Update Perkembangan Vaksin di Seluruh Dunia, dari Gunakan Tembakau, Serangga hingga Gorila

Kompas.com - 13/08/2020, 12:31 WIB
Seorang peneliti bekerja di dalam laboratorium di Institut Penelitian Gamaleya selama proses pengetesan dan produksi vaksin virus corona di Moskwa, Rusia, pada 6 Agustus 2020. Rusia mengklaim menjadi negara pertama yang menciptakan vaksin virus corona, dan diberi nama Sputnik V. THE RUSSIAN DIRECT INVESTMENT FUND/Handout via REUTERSSeorang peneliti bekerja di dalam laboratorium di Institut Penelitian Gamaleya selama proses pengetesan dan produksi vaksin virus corona di Moskwa, Rusia, pada 6 Agustus 2020. Rusia mengklaim menjadi negara pertama yang menciptakan vaksin virus corona, dan diberi nama Sputnik V.

 

KOMPAS.com - Para peneliti di seluruh dunia tengah mengembangkan lebih dari 165 vaksin untuk melawan virus corona.

Adapun 31 vaksin saat ini tengah dalam tahap diujicobakan kepada manusia.

Vaksin sendiri, jika dalam kondisi normal, umumnya membutuhkan waktu pengujian selama bertahun-tahun.

Namun vaksin virus corona, saat ini tengah menjadi semacam ajang perlombaan yang tengah dilakukan para ilmuwan untuk menghasilkan vaksin aman dan ekektif tahun depan.

Baca juga: Vaksin Corona dari Oxford Dinilai Aman, Dijanjikan Siap pada September

Berikut pengembangan vaksin berdasarkan tahapannya:

  1. Preklinis: Vaksin belum masuk percobaan manusia. Ilmuwan memberikan vaksin kepada hewan seperti tikus atau monyet guna melihat apakah vaksin menghasilkan respons imun. Saat ini ada lebih dari 135 vaksin yang masih dalam uji preklinis.
  2. Tahap I: Vaksin diuji keamanan dosisnya. Para ilmuwan memberikan vaksin kepada sejumlah kecil orang untuk menguji keamanan dan dosis, serta untuk memastikan bahwa vaksin merangsang sistem kekebalan. Saat ini ada sebanyak 20 vaksin masuk uji tahap I
  3. Tahap II: Vaksin yang diperluas uji keamanannya. Dalam tahap ini, para ilmuwan memberikan vaksin kepada ratusan orang yang dibagi menjadi beberapa kelompok seperti anak-anak dan orang tua guna melihat apakah vaksin bekerja pada mereka. Ada sebanyak 11 vaksin yang tengah diujicoba tahap ini.
  4. Tahap III: Vaksin dalam skala besar tengah diuji tes khasiatnya. Dalam tahap ini, ilmuwan memberikan vaksin pada ribuan orang dan menunggu untuk melihat berapa banyak yang terinfeksi dibandingkan sukarelawan yang tengah menerima plasebo. Pada bulan Juni, FDA mengatakan bahwa vaksin virus corona harus melindungi setidaknya 50 persen orang yang divaksinasi agar dianggap efektif. Uji coba tahap 3 ini jumlahnya cukup besar sehingga diharapkan dapat mengungkapkan bukti efek samping yang relatif jarang yang mungkin terlewat dalam penelitian sebelumnya. Saat ini ada sebanyak 8 vaksin yang masuk pengujian tahap III.
  5. Tahap Persetujuan: Vaksin disetujui untuk digunakan dalam penggunaan terbatas. Tahap ini, regulator akan memutuskan apakah vaksin disetujui atau tidak. Selama pandemi, vaksin dapat menerima otorisasi penggunaan darurat sebelum mendapat persetujuan resmi. Nantinya setelah vaksin dilisensikan peneliti akan terus memantau orang yang menerimanya dan memastikannya aman dan efektif. Saat ini ada sebanyak 2 vaksin yang masuk tahap ini.

Fase pengujian vaksin yang lain adalah fase gabungan.

Fase ini adalah cara lain untuk mempercepat pengembangan vaksin dengan cara menggabungkan fase. Beberapa vaksin sekarang diujicoba menggunakan fase 1 atau 2 di mana mereka diuji pertama kali pada ratusan orang.

Baca juga: Segala Hal yang Perlu Diketahui tentang Vaksin Virus Corona

Perjalanan vaksin

Mengutip dari Nytimes (12/8/2020) pengerjaan vaksin dimulai dari penguraian genom SARS-CoV-2 yang dimulai pada Januari.

