Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Pemimpin Perempuan Lebih Sukses Tangani Pandemi?

Kompas.com - 22/08/2020, 11:20 WIB
Luthfia Ayu Azanella,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

 

KOMPAS.com - Negara-negara yang dipimpin oleh seorang perempuan memang menunjukkan progres positif untuk pengendalian pandemi Covid-19.

Misalnya Selandia Baru dengan Perdana Menteri Jacinda Ardern, Taiwan dengan Presiden Tsai Ing-wen, dan Jerman dengan Kanselir Angela Merkel, dan lain-lain.

Baru-baru ini sebuah studi menjelaskan bahwa pendapat soal kapabilitas pemimpin perempuan dalam penanganan pandemi lebih baik daripada pemimpin laki-laki itu bukan sebatas asumsi belaka.

Dikutip dari South China Morning Post, pemimpin perempuan dinilai mampu memberikan reaksi dan mengikuti temuan ilmiah dengan lebih cepat.

Selain juga lebih siap dalam mengambil risiko ekonomi guna melindungi kehidupan warganya dibandingkan dengan pemimpin laki-laki dalam kondisi yang sama.

Hal ini menjadi latar belakang satu hasil penelitian akademis, bahwa Anda akan lebih aman (dalam kondisi pandemi Covid-19) jika tinggal di negara yang dipimpin oleh seorang perempuan.

Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Liverpool University yang dipimpin oleh Prof. Supria Garikipati.

Baca juga: 9 Pemimpin Perempuan Dunia Ini Dinilai Sukses Atasi Krisis Covid-19 di Negaranya

Lockdown

Dalam penelitian tersebut disebutkan negara-negara dengan pemimpin perempuan diberlakukan kuncian wilayah atau lockdown lebih awal.

Mereka mengikuti anjuran atau imbauan yang dikeluarkan oleh para ahli keilmuan dengan cepat dan ketat.

“Dipimpin perempuan memberi keuntungan bagi negara dalam krisis saat ini,” kata Garikipati.

“Hasil riset kami dengan jelas menunjukkan pemimpin perempuan bereaksi lebih cepat dan tegas dalam menghadapi potensi kematian. Di hampir semua kasus, mereka mengurung wilayahnya lebih awal daripada pemimpin laki-laki. Hal itu tentunya telah membantu menyelamatkan nyawa," lanjut dia.

Studi ini berdasar pada data makro yang berasal dari Bank Dunia meliputi 194 negara hingga 19 Mei 2020.

Dari jumlah negara yang dianalisis tersebut, hanya 19 di antaranya yang dipimpin oleh seorang perempuan.

Namun, dalam data tersebut tidak termasuk Taiwan dan Hong Kong, karena keduanya tidak masuk dalam data yang dimiliki Bank Dunia.

Jika Taiwan dan Hong Kong masuk dalam perhitungan, maka hasil temuan Garikipati akan menjadi lebih kuat mengingat dua negara tersebut juga dipimpin oleh perempuan dan menjadi negara yang paling berhasil di dunia dalam mengatasi virus.

Baca juga: Mengapa Laki-laki Lebih Mudah Terinfeksi Corona Dibanding Perempuan?

Dampak ekonomi

Studi ini juga mengonfirmasi temuan soal tema yang sama sebelumnya dari tim Trinity College Dublin dan Westminster Foundation for Democracy di King's Ccollege London Mei lalu.

Trinity College menemukan dampak perekonomian negara yang dipimpin oleh perempuan 6 kali lebih kecil dibanding negara lain. Pun dengan jumlah kasus kematian yang terjadi di negaranya.

Proses perataan kurva berjalan lebih cepat dan puncak kasusnya 6 kali lebih rendah dari negara lain dengan pemimpin laki-laki.

Penelitian-penelitian yang sudah dilakukan menyebut sebagian besar pemerintahan yang dipimpin perempuan lebih menekankan pada kesejahteraan sosial dan lingkungan, juga berinvestasi lebih pada kesehatan publik.

"Analisis penelitian lain yang terdekat menegaskan bahwa negara-negara yang dipimpin perempuan bekerja lebih baik, mengalami lebih sedikit kasus, serta lebih sedikit mencatatkan kematian," tulis Garikipati.

Jika di luar sana disebutkan pemimpin perempuan biasanya menghindari risiko, penelitian dari Liverpool ini menyebut hal sebaliknya.

"Mereka siap mengambil risiko signifikan untuk ekonomi mereka dengan melakukan kuncian lebih awal,” kata Garikipati.

Baca juga: Perempuan Ini Diputus Tunangannya karena Gemuk, Kini Menang Miss Britania Raya 2020

Pemimpin laki-laki

Studi ini setuju jika pada umumnya pemimpin laki-laki seperti Donald Trump (AS), Jair Bolsonaro (Brasil), dan Boris Johnson (Inggris) tidak terlalu memberikan tindakan serius dalam menangani Covid-19.

Misalnya Bolsonaro yang menyebut Covid-19 menyerupai flu atau demam, Johnson yang tetap berjabat tangan dengan semua orang di rumah sakit, san sebagainya.

