Kompas.com - 13/08/2020, 12:47 WIB
Petugas kesehatan berjaga disamping tenda khusus sampel swab lendir tenggorokan dan hidung di halaman RS Pertamina Jaya, Jakarta Timur, Selasa (5/5/2020). RS Pertamina Jaya dikhususkan untuk menangani pasien virus corona dengan gejala berat dan dilengkapi dengan Command Center dimana 65 Rumah Sakit BUMN di seluruh Indonesia terkoneksi. Sedangan Hotel Patra Comfort sebagai Rumah Sakit Darurat Covid-19 disiagakan untuk menampung pasien corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas kesehatan berjaga disamping tenda khusus sampel swab lendir tenggorokan dan hidung di halaman RS Pertamina Jaya, Jakarta Timur, Selasa (5/5/2020). RS Pertamina Jaya dikhususkan untuk menangani pasien virus corona dengan gejala berat dan dilengkapi dengan Command Center dimana 65 Rumah Sakit BUMN di seluruh Indonesia terkoneksi. Sedangan Hotel Patra Comfort sebagai Rumah Sakit Darurat Covid-19 disiagakan untuk menampung pasien corona.

KOMPAS.com - Penambahan kasus-kasus baru infeksi virus corona yang dikonfirmasi positif di Indonesia masih terus bertambah setiap harinya.

Mereka yang positif Covid-19 dari berbagai latar belakang, termasuk pada tenaga dokter dan pekerja medis lainnya.

Dengan penambahan kasus Covid-19 dan terpaparnya tenaga medis, bagaimana situasi saat ini?

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, mengatakan, saat ini yang paling dirasakan oleh tenaga kesehatan adalah kondisi bed rumah sakit yang penuh.

"Tentu menjadi lebih sibuk, lebih berat sekarang untuk tenaga kesehatan yang terkait dengan Covid-19 ini. Masalah sekarang semakin berat, buktinya adalah ruang-ruang rumah sakit penuh, itu satu," kata Zubairi saat dihubungi Kompas.com, Senin (10/8/2020).

Persoalan lainnya, lanjut Zubairi, peningkatan jumlah kasus ini diikuti dengan persentase kasus positif yang juga ikut naik.

Ia menyebutkan, persentase kasus positif di Jakarta naik dari rata-rata 5,6 persen, kini di kisaran 7,4 persen.

Sementara, di Indonesia, secara keseluruhan, persentase kasus positif yang awalnya rata-rata 12,8 persen, pada sepekan terakhir ini menjadi 15,5 persen.

"Artinya, semakin seriusnya masalah Covid-19 tidak hanya dilihat dari peningkatan jumlah kasus yang masih terus terjadi, tapi juga persentase kasus positif yang naik," kata Zubairi.

Baca juga: New Normal, Ini Imbauan IDI untuk Tenaga Medis

Masih jauh dari melandai

Sejumlah petugas tengah memberikan pelayanan kepada warga di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19, Kemayoran, Jakarta.Kogabwilhan I Sejumlah petugas tengah memberikan pelayanan kepada warga di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19, Kemayoran, Jakarta.
Zubairi juga mengatakan, munculnya banyak klaster baru mengingatkan bahwa situasi Covid-19 di Indonesia masih jauh dari melandai.

"Artinya, memang benar bahwa Indonesia masih jauh dari melandai. Kondisi saat ini masih pada fase memburuk, walaupun kalau dibanding banyak negara lain, posisi kita masih nomor 23, masih di bawah Filipina dan banyak negara lain," kata Zubairi.

"Namun dari sisi Indonesia sendiri dua bulan lalu, sebulan lalu, sekarang ini jelas sekali sedang memprihatinkan," lanjut dia.

Berkaca dari kasus Filipina, para dokter di sana sempat menyatakan menyerah dan mengaku kalah dalam perang melawan Covid-19.

Zubairi mengatakan, situasi tersebut juga sudah dialami oleh negara-negara lain sebelumnya.

Dia mencontohkan Italia dan Spanyol, yang pada awal masa pandemi mengalami kewalahan luar biasa akibat membludaknya jumlah pasien positif Covid-19 yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan setempat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.