Saat Ledakan Beirut Memicu Eksodus Baru dari Lebanon...

Kompas.com - 20/08/2020, 19:35 WIB
A photo rests among broken glass on the floor of the Sursock Palace, heavily damaged after the explosion in the seaport of Beirut, Lebanon, Friday, Aug. 7, 2020. The Sursock palace, built in 1860 in the heart of historical Beirut on top of a hill overlooking the now-obliterated port, is home to beautiful works of arts, Ottoman-era furniture, marble and paintings from Italy ? the result of more than three long-lasting generations of the Sursock family. (AP Photo/Felipe Dana) Felipe DanaA photo rests among broken glass on the floor of the Sursock Palace, heavily damaged after the explosion in the seaport of Beirut, Lebanon, Friday, Aug. 7, 2020. The Sursock palace, built in 1860 in the heart of historical Beirut on top of a hill overlooking the now-obliterated port, is home to beautiful works of arts, Ottoman-era furniture, marble and paintings from Italy ? the result of more than three long-lasting generations of the Sursock family. (AP Photo/Felipe Dana)

Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan warga Lebanon tercatat membeli tiket sekali jalan ke luar negeri demi mencari pekerjaan serta menghindari PHK massal dan pemotongan gaji.

Kanada masih menjadi tujuan favorit bagi warga Lebanon untuk melanjutkan sisa hidupnya.

Sementara itu, Walid (40), yang berprofesi sebagai seorang dokter langsung menelepon mantan istrinya di Paris beberapa menit setelah ledakan.

Dia meminta mantan istrinya untuk membawa kedua anak mereka.

"Dia mencoba menenangkan saya. Saya meminta untuk membawanya. Sebagai seorang ayah, saya harus menempatkan mereka dalam situasi di mana mereka tidak akan trauma, atau mempertaruhkan nyawa mereka," kata Walid.

Baca juga: Lebanon Catatkan Peningkatan Tajam Kasus Corona sejak Ledakan Beirut

Saat ledakan, Walid sedang berada di rumah bersama salah satu dari dua putranya yang berusia 17 tahun.

Nalurinya sebagai seorang yang dibesarkan selama perang saudara 1975-1990 muncul ketika terjadi ledakan dahsyat itu.

Dia menarik putranya dan membawanya ke kamar mandi untuk berlindung dari ledekan, seperti yang dilakukan ayahnya saat Walid masih muda.

"Ketakutan yang saya lihat di wajah (putra saya) itu menembus saya," jelas dia.

Walid yang kuliah di Kanada dan Paris, berencana mengirim anak kembarnya ke Prancis untuk studi mereka.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X