Klaim Obat Covid-19 Hadi Pranoto, dari Disebut Hoaks hingga Pembodohan

Kompas.com - 04/08/2020, 09:40 WIB
Tangkapan layar YouTube Anji bersama Hadi Pranoto ScreenshotTangkapan layar YouTube Anji bersama Hadi Pranoto

KOMPAS.com - Hadi Pranoto, seseorang yang memperkenalkan diri sebagai profesor sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19 baru-baru ini menjadi perbincangan banyak pihak.

Pasalnya dalam wawancaranya bersama musisi Erdian Aji Prihartanto atau yang biasa dikenal dengan Anji dan diunggah di YouTube pada 31 Juli 2020 tersebut, mengklaim telah menemukan obat Covid-19

Dalam video yang belakangan ini sudah dihapus pihak YouTube tersebut, Hadi menyebutkan bahwa obat Covid-19 yang ditemukannya bisa menyembuhkan ribuan pasien Covid-19.

Baca juga: Ramai soal Klaim Obat Covid-19 Hadi Pranoto, Ini Tanggapan Peneliti Mikrobiologi UGM

Bahkan obat Covid-19 tersebut diklaim telah didistribusikan di Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Hadi juga menyebutkan telah memberikan obat herbal Covid-19 tersebut kepada ribuan pasien di Wisma Atlet, dengan lama penyembuhan 2-3 hari.

Setelah video tersebut beredar luas di media sosial, banyak pihak membantah klaim Hadi Pranoto tersebut hingga menjadi polemik.

Berikut pernyataan dari sejumlah pihak menanggapi riuhnya klaim Hadi Pranoto tersebut:

Dikatakan sebuah informasi palsu atau hoaks

Ilustrasi vaksin virus corona, vaksin Covid-19Shutterstock Ilustrasi vaksin virus corona, vaksin Covid-19

Dosen dan peneliti di Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dr Mohamad Saifudin Hakim menyebut bahwa hal tersebut sebagai informasi palsu atau hoaks.

Menurut Saifudin, salah satu hal yang membuat ragu yakni klaim dari Hadi Pranoto bahwa dirinya sudah meneliti virus seperti H5N1, SARS pertama, dan MERS-CoV selama puluhan tahun.

Pasalnya, penelitian terkait virus tidak bisa dilakukan di sembarang tempat.

Baca juga: Mana yang Lebih Mematikan antara Covid-19, MERS, dan SARS? Ini Penjelasannya...

SARS dan MERS, lanjut dia, misalnya, tergolong dalam grup tiga, karena berpotensi menyebabkan penyakit sangat serius pada manusia.

Tak cuma itu, Saifudin pun bertanya-tanya mengenai bagaimana proses memproduksi obat Covid-19 tersebut, apakah sudah dilakukan sesuai dengan Good Manufacturing Practice (GMP).

Oleh karena itu, Saifudin berpesan kepada masyarakat untuk bersikap kritis, terlebih di masa pandemi seperti ini di mana segala informasi terkait virus SARS-CoV-2 ini beredar dengan luas di dunia maya.

Baca juga: Vaksin Corona dari Oxford Dinilai Aman, Dijanjikan Siap pada September

Kehati-hatian, kata Saifudin, juga sangat diperlukan supaya tidak dirugikan oleh informasi yang belum terbukti benar atau valid.

Ia meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya, apalagi kagum terhadap klaim temuan obat Covid-19 dan mengendurkan kewaspadaan mereka terhadap ancaman penyakit ini.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X