Sebaliknya, pemimpin perempuan misalnya Angela Merkel dan Jacinda Arden menunjukkan langkah kerja yang konkrit.

Kerja mereka banyak mendapat apresiasi, karena dianggap mampu menyelamatkan banyak nyawa dari bahaya virus ini.

Meski begitu, Garikipati menekankan temuan ini dihasilkan di tahap awal perkembangan pandemi global yang didasarkan pada reaksi langsung para pemimpin di gelombang pertama pandemi.

Sehingga studi ini perlu untuk diulang ketika sudah ada pembaruan data, baik terkait korban dan kerugian ekonomi, yang bisa jadi akan dilakukan satu tahun dari sekarang.

Namun memang, saat ini sudah dapat terlihat dengan jelas adanya perbedaan sistemik dan terukur dalam keefektifan pembuatan kebijakan ketika sebuah negara dipimpin oleh seorang perempuan.

Ada empati, kasih sayang, kemauan mendengarkan, dan berkolaborasi.

Kondisi ini sangat penting dan berharga tidak hanya dalam penanganan pandemi, namun juga masalah lain yang menuntut adanya kerjasama internasional yang solid. Misalnya krisis iklim, pencemaran lingkungan, penggunaan sumber daya, dan sebagainya.

"Ketika dihadapkan dengan pengalaman negatif, laki-laki cenderung bereaksi dengan amarah, sementara perempuan bereaksi dengan hati-hati," ujar Garikipati.

Baca juga: Kasus-kasus Virus Corona, Klaim Pemimpin Negara, dan Contoh Keberhasilan Penanganan Covid-19

Sumber: SCMP

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Misteri Mayat Dalam Toren di Tangsel, Warga Mengaku Dengar Keributan

Misteri Mayat Dalam Toren di Tangsel, Warga Mengaku Dengar Keributan

Tren
China Blokir “Influencer” yang Hobi Pamer Harta, Tekan Materialisme di Kalangan Remaja

China Blokir “Influencer” yang Hobi Pamer Harta, Tekan Materialisme di Kalangan Remaja

Tren
Poin-poin Draft Revisi UU Polri yang Disorot, Tambah Masa Jabatan dan Wewenang

Poin-poin Draft Revisi UU Polri yang Disorot, Tambah Masa Jabatan dan Wewenang

Tren
Simulasi Hitungan Gaji Rp 2,5 Juta setelah Dipotong Iuran Wajib Termasuk Tapera

Simulasi Hitungan Gaji Rp 2,5 Juta setelah Dipotong Iuran Wajib Termasuk Tapera

Tren
Nilai Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024 di Atas Standar Belum Tentu Lolos, Apa Pertimbangan Lainnya?

Nilai Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024 di Atas Standar Belum Tentu Lolos, Apa Pertimbangan Lainnya?

Tren
Mulai 1 Juni, Dana Pembatalan Tiket KA Dikembalikan Maksimal 7 Hari

Mulai 1 Juni, Dana Pembatalan Tiket KA Dikembalikan Maksimal 7 Hari

Tren
Resmi, Tarik Tunai BCA Lewat EDC di Retail Akan Dikenakan Biaya Rp 4.000

Resmi, Tarik Tunai BCA Lewat EDC di Retail Akan Dikenakan Biaya Rp 4.000

Tren
Orang Terkaya Asia Kembali Gelar Pesta Prewedding Anaknya, Kini di Atas Kapal Pesiar Mewah

Orang Terkaya Asia Kembali Gelar Pesta Prewedding Anaknya, Kini di Atas Kapal Pesiar Mewah

Tren
Ngaku Khilaf Terima Uang Rp 40 M dari Proyek BTS 4G, Achsanul Qosasi: Baru Kali Ini

Ngaku Khilaf Terima Uang Rp 40 M dari Proyek BTS 4G, Achsanul Qosasi: Baru Kali Ini

Tren
Poin-poin Revisi UU TNI yang Tuai Sorotan

Poin-poin Revisi UU TNI yang Tuai Sorotan

Tren
Tak Lagi Menjadi Sebuah Planet, Berikut 6 Fakta Menarik tentang Pluto

Tak Lagi Menjadi Sebuah Planet, Berikut 6 Fakta Menarik tentang Pluto

Tren
Daftar 146 Negara yang Mengakui Palestina dari Masa ke Masa

Daftar 146 Negara yang Mengakui Palestina dari Masa ke Masa

Tren
Apa Itu Tapera, Manfaat, Besaran Potongan, dan Bisakah Dicairkan?

Apa Itu Tapera, Manfaat, Besaran Potongan, dan Bisakah Dicairkan?

Tren
Cara Memadankan NIK dan NPWP, Terakhir Juni 2024

Cara Memadankan NIK dan NPWP, Terakhir Juni 2024

Tren
Rekan Kerja Sebut Penangkapan Pegi Salah Sasaran, Ini Alasannya

Rekan Kerja Sebut Penangkapan Pegi Salah Sasaran, Ini Alasannya

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com