangsungan hidup badak Jawa bisa dilestarikan, Wiratno menyebut bahwa badak Jawa adalah spesies yang sensitif dan butuh perlindungan penuh.

"Agar tidak orang memasang jerat, dan hal lain yang mengganggu konservasi. Di Ujung Kulon ada hampir 100 kamera trap yang dipasang dan aktif. Setiap bulan baterainya diganti, sambil dilihat apakah ditemukan keberadaan badak," kata Wiratno.

Selain itu, dia menambahkan bahwa patroli keliling TN Ujung Kulon juga dilakukan secara terus-menerus, agar kondisi badak bisa dipantau.

Baca juga: Mencairnya Es di Greenland dan Risiko Banjir Tahunan...

"Karena badak ini kan tidak bisa dipasangai GPS (Global Positioning System), tidak seperti gajah. Kalau gajah bisa dipasangi GPS dan dipantau lewat smartphone bisa, baterai GPS-nya juga tahan dua tahun, sehingga ke mana gajah itu bergerak bisa dipantau," ujar dia.

Untuk badak, pemantauan dilakukan melalui kamera video jebak yang dipasang di beberapa tempat, seperti tempat badak berkubang.

"Makanya kemarin bisa diketahui ada anak badak itu karena hasil pantauan dari video trap," kata Wiratno.  

Baca juga: Teror Hewan Sepanjang 2019: Tawon Ndas, Harimau, hingga Ular Kobra

Penyebab kelangkaan 

Seekor anak badak jantan tertangkap video kamera jebakan pada 1 Agustus 2012 saat melintas di hutan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Ini hasil pemantauan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) 2012 yang dilakukan Balai TNUK. Sebanyak enam anakan badak jawa baru tertangkap kamera.Balai TNUK Seekor anak badak jantan tertangkap video kamera jebakan pada 1 Agustus 2012 saat melintas di hutan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Ini hasil pemantauan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) 2012 yang dilakukan Balai TNUK. Sebanyak enam anakan badak jawa baru tertangkap kamera.

Wiratno mengatakan, pada abad XIX, badak Jawa tidak hanya ada di Ujung Kulon saja, tapi tersebar hingga dataran rendah di Jawa Tengah.

"Karena pada masa penjajahan Belanda di Jawa itu banyak hutan-hutan dataran rendah yang dikonversi. Oleh karena itu badak Jawa sekarang hanya tinggal di Ujung Kulon. Jadi upaya konservasi ini dilakukan setelah hilangnya habitat badak di masa lalu," kata Wiratno.

Selain itu, penyusutan populasi badak Jawa juga disebabkan aktivitas perkebunan pada masa penjajahan Belanda. Wiratno mengatakan, badak pada masa itu dianggap hama sehingga pihak kolonial melegalkan penembakan satwa itu.

"Badak ini kan makan daun dan ranting, terutama yang dia suka itu ranting," ujar Wiratno.

Selain kedua faktor itu, hal lain yang menyebabkan populasi badak menjadi langka adalah sifat satwa itu yang penyendiri, sehingga menyulitkannya menemukan pasangan dan melakukan reproduksi.

"Dia kadang-kadang juga terjebak di daerah lembah, dan tidak bertemu lagi dengan pasangannya," kata Wiratno.

Baca juga: Ramai soal Burung Kacer, Berikut Aturan Hewan Peliharaan Masuk ke dalam Pesawat

Mitos soal cula

Penandatanganan deklarasi Hari Badak Sedunia, bersama menyelamatkan badak jawa, oleh Dirjen Konservasi KLHK di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten, Jumat (22/9/2017).KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Penandatanganan deklarasi Hari Badak Sedunia, bersama menyelamatkan badak jawa, oleh Dirjen Konservasi KLHK di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten, Jumat (22/9/2017).

Wiratno menyebut kehadiran badak adalah representasi dari hutan hujan dataran rendah. Maka ketika badak Jawa tidak ada lagi di dataran rendah Jawa Tengah, dapat dipastikan kalau di wilayah itu tidak ada lagi hutan hujan.

"Dia simbol dari keberadaan hutan. Kalau badak masih ada, maka hutan dan isinya masih lestari. Makanannya tergantung dari regenerasi alami tanaman yang ada di hutan itu," kata Wiratno. 

Di sisi lain, Wiratno menyebut bahwa tindakan perburuan badak untuk diambil culanya adalah suatu hal yang sia-sia belaka.

Baca juga: Menyoal Virus Corona, Disebut Berasal dari Hewan hingga Menular Lewat Mata

"Itu sebetulnya keratin yang tidak ada apa-apanya, sama seperti kuku manusia. Cuma orang membuat isu bahwa cula itu memiliki khasiat, bisa memberi kekuatan dan sebagainya. Itu yang sangat merugikan," katanya lagi.

Oleh karena itu, Wiratno berharap dengan adanya upaya penegakan hukum yang keras, dan pelurusan misinformasi itu, perburuan terhadap badak bisa dihentikan.

"Badak harus mendapat full protection, intensive zone-nya harus ditetapkan dan dijaga terus," kata Wiratno.  

Baca juga: Kapan Musim Kemarau 2020 Berakhir dan Musim Penghujan di Indonesia Dimulai?


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X