Uji coba keamanan vaksin sendiri pada manusia dimulai pada Maret, akan tetapi bagaimana perkembangan sampai dengan saat ini masih belum jelas.

Beberapa percobaan vaksin bisa saja gagal, dan mungkin yang lain akan berakhir tanpa kejelasan.

Meskipun tentu saja, beberapa mungkin akan terbukti berhasil menstimulasi sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi yang efektif untuk melawan virus.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Resesi Ekonomi dan Bedanya dengan Depresi Ekonomi

Berikut ini berbagai metode pengembangan vaksin virus corona yang tengah dikembangkan di seluruh dunia.

1. Vaksin Genetik

Metode pengembangan vaksin ini prinsipnya adalah menggunakan satu atau lebih gen dari virus corona sendiri untuk memicu respons tubuh.

Berikut ini beberapa perusahaan yang tengah mengembangkan:

a. Moderna

Moderna mengembangkan vaksin berdasarkan messenger RNA (mRNA) guna menghasilkan protein virus dalam tubuh.

Perusahaan ini bekerja sama dengan National Institutes of Health di mana mereka menemukan vaksin mampu melindungi monyet dari virus corona.

Perusahaan ini melakukan uji coba pada manusia pada Maret.

Setelah uji coba tahap 2, pada 27 Juli mereka masuk uji tahap III.

Nantinya uji coba tahap akhir akan dilaksanakan dengan melibatkan 300.000 orang sehat pada 89 lokasi di wilayah Amerika Serikat.

Baca juga: Saat AS Mulai Distribusikan Remdesivir untuk Pasien Covid-19 di 6 Negara Bagian...

b. BioNTech, Pfizer, Fosun Pharma

Kerja sama tiga perusahaan yakni BioNTech Jerman, Pfizer AS, dan Fosun Pharma China juga tengah mengembangkan vaksin mRNA.

Saat Mei mereka meluncurkan uji coba fase 1/2.

Sukarelawan terbukti menghasilkan antibodi untuk melawan virus dan sel kekebalan sel T.

Beberapa sukarelawan mengalami efek samping gangguan tidur dan nyeri lengan.

Pada 27 Juli uji fase 2/3 dilakukan dengan 30.000 sukarelawan di AS, Argentina, Brazil dan Jerman.

Baca juga: Mengenal Obat Flu Avigan yang Diklaim Efektif Lawan Virus Corona

c. Zydrus

Pembuat vaksin India Zydus Cadila tengah menguji vaksin berbasis DNA pada Juli.

Ini merupakan perusahaan kedua India yang berlomba ikut membuat vaksin.

Perusahaan ini meluncurkan uji coba tahap 2 pada 6 Agustus 2020.

d. Imperial College London

Peneliti dari Imperial College London juga tengah mengembangkan vaksin RNA untuk merangsang sistem kekebalan.

Para peneliti bermitra dengan Morningside Venture dan telah melakukan penguian tahap 1/2

Baca juga: Lebih dari 5 Juta Kasus, Ilmuwan AS Peringatkan untuk Tidak Mengandalkan Vaksin Corona

e. AnGes

Perusahaan bioteknologi Jepang AnGes bermitra dengan Universitas Osaka dan Takara Bio dalam pembuatan vaksin dan telah memulai uji coba tahap I.

f. Arcturus

Perusahaan Arcturus Therapeutics dan Duke-NUS Medical School di Singapura yang berbasis di California juga tengah mengembangkan vaksin mRNA.

Pada Agustus mereka meluncurkan uji coba fase 1/2 di Rumah Sakit Umum Singapura.

Baca juga: Saat Universal Studio Singapura Gunakan Pemindai Wajah untuk Pengunjungnya...

g. Inovio

Inovio merupkan perusahaan Amerika. Ia mengembangkan vaksin berbasis DNA dikirim ke kulit dengan pulsa listrik dari perangkat genggam.

Mereka uji coba fase I pada Juni dan tidak menemukan efek samping serius.

Uji coba fase 2/3 akan dilakukan akhir musim panas.

h. Urevac

Trump sempat membujuk perusahaan ini untuk memindahkan penelitian dari Jerman ke Amerika namun ditolak.

Pada Juni perusahaan ini melakukan uji coba fase I dari vaksin mRNA.

Baca juga: Menilik Potensi Resesi Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19...

i. Genexine

Perusahaan Korea Genexine mulai menguji keamanan vaksi berbasis DNA pada Juni.

Uji coba fase II akan dilakukan pada musim gugur.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X