28 Triliun Ton Es di Bumi Menguap Kurang dari 30 Tahun, Apa Dampaknya?

Kompas.com - 23/08/2020, 19:27 WIB
Dalam Konferensi Arktis Internasional 2013 puluhan politisi dan dan pakar membahas masalah likungan di kawasan Kutub Utara. Pertemuan itu berlangsung di kota Salechard, Siberia. Deutche WelleDalam Konferensi Arktis Internasional 2013 puluhan politisi dan dan pakar membahas masalah likungan di kawasan Kutub Utara. Pertemuan itu berlangsung di kota Salechard, Siberia.

 

KOMPAS.com – Sebanyak 28 triliun ton lapisan es di bumi hilang atau menguap sejak tahun 1994 atau sekitar hampir 30 tahun terakhir.

Hal tersebut disampaikan oleh ilmuwan Inggris yang menganalisis survei satelit dari kutub, gunung dan glester di bumi. 

Penelitian itu dilakukan untuk mengukur berapa banyak lapisan es yang hilang akibat pemanasan global karena meningkatnya emisi gas rumah kaca.

Ilmuwan yang berbasis di Universitas Leeds dan Edinburgh serta Universitas College London tersebut menggambarkan, tingkat kehilangan es merupakan sesuatu yang mengejutkan.

Mereka juga memperingatkan bahwa analisis mereka menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut yang dipicu oleh mencairnya glester dan lapisan es pada abad ini bisa mencapai sekitar satu meter.

"Setiap sentimeter kenaikan permukaan laut berarti sekitar satu juta orang akan mengungsi dari tanah air mereka yang lebih rendah," kata Profesor Andy Shepherd, direktur Pusat Pengamatan dan Pemodelan Kutub Universitas Leeds dikutip dari The Guardian, Minggu (23/8/2020). 

Baca juga: Suhu Terpanas Bumi dalam 100 Tahun Terakhir: 54,4 Derajat Celcius

Mempengaruhi radiasi matahari

Para ilmuwan juga memperingatan, mencairnya es dalam jumlah tersebut dapat secara serius mengurangi kemampuan planet untuk memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa.

Es putih menghilang, maka laut akan gelap. Tanah yang terbuka di bawahnya menyerap lebih banyak panas sehingga peningkatan pemanasan planet bumi akan terjadi.

Selain itu, air dingin segar yang mengalir dari glester dan lapisan es yang mencair dapat menyebaban gangguan besar pada kesehatan biologis perairan Arktik dan Antartika.

Adapun hilangnya glester di pegunungan bisa mengancam dan menghapus sumber air tawar yang menjadi ketergantungan masyarakat sekitar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X