Mengenal Skema Ponzi, Modus Investasi Bodong yang Banyak Makan Korban

Kompas.com - 05/08/2020, 06:03 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

KOMPAS.com - Tawaran investasi dengan imbal hasil yang besar dalam waktu singkat, seringkali membuat orang gelap mata dan akhirnya menyesal. Tidak main-main, kerugian dari manisnya tawaran investasi bodong bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Perencana Keuangan Ahmad Gozali, mengatakan, masyarakat perlu mencurigai setiap penawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. 

Jika ingin aman, dia menyarankan masyarakat untuk berinvestasi hanya di lembaga keuangan resmi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Untuk produk keuangan (perbankan, asuransi, reksadana, obligasi, sukuk, dan lain-lain) hanya bisa dijual oleh perusahaan yang terdaftar OJK sesuai dengan izinnya," kata Gozali saat dihubungi Kompas.com, Selasa (4/8/2020).

Sementara itu, investasi di sektor riil seperti emas dan investasi usaha, tidak diatur OJK. Sehingga, Gozali menyarankan ada baiknya hanya berhubungan dengan pihak yang bisa dipercaya, misalnya saat akan berinvestasi usaha.

Baca juga: Skema Ponzi Dominasi Investasi Bodong di Indonesia

Skema Ponzi

Salah satu penipuan investasi yang marak terjadi dan memakan banyak korban adalah skema Ponzi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengamat Ekonomi A Prasetyantoko menjelaskan, istilah ponzi mengambil nama mafioso Italia yang menetap di AS, yakni Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi atau Charles Ponzi.

Dia menjalankan usaha dengan cara kotor melalui tipu muslihat untuk menumpuk keuntungan.

Pemikir ekonomi beraliran strukturalis, Hyman Minsky, memaparkan secara teoretis perilaku agen ekonomi. Ada tiga karakteristik, yaitu mereka yang tergolong hedge, speculative, dan ponzi.

Mereka digolongkan hedge jika dalam mengelola usaha atau portofolio kekayaannya cenderung hati-hati dan menghindari risiko berlebihan.

Speculative jika cenderung berani dalam mengambil keputusan sehingga kadang berada pada situasi berisiko.

Sebagai ponzi apabila dengan sengaja membiarkan dirinya tidak mampu melunasi kewajibannya. Bahkan, jika seluruh asetnya dijual sekalipun, utang-utangnya tidak akan tertutup.

Meski bersifat kriminal, investasi skema ponzi ini bermain di wilayah elite dalam kesadaran masyarakat. Mereka menjual nama-nama besar sebagai endorser.

Sistem pengelolaannya dibungkus sedemikian rapi dan sepertinya bonafide. Padahal, skema yang dijalankan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Baca juga: First Travel dan Skema Ponzi

Piramida skema Ponzi

Sementara Gozali menjelaskan skema Ponzi adalah skema investasi bertingkat atau sering disebut piramida.

Pada skema ini investor yang lebih awal mendapatkan hasil dari setoran investasi para investor yang masuk belakangan.

Skema ini, biasanya berkedok usaha, tapi uang dari investor tidak murni dijadikan sebagai modal usaha.

Sebaliknya, uang dari investor justru dipakai untuk membayar keuntungan yang dijanjikan pada investor yang telah bergabung sebelumnya.

"Investor yang datang belakangan bagaimana? dia dapat untung juga dari investor berikutnya, dan begitu seterusnya," kata Gozali.

Dia menyebut, ada beberapa ciri-ciri umum skema Ponzi yang bisa dikenali, yaitu:

  • Menjanjikan imbal hasil fixed atau tetap tiap bulan
  • Menjanjikan imbal hasil sangat tinggi (>2 persen per bulan)
  • Usahanya tidak jelas, tidak memiliki skala ekonomi yang jelas berapa modal yang diperlukan.
  • Investor lama diajak untuk menggaet investor baru dan mendapat bonus tambahan lagi dari situ

Pada intinya, Gozali mengatakan bahwa investasi harus masuk akal.

"Kalau minta modal terus tidak jelas maksimal berapa modal yang diterima, itu sudah jelas nggak masuk akal. Kalau kasih hasil luar biasa tinggi, padahal bisnisnya biasa aja, ya nggak masuk akal juga kan," kata Gozali.

Baca juga: Bahaya Investasi Bodong dengan Skema Ponzi

Tips berinvestasi

Selain meminta masyarakat untuk tidak percaya dengan iming-iming investasi bodong, Gozali juga memberikan beberapa saran bagi mereka yang akan mulai berinvestasi di tengah ancaman resesi ekonomi yang saat ini mengintai Indonesia.

Di produk keuangan, Gozali menyebut pada saat seperti ini lebih menarik berinvestasi pada produk yang menghasilkan fixed income, misalnya obligasi, sukuk, dan deposito.

"Untuk saham harus selektif sekali pilih sektor atau emiten yang tetap positif di masa resesi," kata Gozali.

Sementara itu, untuk investasi di sektor riil, Gozali menyarankan ada baiknya dikurangi terlebih dulu atau minimal ditinjau ulang, apakah sektor usahanya terdampak parah atau tidak.

Jika masih ingin berinvestasi di sektor riil, ia menyarankan ada baiknya berinvestasi emas.

"Emas malah makin menarik di saat ekonomi memburuk. Harga emas biasanya naik tinggi saat terjadi krisis ekonomi," kata Gozali.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: 8 Cara Mudah Menabung Setiap Hari


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.