Virus Corona, Gangguan Pernapasan Akut, dan Respons Sistem Kekebalan Tubuh...

Kompas.com - 15/09/2020, 06:31 WIB
Petugas kesehatan mengangkat pemilih yang pingsan saat simulasi Pemilihan Kepala Daerah di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (14/9/2020). Simulasi tersebut digelar untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk penyelenggaraan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 di tengah wabah COVID-19. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj. ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYAPetugas kesehatan mengangkat pemilih yang pingsan saat simulasi Pemilihan Kepala Daerah di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (14/9/2020). Simulasi tersebut digelar untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk penyelenggaraan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 di tengah wabah COVID-19. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj.

KOMPAS.com – Sebuah studi baru menunjukkan respons kekebalan terhadap virus corona pada pasien yang sakit parah dan sakit kritis sama kuat atau lebih kuatnya dengan pasien yang berpenyakit ringan.

 

Melansir Medical News Today, ini adalah bukti bahwa sistem imun tubuh sendirilah infeksi yang paling mengancam jiwa.

Sel kekebalan yang ada dalam tubuh yang dikenal sebagai sel T bertanggung jawab untuk mengenali patogen, membunuh sel yang terinfeksi dan merekrut cabang lain dari sitem kekebalan untuk memerangi infeksi.

Akan tetapi sebuah studi menunjukkan bahwa respons sel T terhadap virus corona baru pada pasien kritis sama kuat dengan mereka yang memiliki bentuk penyakit yang tidak terlalu parah.

Baca juga: Saat Makan di Restoran Disebut Tingkatkan Risiko Penularan Covid-19...

Penemuan ini memperkuat mengenai kesimpulan bahwa kurangnya respons imun terhadap SARS-CoV-2 tak bertanggung jawab pada kondisi pasien kritis dan adanya kematian.

Sebaliknya respons imun yang berlebihanlah yang harus disalahkan.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Marien Herne dan Ruhr dari Universitas Bochum di Herne, Jerman.

Baca juga: WHO: Penundaan Uji Coba Vaksin Covid-19 AstraZeneca Menjadi Suatu Peringatan

Memerangi infeksi

Mereka membandingkan respons sel T dari 28 pasien Covid-19 saat fase akut infeksi dan saat sembuh.

Dari seluruh pasien ini mereka dikategorikan ke dalam 7 kondisi sedang, 9 parah dan 12 kritis.

Para peneliti kemudian mengukur konsentrasi dua jenis sel T dalam sampel darah dari setiap pasien yakni sel T pembantu dan sel T pembunuh “sitotoksik”

Baca juga: Saat WHO Peringatkan tentang Bahaya Nasionalisme Vaksin...

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X