Tragedi Minyak di Mauritius dan Perjuangan Induk Lumba-lumba Selamatkan Bayinya...

Kompas.com - 29/08/2020, 15:04 WIB
Lumba-lumba Elektra yang terdampar di Pantai Mauritius. ReutersLumba-lumba Elektra yang terdampar di Pantai Mauritius.

 

KOMPAS.com - Seekor induk lumba-lumba berulang kali mendorong kepala bayinya ke atas ombak berminyak di laguna Mauritus. Bayi itu terlihat berguling miring dan mengapung di permukaan.

Lokasi tersebut merupakan tempat para pencinta lingkungan menuntut penyelidikan atas kematian puluhan lumba-lumba setelah tumpahan minyak.

Rekaman video yang diperoleh Reuters, Sabtu (29/8/2020) menunjukkan seorang nelayan berusaha membantu menyelamatkan lumba-lumba itu.

Baca juga: Ramai soal Pesut Mahakam di Twitter, Apa Bedanya dengan Lumba-lumba?

Tampak juga pemandangan putus asa yang diperlihatkan induk dan anaknya itu sebelum mereka berdua mati.

Setidaknya 40 lumba-lumba telah ditemukan mati di Mauritius sejak Senin (24/8/2020), 38 di antaranya terdampar di pantai. Jumlah itu mungkin akan terus meningkat.

Nelayan yang merekam pemandangan menyedihkan itu, Yasfeer Heenaye (31) mengaku telah melihat hampir 200 lumba-lumba di dalam terumbu karang pada Jumat (28/8/2020) pagi. Sebanyak 25-30 di antaranya mati.

"Beberapa terluka dan beberapa mengambang," kata Heenaye.

Baca juga: Saat Bali Jadi Tuan Rumah Pertama Aksi Pengembalian Lumba-lumba Tawanan ke Alam...

Menggiring ke laut lepas

Air terjun dalam laut pulau Mauritius Air terjun dalam laut pulau Mauritius

Para nelayan pun mencoba menggiring lumba-lumba keluar dari laguna ke laut lepas.

"Di dalam terumbu karang ada tumpahan minyak di atas air. Jika mereka tetap di dalam mungkin semuanya akan mati, tapi jika mereka keluar mungkin mereka akan bertahan," papar dia.

"Kami mencoba mendorong lumba-lumba keluar dari terumbu, membuat keributan di perahu agar lumba-lumba keluar dari terumbu karang," sambungnya.

Baca juga: Viral, Video Kuda Laut Jantan Lahirkan Bayi, Benarkah Demikian?

Menurutnya, ada seekor induk dan bayi lumba-lumba yang terlihat kelelahan dan tak dapat berenang dengan baik.

Akan tetapi, sang induk tetap di sampingnya dan tidak meninggalkan bayinya untuk pergi bersama kelompok.

"Sepanjang jalan dia tinggal bersamanya. Dia berusaha melindunginya untuk mendorong bayi itu agar kembali bersama kelompoknya," tutur dia.

Baca juga: Laut Kaspia, Mengapa Danau Terbesar di Dunia Ini Disebut sebagai Laut?

Akan tetapi, bayi lumba-lumba itu mati di depan mata mereka dan mengambang di atas ombak.

Beberapa jam kemudian, induknya mengalami kejang dan menyusul nasib bayinya.

"Ketika saya melihat ini, ada air mata di mata saya. Saya adalah orangtua dari seorang putri kecil, sangat sulit bagi saya untuk melihat ibu berjuang dan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan bayinya," tutup dia.

Baca juga: Pertamina Disebut Rugi Rp 11,13 Triliun, Apa yang Terjadi?

Menghantam karam

Foto yang diambil dan disediakan oleh Eric Villars ini menunjukkan kebocoran minyak dari MV Wakashio, kapal kargo curah yang kandas di lepas pantai tenggara Mauritius, Jumat (7/8/2020). Pemerintah Mauritius telah mengumumkan keadaan darurat lingkungan dan Perancis telah mengirimkan bantuan.AP Photo/Eric Villars Foto yang diambil dan disediakan oleh Eric Villars ini menunjukkan kebocoran minyak dari MV Wakashio, kapal kargo curah yang kandas di lepas pantai tenggara Mauritius, Jumat (7/8/2020). Pemerintah Mauritius telah mengumumkan keadaan darurat lingkungan dan Perancis telah mengirimkan bantuan.

Diberitakan sebelumnya, sebuah kapal tanker minyak dilaporkan menghantam karang di lepas Pantai Mauritius pada 25 Juli 2020.

Kapal yang membawa hampir 4.000 metrik ton minyak itu kandas di dekat Pointe d'Esny di Samudera Hindia.

Lebih dari 1.000 ton minyak dilaporkan bocor dari retakan di lambung kapal. Hal itu membuat Pemerintah Mauritius mengumumkan keadaan darurat lingkungan.

Baca juga: Ramai soal Baju Hijau Dilarang Pergi ke Laut Selatan, Simak Alasan Logisnya...

Dilansir Guardian, Jumat (7/8/2020), Menteri Lingkungan Mauritius Kavy Ramano mengatakan insiden tersebut merupakan insiden pertama kali yang dihadapi negara itu.

Mauritius, saat ini, imbuhnya tidak memiliki perlengkapan yang mencukupi untuk mengatasi masalah tersebut.

Para menteri mengatakan semua upaya menstabilkan kapal telah gagal karena gelombang laut yang ganas dan upaya untuk memompa minyak juga gagal.

Baca juga: Polemik Laut China Selatan di Tengah Pandemi Corona


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X