Mengenal 5 Tradisi Masyarakat Saat Peringatan 1 Suro

Kompas.com - 21/08/2020, 13:19 WIB
Sejumlah warga mengikuti tradisi malam satu Suro di kompleks sendang Sidhukun Desa Traji, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2020). Tradisi menyambut satu Suro yang biasanya dihadiri ribuan orang, kali ini hanya dihadiri puluhan warga tertentu dan pemangku adat karena pandemi Covid-19 dan disiarkan secara virtual. ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDINSejumlah warga mengikuti tradisi malam satu Suro di kompleks sendang Sidhukun Desa Traji, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2020). Tradisi menyambut satu Suro yang biasanya dihadiri ribuan orang, kali ini hanya dihadiri puluhan warga tertentu dan pemangku adat karena pandemi Covid-19 dan disiarkan secara virtual.

KOMPAS.com - Tahun Baru Islam 1 Muharam 1442 H yang jatuh pada Kamis (20/8/2020) kemarin disambut dengan berbagai cara oleh masyarakat Indonesia.

Akulturasi dengan budaya daerah, menghasilkan tradisi unik di sejumlah daerah pada saat peringatan Tahun Baru Islam.

Mengutip Harian Kompas, 20 Juli 1990, masyarakat Jawa tradisional di sekitaran Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, juga mengenal pergatian tahun ini dengan nama 1 Suro.

Mereka memaknai dengan penghayatan, prihatin, religius, dan penuh meditasi.

Untuk menyambut pergantian tahun ini, masyarakat biasanya mempersiapkan dengan matang, baik secara perseorangan atau kelompok.

Puasa mutih, mandi di tengah malam, meditasi, ziarah ke makam atau ke gunung, berjalan kaki sepanjang malam, hingga mengelilingi tembok keraton merupakan hal yang biasa dilakukan.

Berikut lima di antaranya tradisi masyarakat Jawa saat malam 1 Suro:

1. Jamasan Pusaka

Sejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat.KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIR Sejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat.

Tradisi jamasan pusaka menjadi salah satu kegiatan yang identik dilakukan pada bulan Suro.

Tradisi tersebut hadir di banyak tempat di pulau Jawa, baik di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan juga Yogyakarta.

Seperti diberitakan Kompas.com, 1 September 2019, maksud dan tujuan jamasan pusaka yakni untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan ketentraman.

Upacara jamasan pusaka umumnya dilakukan secara bertahap. Pusaka yang dijamasi biasanya berbentuk keris, tombak, dan benda-benda pusaka lainnya.

Adapun, tahapan-tahapan yang dilalui dalam upacara tersebut dimulai dengan pengambilan pusaka dari tempat penyimpanannya, tirakatan (semedi), arak-arakan, dan tahap jamasan atau pemandiam.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X