Fenomena Influencer, Mulai dari Iklan hingga Promosi RUU Cipta Kerja

Kompas.com - 16/08/2020, 18:15 WIB
Ilustrasi influencer shutterstockIlustrasi influencer

KOMPAS.com - Polemik mengenai  Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja menyeret sejumlah artis dan influencer.

Mereka mempromosikan RUU tersebut melalui video berdurasi pendek yang diunggah ke akun media sosial dengan tagar #IndonesiaButuhKerja.

Seperti diberitakan Kompas.com, (15/8/2020) figur publik yang mempromosikan tagar tersebut di antaranya Gritte Agatha, Fitri Tropika, Gading Marten, dan Gisela Anastasia.

Kemudian ada pula Ardhito Pramono, Cita Citata, Inul Daratista, Boris Bokir, hingga Gofar Hilman.

Namun, promosi yang dilakukan para artis ini justru menuai kritik dari banyak warganet.

Mereka menilai, para figur publik tidak memahami perasaan para pekerja yang sedang berjuang agar RUU Cipta Kerja tidak disahkan.

RUU Cipta Kerja ditolak pengesahannya oleh kebanyakan pekerja dan organisasi buruh karena dianggap merugikan dan menghilangkan hak-hak pekerja.

Menanggapi kritik yang diarahkan pada influencer oleh warganet, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Fajar Junaedi, mengatakan, influencer bukan sekadar jumlah pengikut, namun juga reputasi.

Reputasi ini bisa berasal dari kepakaran di suatu bidang.

"Nah, influencer yang digandeng dalam komunikasi publik tentang RUU Omnibus Law adalah bukan pakar di bidang tata kelola kebijakan pemerintah. Mereka influencer di bidang hiburan, jadinya Jaka Sembung alias tidak nyambung," kata Fajar saat dihubungi Kompas.com, Minggu (16/8/2020).

Baca juga: INFOGRAFIK: Mengenal Istilah Omnibus Law

Munculnya fenomena influencer

Fajar menjelaskan, istilah influencer sebenarnya berasal dari marketing di bidang ekonomi, yang kemudian diadopsi sebagai teknik komunikasi politik.

"Di saat media sosial belum berkembang, periklanan dianggap dan diakui sebagai teknik marketing yang paling efektif. Saat itu influencer belum menjadi fenomena umum," kata Fajar.

Dia menuturkan, pada saat itu tokoh-tokoh terkenal yang memiliki pengaruh belum punya media sendiri. Mereka masih dimanfaatkan sebagai bintang iklan untuk memengaruhi publik agar mengonsumsi produk atau jasa tertentu.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X