Kompas.com - 29/08/2020, 19:02 WIB
Para siswa yang ada di Dusun Punik, Desa Batudulang, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), memilih menggunakan HT untuk belajar mandiri di rumah. Dok. Rusdianto for KOMPAS.COMPara siswa yang ada di Dusun Punik, Desa Batudulang, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), memilih menggunakan HT untuk belajar mandiri di rumah.
|

“Api luar langsung mati tapi bara di dalamnya masih ada,” ucap dia.

Memaksimalkan PJJ melalui TV

FSGI menilai Kemendikbud perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas PJJ melalui TVRI.

Baca juga: Klaster Covid-19 di Sekolah Bermunculan, FSGI: Jangan Korbankan Guru dan Siswa

Lantaran, ia mengatakan sebagaimana yang dikatakan Kemendikbud sebelumnya, pembelajaran melalui TVRI cukup efektif untuk dilakukan.

Mansur Sipinathe, dari Serikat Guru Mataram yang juga tenaga pendidik di salah satu SMAN di Lombok Barat, menyarankan salah satu peningkatan yang bisa dilakukan adalah dengan menambah durasi pembelajaran.

“Selama ini kan per sesi pembelajaran itu untuk 3 kelas. Jadi dari kelas 1 sampai kelas 3 SD dibuat 1 sesi atau 1 Kompetensi Dasar (KD) pembelajaran, padahal belum tentu sesuai dengan kurikulum formalnya. Jadi seharusnya KD pembelajarannya bisa disesuaikan dengan kurikulum,” ujar Mansur dalam keterangan tertulis FSGI.

Sementara itu, Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti menilai jika tidak memungkinkan bagi TVRI menayangkan seluruh materi bagi SD hingga SMA/SMK, maka Kemendikbud dapat bekerja sama dengan stasiun televisi lain.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: FSGI Catat Ratusan Guru Terkena Corona, 42 Orang di Antaranya Meninggal

“Sehingga pembelajaran melalui TV dapat diperluas dan ditayangkan serentak pada seluruh jenjang di waktu yang sama, jam saat PJJ di pagi hari, hari Senin sampai dengan Jumat,” kata Retno.

Menurutnya, kerja sama dengan TV swasta lain menjadi kebutuhan, karena sinyal TVRI tidak semua tempat dapat menerimanya dengan baik.

Namun, Retno mengatakan justru TV swasta lebih kuat di daerah tertentu. Ia berharap dengan begitu antarstasiun TV bisa saling melengkapi.

“Bisa didahului dengan pendataan, sehingga tepat sasaran dan tepat kebutuhan,” tuturnya. 

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X