Mengenal 5 Tradisi Masyarakat Saat Peringatan 1 Suro

Kompas.com - 21/08/2020, 13:19 WIB
Warga Pantai Baron, Gunungkidul, Menggelar Tradisi Labuhan Untuk Ucapan Syukur  kepada Tuhan dan Menyambut Tahun Baru Hijriah Senin (10/9/2018) Kompas.com/Markus YuwonoWarga Pantai Baron, Gunungkidul, Menggelar Tradisi Labuhan Untuk Ucapan Syukur kepada Tuhan dan Menyambut Tahun Baru Hijriah Senin (10/9/2018)

Sebagian masyarakat Jawa menyakini benda-benda pusaka tersebut mempunyai kekuataan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan.

2. Sedekah laut

Tradisi sedekah laut biasa dilakukan warga di sekitar pantai Baron dan Kukup, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta, saat bulan Suro.

Seperti diberitakan Kompas.com, 10 September 2018, sedekah Laut di pantai Baron dimulai dengan kenduri yang diikuti warga yang mencari rezeki di sekitar pantai.

Masyarakat kemudian membawa makanan, gunungan yang berisi hasil bumi, ayam hitam, dan kepala kambing untuk dilarung di laut.

Baca juga: Kraton Yogyakarta Tetap Buka, Alternatif Wisata Libur Tahun Baru Islam

3. Kirab Sura

Kirab Pusaka atau Kirab Kebo Bule yang biasa dilaksanakan untuk merayakan pergantian Tahun Baru Islam atau Satu Suro di Kraton Surakarta, tahun ini ditiadakan, Rabu (19/8/2020).shutterstock/zahirul alwan Kirab Pusaka atau Kirab Kebo Bule yang biasa dilaksanakan untuk merayakan pergantian Tahun Baru Islam atau Satu Suro di Kraton Surakarta, tahun ini ditiadakan, Rabu (19/8/2020).

Tradisi kirab sura biasa digelar Keraton Kasunanan Surakarta di Jawa Tengah. Pada saat kirab, kerbau bule dan benda pusaka milik Keraton dikeluarkan.

Prosesi kirab biasa dimulai menjelang tengah malam, yakni pada pukul 23.00 WIB.

Seperti diberitakan Kompas.com, 22 September 2017, rute kirab dimulai dari Kori Kamendungan menuju Kawasan Sapit Urang depan keraton lalu menuju Jalan Sudirman.

Setelah itu, kirab menuju arah timur melewati Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, lalu Jalan Slamet Riyadi, hingga bunderan Gladag dan kembali lagi menuju keraton.

Ratusan orang yang berkumpul khusuk saat menunggu kerbau milik keraton melintas. Setelah itu, mereka berebut sesaji.

Bagi sebagian warga, sesaji pada malam satu Suro dipercaya bisa memberikan keselamatan dan berkah.

4. Tapa bisu

Warga berjalan kaki dalam keheningan mengelilingi kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, saat mengikuti tradisi Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, Selasa (4/11/2013) dini hari. Tradisi yang dilangsungkan setiap pergantian tahun baru hijriah ini dilakukan sebagai sarana perenungan dan instropeksi warga atas berbagai hal yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Warga berjalan kaki dalam keheningan mengelilingi kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, saat mengikuti tradisi Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, Selasa (4/11/2013) dini hari. Tradisi yang dilangsungkan setiap pergantian tahun baru hijriah ini dilakukan sebagai sarana perenungan dan instropeksi warga atas berbagai hal yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X