Djoko Tjandra dan Tantangan yang Belum Selesai

Kompas.com - 05/08/2020, 13:30 WIB
Terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOTerpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia.


PENANGKAPAN Djoko Tjandra menjadi titik balik bagi Polri. Ulah buron kasus pengalihan hutang (cessie) Bank Bali itu sempat membuat Polri kehilangan muka.

Ketika masyarakat geger betapa mudahnya aparat pemerintah diperdaya oleh Djoko Tjandra, beredar foto surat jalan bagi buronan tersebut yang diterbitkan Polri dan ditandatangani seorang jenderal polisi.

Surat lainnya juga dikeluarkan Polri yang ditujukan kepada Ditjen Imigrasi. Isinya pemberitahuan terhapusnya red notice Djoko Tjandra dari sistem Interpol. Alih-alih menangkap, Polri malah memfasilitasi perjalanan buron Djoko Tjandra.

Kapolri Idham Aziz dibuat jengkel. Kerja kerasnya untuk mengerek kepercayaan masyarakat kepada institusi yang dipimpinnya jadi sia-sia. Kepercayaan masyarakat kepada Polri terjun bebas. Tak hanya itu, spekulasi tak sedap berkembang; Djoko Tjandra dilindungi para jenderal dan menjadi permainan faksi tertentu di Trunojoyo.

Gerak cepat dilakukan Kapolri untuk menyelamatkan muka Korps Bhayangkara. Penyelidikan internal dilakukan. Hasilnya, pemecatan tiga jenderal.

Salah satu jenderal, yakni Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri yang menandatangani surat jalan Djoko Tjandra, Brigjen Prasetyo Utomo, dijerat pasal pidana berlapis dan dijadikan tersangka. Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Purnomo menyebut Brigjen Prasetyo bermain sendiri.

Petugas kepolisian membawa buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra (kedua kiri) yang ditangkap di Malaysia setibanya di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (30/7/2020). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.ANTARA FOTONOVA WAHYUDI Petugas kepolisian membawa buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra (kedua kiri) yang ditangkap di Malaysia setibanya di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (30/7/2020). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

Penangkapan Djoko Tjandra juga dilakukan senyap dan cepat. Djoko Tjandra tertangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis (30/7/2020) lalu. Listyo mengatakan ini merupakan jawaban kepada publik yang meragukan Polri mampu menangkap Djoko Tjandra.

Keraguan publik merupakan buah spekulasi yang keburu berkembang, bahwa pelarian Djoko Tjandra menjadi “permainan” salah satu faksi di tubuh Polri, dan diwarnai persaingan antarfaksi. Selama ini disebut-sebut ada tiga faksi di Polri, atau dikenal dengan istilah geng.

Operasi penangkapan dan aksi bersih-bersih pascaterbongkarnya skandal surat Djoko Tjandra juga tak lepas dari spekulasi yang mengait-ngaitkan dengan sepak terjang persaingan faksi-faksi di Polri.

Usai keberhasilan Bareskrim meringkus Djoko Tjandra, Ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman sontak berkoar mendukung Letjen Listyo menjadi Kapolri mengantikan Jenderal Idham Aziz.

Listyo disebut-sebut berhasil menjawab tantangan. Kasus yang semula didesain untuk menjegalnya jadi Kapolri, justru memberinya kredit untuk mengantarkannya ke kursi nomor satu di kepolisian. Listyo dikenal sebagai salah satu jenderal Geng Solo yang bersinar di Polri.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X