Disebut WHO Menjanjikan, Bagaimana Perkembangan Terkini Program ACT-Accelerator Covid-19?

Kompas.com - 14/08/2020, 20:29 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU) di markas WHO, Jenewa, Swiss, pada 3 Juli 2020. POOL/FABRICE COFFRINI via REUTERSDirektur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU) di markas WHO, Jenewa, Swiss, pada 3 Juli 2020.

KOMPAS.com - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan program akselerator akses peralatan Covid-19 (ACT-Accelerator) yang diluncurkan April lalu telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.

ACT-Accelerator merupakan inisiatif global yang berjalan bersama untuk menyatukan seluruh riset dan pengembangan, manufaktur, regulasi, pembelian dan pengadaan alat-alat yang diperlukan untuk mengakhiri pandemi virus corona.

Menurut Tedros, kolaborasi global melalui program ACT-Accelerator ini akan menghabiskan biaya yang jauh lebih kecil dibandingkan alternatif lain yang menyebabkan kemunduran sektor ekonomi dan membutuhkan stimulus fiskal lanjutan. 

"Kebutuhan pertama dan paling mendesak adalah sebesar 31,3 miliar dolar AS, untuk ACT-Accelerator," kata Tedros dalam keterangannya, Kamis (13/8/2020).

Vaksin

Mengutip keterangan resmi pada laman WHO, Asisten Direktur Jenderal untuk Akses Obat dan Produk Kesehatan, Dr Mariangela Simao mengatakan, kini program tersebut memiliki sekitar 200 kandidat vaksin.

"Mana yang terbaik? Kami belum memiliki kandidat vaksin yang telah menyelesaikan seluruh tahapan uji coba klinis. Jadi, kami belum tahu mana yang terbukti paling aman dan efektif," jelas Mariangela. 

Namun, setidaknya ada 9 vaksin yang tengah menjalani uji coba fase 2 dan fase 3. 

Baca juga: Soal Vaksin Corona Rusia, WHO Akan Lakukan Pra-kualifikasi Vaksin

Sementara, penasihat senior, Dr Bruce Aylward menyebut sejumlah negara mulai menyadari jika tidak ada solusi global, maka bisa terjadi krisis keuangan global.

Terkait dengan vaksin virus corona pertama yang diklaim oleh Rusia, Aylward mengatakan tidak memiliki informasi yang cukup untuk saat ini.

"Kami sedang dalam perbincangan dengan Rusia untuk memperoleh informasi tambahan, memahami status produk, uji coba yang telah dilakukan, dan langkah selanjutnya yang akan dilakukan," jelasnya.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X