Menyangkut Nyawa Siswa, KPAI Minta Pemerintah Perhatikan Kesiapan Pembukaan Sekolah

Kompas.com - 29/08/2020, 13:47 WIB
Sejumlah pelajar belajar daring memanfaatkan jaringan internet gratis di kolong rel kereta api Mangga Besar, Jakarta, Rabu (26/8/2020). Fasilitas internet gratis menggunakan modem WiFi yang disediakan oleh warga setempat yang lebih mampu itu bertujuan untuk membantu kelancaran proses belajar daring siswa yang tidak mampu membeli paket kuota internet selama pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDISejumlah pelajar belajar daring memanfaatkan jaringan internet gratis di kolong rel kereta api Mangga Besar, Jakarta, Rabu (26/8/2020). Fasilitas internet gratis menggunakan modem WiFi yang disediakan oleh warga setempat yang lebih mampu itu bertujuan untuk membantu kelancaran proses belajar daring siswa yang tidak mampu membeli paket kuota internet selama pandemi COVID-19.

"Pengalaman SMKN 11 Kota Bandung yang sudah menyiapkan infrastruktur adapatasi budaya baru di sekolah dalam pembelajaran tatap muka, ternyata anggaran penyiapan sangat besar, tak bisa hanya mengandalkan dana BOS, tetapi juga BOSDA dan dukungan angaran Komite Sekolah," tegas Retno.

Data survey KPAI

Retno menambahkan, data dari survey KPAI yang melibatkan 6.729 sekolah, menunjukkan bahwa infrastruktur pendukung budaya bersih dan sehat di satuan pendidikan, baik sekolah maupun madrasah masih minim, bahkan sebelum pandemi Covid-19.

Seperti contoh, sarana dan prasarana toilet, wastafel, sabun cuci tangan, tisu, dan lain-lain.

Sebelum pandemi Covid-19, kata Retno, hampir semua sekolah telah memiliki wastafel. Hanya saja jumlahnya sedikit dan belum menyebar, serta terkonsentrasi di toilet sekolah.

"Padahal wastafel sangat diperlukan dalam adaptasi kebiasaan baru di sekolah, karena anak harus sering cuci tangan," ucap Retno.

Baca juga: Melihat Risiko dan Hasil Pembukaan Sekolah di Tengah Pandemi Corona...

Fasilitas protokol kesehatan

Data KPAI menunjukkan, 46 persen sekolah memiliki wastafel kurang dari 5 buah, 32 persen memiliki 5-10 wastafel, 10 persen sekolah memiliki 10-15 wastafel.

Kemudian 6 persen sekolah memiliki 15-20 wastafel, dan 6 persen sekolah memiliki lebih dari 20 wastafel dan yang memiliki wastafel lebih dari 20 hanyalah 6 persen sekolah.

Begitu juga dengan ketersediaan sabun cuci tangan sebelum pandemi Covid-19, dimana 67 persen sekolah telah menyediakan sabun hanya di toilet sekolah, 28 persen, terkadang menyediakan dan 5 persen menyatakan tidak pernah menyediakan.

"Saat buka sekolah dilakukan, sabun cuci tangan wajib ada di setiap wastafel depan kelas, bukan hanya di toilet sekolah," papar Retno.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X