Indonesia Impor 50 Juta Calon Vaksin Corona dari China, Ahli: Perlu Antisipasi Jika Gagal

Kompas.com - 22/08/2020, 12:35 WIB
Petugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis calon vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). Simulasi tersebut dilakukan untuk melihat kesiapan tenaga medis dalam penanganan dan pengujian klinis tahap III calon vaksin Covid-19 produksi Sinovac kepada 1.620 relawan. ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASAPetugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis calon vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). Simulasi tersebut dilakukan untuk melihat kesiapan tenaga medis dalam penanganan dan pengujian klinis tahap III calon vaksin Covid-19 produksi Sinovac kepada 1.620 relawan.

KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian untuk mengimpor 50 juta dosis calon vaksin Covid-19 dari Sinovac, China.

Perjanjian ini ditandatangani oleh Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN), Erick Thohir.

Indonesia dalam hal ini PT Bio Farma tidak hanya akan mengolah dan mendistribusikan vaksin dari China, melainkan juga menerima transfer teknologi sehingga ke depannya bisa mengembangkannya secara mandiri.

Bio Farma akan menerima bulk atau konsentrat Ready to Fill (RTF) calon vaksin dari Sinovac ini yang diperkirakan mulai November 2020-Maret 2021.

Baca juga: RI Akan Impor 50 Juta Dosis Calon Vaksin Covid-19 dari China

Pengamanan stok

Melihat kerjasama dan langkah yang diambil pemerintah Indonesia terkait keputusan impor vaksin tersebut, Pakar Epidemiologi Dicky Budiman menyebutnya sebagai satu langkah yang positif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pengamanan stok calon vaksin tentu penting, sebagai salah satu strategi pelengkap penyelesaian pandemi mengingat kebutuhannya akan besar dan perlu diantisipasi sejak awal," kata Dicky saat dihubungi Sabtu (22/8/2020).

Artinya dengan melakukan pengamanan stok sejak awal, Indonesia bisa mengantisipasi adanya kekurangan jumlah vaksin akibat tidak mendapat dosis yang cukup ketika bersaing dengan banyak negara yang juga sama-sama membutuhkan.

Antisipasi jika tidak berhasil

Namun, Dicky menyebut pengamanan vaksin ini akan lebih baik jika dilakukan pemerintah ke lebih dari satu pemasok saja. Hal ini untuk mengantisipasi apabila calon vaksin dari satu produsen ternyata belum dinyatakan berhasil.

"Harus ada diversifikasi untuk meningkatkan peluang, adapun jumlahnya bisa ditentukan pemerintah sesuai analisis kebutuhan berdasar kajian dan rencana. Sembari memastikan adanya klausul transfer of knowledge dan teknologi sehingg kita diuntungkan," jelas dia.

Baca juga: 20 Juta Orang Terinfeksi, Ini Update 6 Kandidat Vaksin Corona di Dunia

Diversifikasi bisa dilakukan dengan pengembang calon vaksin dari negara lain, misalnya Inggris, Korea Selatan, dan Australia.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.